Kedelai, Gula, dan Daging Masih Defisit

TARGET SWASEMBADA PANGAN DIEVALUASI

Sabtu, 19/10/2013

TARGET SWASEMBADA PANGAN DIEVALUASI

Kedelai, Gula, dan Daging Masih Defisit

Kementerian Pertanian akhirnya mengevaluasi target swasembada 2014 untuk pangan lima komoditas, yaitu gula, daging sapi, kedelai, beras, dan jagung.

--------

Dari hasil kalkulasi, Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengakui, target yang jelas meleset adalah kedelai, gula, dan daging sapi. Sedangkan, untuk beras dan jagung masih memungkinkan memenuhi target 2014. Sebelumnya, Kementerian Pertanian menargetkan swasembada pangan pada 2014, yaitu produksi padi hingga 76,57 juta ton, jagung 20,82 juta ton, kedelai 2,7 juta ton, gula 3,1 juta ton, dan daging sapi 530 ribu ton.

"Tidak menutup kemungkinan ada beberapa komoditas yang swasembadanya tidak tercapai. Kita cari tahu alasannya untuk landasan menyusun roadmap baru," tutur Suswono usai rapat koordinasi pangan di kantor Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian di Jakarta, Rabu (16/10). Khusus beras dan jagung, Mentan optimistis posisinya surplus. Sebaliknya, gula, kedelai dan daging sapi tak menggembirakan.

"Kedelai produksi kita baru sepertiga, dua pertiganya masih impor. Persoalan harga karena kedelai murah petani malas menanam," tuturnya. Soal itu, kata Mentan, bisa diatasi dengan insentif harga jaminan beli oleh Bulog seharga Rp 7.400/kg. Dengan demikian, para petani akan kembali bergairah menanam kedelai.

Kesulitan Lahan

Masalah lahan, juga menjadi kendala bagi terwujudnya swasembada pangan tersebut. Menurut Mentan, untuk kedelai, dibutuhkan lahan baru seluas 500 ribu hektare, untuk gula 350 ribu hektare. Kawasan yang masih memungkinkan dibukanya lahan baru tersebut ada di Kaimanta Barat (kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Timur (Kaltim).

Untuk gula, kata Suswono, Indonesia masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan konsumsi. Kebutuhan konsumsi masih bisa dipenuhi dari dalam negeri, sedangkan untuk industri masih tergantung impor. "Lagi-lagi ini persoalan lahan. Kalau gula saat ini ada kendala di lahan. Perlu tambahan 350.000 hektar. Ada faktor lain, yaitu revitalisasi pabrik gula tidak sesuai yg diharapkan. Pembangunan 20 pabrik gula itu belum terwujud," tuturnya.

Pihak Kementerian Kehutanan telah mencadangkan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas 307.700 hektare di ketiga provinsi itu. "Perlu dilakukan kajian untuk melihat kecocokan lahan karena belum tentu cocok untuk tanaman pangan. Yang potensial di Kalteng itu 70.000 ha untuk padi, kedelai, jagung, dan tebu," kata Suswono.

Khusus daging sapi, kata Suswono mengungkapkan, ada kemungkinan masih mendatangkan sapi betina dari Australia. Target swasembada itu sendiri ini kan tergantung demand apakah meningkatnya tajam atau tidak. Ini sangat relatif. Berdasarkan hitungan perdagangan kebutuhan mencapai 600.000 ton, padahal penghitungan swadembada tahun ini 549.000 ton.

“Ini selisihnya cukup jauh dan nampaknya perlu mengakurkan data ini supaya tidak simpang siur," kata Suswono. Kementerian Pertanian juga tengah mendorong integrasi sawit ternak. Dari 5 juta ha kebun sawit, dapat dimanfaatkan untuk beternak 2 ekor sapi/ha. Jika demikian, akan terdapat 10 juta ekor sapi.

Sedangkan khusus padi, Kepala Bulog Sutarto Alimoeso menjelaskan, pihaknya telah menyerap 3,2 juta ton beras lokal, surplus dari cadangan Pada kesempatan yang sama, Kepala Bulog Sutarto Alimoeso menuturkan pihaknya telah menyerap 3,2 juta ton beras produksi lokal yang merupakan surplus dari target cadangan beras nasional. Hingga akhir tahun ini, dipatok target produksi beras minimal 2 juta ton. "Sekarang masih 2,5 juta ton dan pengadaan dalam negeri masih jalan 3,2 juta ton. Kalau itu dianggap cukup, kita tidak usah impor beras," kata Sutarto, yang juga ikut rapat. (saksono)