Alasan Likuiditas, BEI Ngotot Kurangi Lot Saham

Jumat, 18/10/2013

NERACA

Jakarta- Meskipun sempat mendapat penolakan dari sejumlah investor, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan merealisasikan rencana pengurangan lot saham (lot size) dan fraksi harga saham (tick price) pada kuartal keempat 2013. Dengan melakukan perubahan tersebut diharapkan pasar modal Indonesia akan lebih kompetitif. “Diharapkan mekanisme perdagangan ini bisa capai tujuan yang diharapkan; transaksi perdagangan lebih likuid, efisien, dan juga pendalaman market.” kata Direktur Perdagangan dan pengaturan Anggota Bursa BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Kamis (17/10).

Efisiensi dimaksud, menurut dia, karena dengan diturunkannya lot saham akan terjadi pengecilan rasio antara permintaan dan transaksi. “Lot size dari 500 menjadi 100, dari sisi frekuensi harga dari lima menjadi satu. Sementara perbandingan rasio saat ini satu banding tiga sampai satu banding empat dan membuat perdagangan tidak efisien.” jelasnya.

Dia mengatakan, pengurangan lot saham sendiri dilatar belakangi beberapa hal, antara lain rendahnya likuiditas saham, dan masih besarnya rasio antara order dan trade. Oleh karena itu, pengurangan lot saham juga akan diikuti perubahan fraksi harga saham. “Saat ini diberlakukan lima kelompok harga, dan ke depan dikurangi menjadi tiga kelompok saja dengan fraksi harga yang lebih kecil.” ucapnya.

Seperti diinformasikan sebelumnya, tiga kelompok fraksi harga baru adalah kurang dari Rp 500, Rp 500-5.000, dan lebih dari Rp 5.000. Untuk kelompok kurang dari Rp 500, fraksi harganya Rp1. Sedangkan fraksi harga untuk kelompok Rp 500-5.000 adalah Rp 5. Selanjutnya fraksi harga untuk kelompok lebih dari Rp 5.000 adalah Rp 25.“Ini seperti kelompok harga yang pernah berlaku pada 2000. Pada 2000 fraksi harga masing-masing kelompok harga saham adalah sebesar Rp5, Rp25, dan Rp50. Sedangkan di aturan baru, fraksi harga yang berlaku adalah Rp1, Rp5, dan Rp25.” tuturnya.

Meski demikian, dia menegaskan, pihaknya tidak bermaksud untuk mengikuti mekanisme perdagangan di tahun 2000, hal ini dimaksudkan agar transaksi perdagangan di bursa efek dapat berjalan dengan lebih teratur dan kompetitif dengan bursa-bursa lainnya. Dengan rasio permintaan dan transaksi yang semakin kecil, kata dia, tentunya investor ritel yang tadinya sulit melakukan transaksi akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk bertransaksi dengan skala kecil.

Terkait kesiapannya sendiri, menurut dia, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada 80 anggota bursa (AB) dan telah berjalan dengan lancar. Selain itu juga tengah dilakukan proses penyiapan sistem. Oleh karena itu, pengurangan lot saham dan fraksi harga saham ditargetkan akan dapat dilaksanakan pada 2 Desember 2013.

Sebelumnya, Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI) Sanusi menilai, ketentuan baru terkait pengurangan lot saham dan fraksi harga saham (tick price) ini merugikan investor. Pasalnya, jika ingin mendapat keuntungan, investor harus melakukan transaksi yang lebih intens agar kenaikan bisa terjadi. Keuntungan yang diperoleh dari transaksi dengan rentang fraksi yang lebih besar akan sangat minim. Selain itu, keuntungan akan tergerus oleh komisi (fee) broker.

Bahkan, pihaknya menilai, jika tujuan sebenarnya dilakukan perubahan tersebut untuk meningkatkan transaksi maka hal tersebut tidak akan tercapai. Pasalnya, dari hasil survey yang dilakukan dengan beberapa responden melalui jaringan internet sebagian besar investor menolak adanya perubahan tersebut. Tercatat, Jumlah responden pooling melalui internet tersebut 1550 investor dan hasil pooling 91 % menolak dilakukan perubahan.

MISSI juga menerima hardcopy kuisener yg dibuat BEI dan disebarkan oleh para wakil investor berbagai perusahaan efek. Jumlah investor mencapai sekitar 400 dan merupakan investor yg sangat aktif. Hampir semua investor tersebut menolak dilakukan perubahan terhadap fraksi harga. “Belum pernah kejadian protes yang dilakukan investor dalam jumlah yang sangat banyak seperti sekarang ini.” jelasnya. (lia)