Yang Penting, Pasokan Terpenuhi

Rachmat Hidayat:

Yang Penting Pasokan Terpenuhi

Bagi kalangan industri makanan minuman olahan, tak mempersoalkan apakah bahn bakunya berasal dari lokal atau impor. Sebab, yang penting bagi kalangan industri adalah memenuhi tiga hal, yaitu pasokan dan kualitas terjamin, serta harga yang kompetitif.

Hal itu diungkapkan Ketua Komite Kebijakan Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Rachmat Hidayat kepada Neraca. Berikut kutipannya.

Apa yang menjadi kendala di kalangan industri saat ini, terkait bahan baku?

Kami yang tergabung dalam Gapmmi adalah kalangan industri makanan dan minuman olahan, juga susu, roti, biskuit, nata de coco, sirup, jus. Kesulitan kami adalah jika ingin mendapatkan bahan baku di lokal, ternyata tak selamanya banyak tersedia. Misalnya, untuk susu, tak ada di lokal jadi kita harus impor. Gula kita beli di lokal karena pasokan cukup.

Jadi, beberapa bahan baku sudah dapat dipenuhi dari lokal seperti lidah buaya. Tapi, untuk bahan baku yang tak ada di lokal, ya kami harus ambil dari luar.

Bagaimana dengan buah-buahan kita?

Itu tak semata-mata buah segar, tapi sudah dalam bentuk pure atau konsentrat, lalu kita beli dan kita olah jadi jus. Untuk mendapatkan suplai lokal itu yang susah, yaitu yang memenuhi tiga hal. Itu yang susah, karena syaratnya kualitasnya harus reliable, suplainya juga reliable, dan harganya kompetitif, itu yang susah.

Katanya banyak sentra kebun-kebun buah di banyak daerah?

Ya nanti akan kita sampaikan ke sekretariat dan kita sebar info ini ke seluruh anggota. Yang penting asal memenuhi tiga hal tadi, kalau memang cocok dan sesuai, klop, ya jadi.

Kalau sayuran lokal bagaimana?

Saya kurang tahu persis, yang membutuhkan sayuran. Mungkin yang bikin mie instan, butuh bawang merah, atau kentang itu dipasok lokal juga. Kayak bawang merah dan kentang itu dipasok lokal juga.

Bagaimana upaya mengurangi ketergantungan impor?

Yang penting mampu memenuhi permintaan industry. Kalau itu bisa terenuhi, ya ok. Kalau bisa di local, mengapa hgarus impor Impor itu resikonya jauh, ada risiko, harus menumpuk stok yang banyak, kalau di sini, nggak perlu nyetok banyak. Yang jadi soal, impor tadi memenuhi tiga hal tadi, nggak harus lebih murah, tapi asal memenuhi tiga hal tadi. Jadi impor itu lebih memenuhi tiga unsur tadi, volume dan kualitas, dan harganya. Jadi belum tentu impor itu lebih murah

Swasemada pangan?

Kalau kami dari kalangan industri sepakat dengan ketahanan pangan dari hulu sampai hilir. Bahwa setiap manusia punya akses pangan yang bergizi, itu adalah ketahanan pangan, itu kita sangat berharap.

Kita sih kalau lihat realistis saja, berat, 2014 tinggal setahun lagi, berat. Bagi kami impor tak impor tak dipertentangkan dalam kehidupan kita. Itu hal yang niscaya. Kita jangan terjebak pada paradigma impor buruk, lokal baik. Kalau kita impor bahan baku yang nggak ada di lokal , ya nggak masalah.

. (saksono)

BERITA TERKAIT

Dishub Sukabumi Siap Pasang Stiker Angkutan Online Yang Berizin

Dishub Sukabumi Siap Pasang Stiker Angkutan Online Yang Berizin  NERACA Sukabumi - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Sukabumi akan memberikan tanda…

Putusan Mahkamah yang Dinilai Aneh

Oleh: Maria Rosari Beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi (MK) memutus tiga perkara permohonan uji materi atas pasal 79 ayat (3)…

Baru Dua Anggota Apindo Yang Siap IPO - Momentum Tepat Gelar IPO

NERACA Jakarta – Melesatnya pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga mencapai rekor baru, dinilai menjadi momentum yang tepat untuk…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Duh, Biro Umroh (Lagi)

Biro Jasa travel umroh kembali tercoreng, setelah kasus kemarin First Travel tidak bisa memberangkatkan kurang kebih 50.000 hingga 60.000 korban.…

Penyelenggara Umroh/Haji Perlu Didaftar Ulang

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Perhimpunan Asosiasi Travel Umrah dan Haji Khusus (PATUH) ikut serta mengawasi biro perjalanan yang…

Wapadai Penipuan Jamaah “Berskema Ponzi”

Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan & Kelembagaan DPP Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Bungsu Sumawijaya menyatakan, kasus…