Busmetik, Siasat Mengoptimalkan Margin Usaha

Inovasi Teknologi Budidaya Udang

Jumat, 18/10/2013

NERACA

Pacitan – Dokumen Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) merupakan inovasi teknologi budidaya udang melalui suatu kajian ilmiah yang terukur.

Latar belakang pengembangan Busmetik adalah dikarenakan udang merupakan komoditas unggulan KKP dan rasio pembudidaya udang dengan kelompok pemodal menengah ke bawah masih tinggi, yaitu lebih dari 60%.

Sementara itu masih banyaknya ditemukan kegagalan pembudidaya udang yang menggunakan petak konvensional dengan luasan petakan lebih dari 3.000 meter persegi dan saat ini kualitas lingkungan budidaya semakin berkurang. Karena itu diperlukan pengelolaan yang efektif dan efisien untuk mengoptimalkan margin usaha melalui Busmetik.

Busmetik memiliki keuntungan-keuntungan antara lain biaya terjangkau oleh pembudidaya menengah ke bawah, pengelolaan tambak mudah karena luas petakan kecil, resiko serangan penyakit kecil, dapat dilakukan di berbagai tipe lahan termasuk jenis tanah porous, umur pemeliharaan lebih singkat (ukuran 60 ekor/kg dicapai pada umur kurang dari 100 hari, penggunaan pakan lebih efisien (FCR ± 1,3), dan tidak ada antibiotik.

Tekonologi Busmetik pertama kali dikembangkan oleh Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta, melalui Bagian Administrasi Pendidikan dan Pelatihan Lapangan (BAPPL) STP Serang, Banten. Kampus Serang ini memiliki tugas pokok dan fungsi mendukung visi dan misi STP yaitu mencetak lulusan yang kompeten dan inovatif di bidang kelautan dan perikanan. Yang telah dilakukan dalam mendukung visi dan misi tersebut adalah mengembangkannya menjadi kampus “Be Science” (Blue Ecomomy on Srimp Culture with Integrated Enviromental Concept). Implementasi dari konsep tersebut, salah satunya adalah pengembangan budidaya udang dengan menggunakan teknologi Busmetik.

Teknologi Busmetik telah diimplementasikan sebagai instrumen utama pembelajaran model teaching factory yang merupakan kebijakan satuan pendidikan vokasi kelautan dan perikanan. Dalam pelaksanaan tersebut semua peserta didik dilibatkan dalam seluruh proses kegiatan budidaya. Proses tersebut dimulai dari persiapan, pemeliharaan, panen, dan pasca panen sebagai layaknya unit produksi yang berkesinambungan.

Teaching factory dilakukan salah satunya dalam rangka mendukung Industrialisasi Kelautan dan Perikanan melalui pendidikan. Industrialisasi KP bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan, sekaligus meningkatkan daya saing yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbicara industri berarti juga berbicara mengenai rantai hulu–hilir dari kegiatan perikanan, yang dimulai dari proses penyediaan bahan baku melalui kegiatan penangkapan ikan maupun budidaya ikan, hingga menjadi produk olahan dan dipasarkan. Dalam kaitan ini, masing-masing rantai memiliki kontribusi penting bagi terjaganya nilai ekonomi yang tinggi dari produk perikanan itu sendiri.

Secara Berkenjutan

Di sisi lain, persoalan penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana menjamin bahwa pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang dijalankan akan berlangsung secara berkelanjutan. Di sinilah relevansi pendekatan blue economy dalam pembangunan menjadi sangat penting dan strategis.

Karena itu, kegiatan budidaya udang ini kini disinergikan dengan beberapa kegiatan lain yang bisa diintegrasikan sesuai dengan pendekatan blue economy. Misalnya pemanfaatan limbah budidaya untuk pertumbuhan vegetasi mangrove dan bandeng, bunga mangrove untuk pengembangan lebah madu, daun mangrove untuk konsumsi binatang ruminansia seperti kambing, serta pemanfaatan lahan sekitar mangrove untuk budidaya kepiting, sehingga diharapkan tidak ada lagi limbah yang terbuang tanpa dimanfaatkan.

Model ini diimpementasikan oleh BAPPL STP Serang dan didiseminasikan kepada peserta didik sehingga nantinya tercipta lulusan yang berjiwa wirausaha yang berorientasi kepada produksi dan mempunyai kreativitas untuk menciptakan inovasi baru yang dapat meningkatkan efisiensi sumberdaya yang ada dan tentunya akan meningkatkan margin. Pengembangan budidaya udang yang dikaitkan dengan pendekatan blue economy di kampus BAPPL STP Serang merupakan momentum yang baik untuk mendukung program KKP berupa revitalisasi budidaya udang di Pantura.

Selain melalui pendidikan, peningkatan kapasitas SDM pembudidaya udang dengan teknologi Busmetik juga dilakukan melalui pelatihan dan penyuluhan.