Tersandera Pemekaran dan Penurunan DBH

Refleksi 14 Tahun Kabupaten Natuna

Selasa, 22/10/2013

Oleh: Umar Natuna, Pemerhati Sosial, tinggal di Ranai

Tanggal 12 Oktober 2013 kemarin, Kabupaten Natuna genap berusia 14 tahun. Suatu usia yang relatif muda, namun sebenarnya memiliki peluang untuk terus berkembang dan berdiri sejajar dengan daerah pemekaran lain seperti Karimun, Palalawan, Siak, dan lainnya.

Karena Natuna memiliki potensi SDA (sumberdaya alam) dan SDM (Sumberdaya manusia) yang relatif potensial jika dibandingkan daerah lain. Namun dalam usia ke -14, Natuna tidak dapat berbuat banyak. Ia seolah-olah tersandera oleh wacana pemekaran wilayah. Yakni dimana Kabupaten Natuna setelah pemekaran Kabupaten Anambas, kini akan dimekarkan lagi menjadi Natuna Barat dan Natuna Selatan. Tak pelak wacana ini menimbulkan pro dan kontra-yang melibatkan kaum politikus, birokrat dan tokoh masyarakatnya.

Wacana pemekaran ini kemudian melahirkan berbagai implikasi. Pertama, akibat pecahnya konsentrasi, pemikiran, dan pendanaan maka kinerja legislatif (DPRD) dan Pemkab Natuna menjadi tidak fokus. Hal ini disebabkan mereka lebih banyak memfokuskan diri untuk menyukseskan pemekaran. Berbagai kegiatan baik secara terbuka maupun secara diam-diam dilakukan, dan sudah tentu mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Sebab sebagian besar para pemegang kekuasaan sekarang ini adalah mereka yang berasal dari Natuna Barat dan Selatan. Kedua, terjadi friksi baik pada tataran vertikal maupun horizontal-yang berimplikasi saling mendiamkan diri satu sama lain. Sehingga komunikasi dan hubungan silaturahim antara tokoh, kaum politisi, birokrat serta lainnya saling mendiamkan diri-untuk memfokuskan diri pada pendirian masing-masing. Ketiga, berbagai program pembangunan yang terletak di Kabupaten induk tidak mendapat perhatian utama, karenanya banyak kegiatan terutama pembangunan lanjutan dari kegiatan sebelumnya yang tidak diteruskan.

Selain wacana pemekaran yang menyandara pemikiran, energi, dana dan terbelahnya hubungan kekerabatan dan silaturahim, Natuna di usia ke -14 ini juga dihadapkan pada penurunan APBD yang berasal dari penurunan DBH ( Dana Bagi Hasil Migas). Kegagalan Kabupaten Natuna mempertahankan diri sebagai daerah penghasil akibat lemahnya daya juang atau kepemimpinan, akibat semakin agresifnya Pemkab Anambas mengurus pembagian DBH Migas ke pusat membuat Natuna mengalami pesimisme.

Sebagaimana dilansir oleh sejumlah media cetak, termasuk Harian ini, Natuna dihadapkan oleh penurunan DBH Migas, karena Natuna dianggap bukan daerah penghasil, karena posisi Migas yang ada diluar rentang 4 mil dari daratan Natuna. Hal ini juga menyebabkan terjadi gesekan antara Natuna dan Anambas sebagaimana tulisan penulis tentang Pemekaran Provinsi Pulau Tujuh di harian ini.

Isu penurunan DBH Migas yang berujung pada penurunan APBD Kabupaten Natuna di tahun 2013 dan 2014 akan datang-telah membuat kevakuman setidak-tidaknya telah membuat sebagian orang atau kaum birokratnya dihinggapi pesimisme yang berlebihan. Akibatnya, gairah pengabdian mengalami penurunan. Gagasan besar dan berilian tak muncul. Bahkan kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Natuna ke-14 pun tidak ada, kecuali hanya apel pagi bersama. Hal ini menandakan bahwa para pengambil kebijakan telah kehilangan gairah dan semangat untuk menggerakkan roda pemerintahan dan pembangunan. Meraka cenderung memiliih jalan selamat, menjalankan kegiatan rutin yang tidak berimplikasi kepada pembangunan dan pelayanan publik.

Masyarakat pun kemudian menjadi apatis terhadap kegiatan dan pembangunan, karena memang tidak ada koordinasi dan konsolidasi yang intens-yang melibatkan partisipasi masyarakat. Mestinya, kegiatan ulang Tahun Natuna ke -14 dapat dilakukan dengan membuka ruang kepada masyarakat untuk menampilkan berbagai potensi kreatif yang ada di masyarakat. Baik itu potensi seni budaya, olah raga, keberhasilan pendidikan, keagamaan dan capaian pembangunan itu sendiri.

Kegiatan atau ruang publik bagi masyarakat untuk menampilkan potensi kreatifnya di hari Ulang Tahun Kabupaten Natuna menjadi penting dan strategis. Karena dalam momentum inilah masyarakat akan dapat mengekpresikan kemampuan dan keberadaannya. Dan jika hal ini dilakukan, maka masyarakat akan merasa ikut serta membesarkan dan membangun daerahnya. Namun kini hal itu tidak terjadi, kegiatan Ulang Tahun hanya sekedar apel pagi yang menoton, rutin dan terbatas pada pejabat dan pegawai. Ketiadaan kegiatan hari ulang Tahun Kabupaten Natuna yang terencana dan terprogram dengan melibatkan masyarakat akan mengakibatkan berbagai potensi kreatif yang sudah ada selama ini akan punah.

Dulu sebelum Natuna menjadi kabupaten, berbagai potensi kreatif di bidang seni dan budaya serta keagamaan demikian berkembang. Kini mengalami penurunan seperti Kesenian permainan Mendu hanya di Bunguran Barat, sedangkan di Bunguran Timur Mati suri, Permainan Alu juga mengalami kevakuman. Kegiatan tarian-tarian tradisional seperti ayam sudul, beredet, rebana, dllnya tenggelam ditelan gelobang musim utara. Kajian-kajian keagamaan seperti kajian sifat 20 (Usuludin), ibadah (syariah) di rumah-rumah, Surau, Langgar dan Mesjid pun hancur berantakan. Yang agak bergairah adalah permainan gasing. Itu terbatas pada komunitas tertentu saja.

Kegiatan keagamaan yang sebelumnya demikian bergairah ini juga mengalami kemandulan. Berbagai kegiatan hanya bersifat rutin dan monoton. Lembaga/ ormas keagamaan pun mengalami penurunan daya juang dan kreatifitas. Mesjid-mesjid sepi dari kegiatan dan pembinaan umat. Sementara krisis kader dan praktisi agamawan terus menghantui Natuna.

Demikian juga dengan kaum muda. Mereka mengalami kegamangan sosial, orientasi dan visi, karena sebagian besar pengendalinya adalah para politisi yang lebih mementingkan jangka pendek, yakni politik praktis 2014. Berbagai kegiatan dan program pengkaderan dan pembinaan kepemudaan yang mestinya menjadi prioritas seperti program Pemuda Bina Desa, Sarjana masuk Desa atau kegiatan menumbuh kembangkan jiwa wirausaha tidak kedengaran.

Momentum Kebangkitan

Berbagai persoalan yang mengiri ulang tahun Natuna ke-14, seperti wacana pemekaran wilayah dan penurunan APBD mestinya dijadikan momentum untuk bangkit, bukan sebaliknya. Penurunan ABPD hendaknya dijadikan pemicu untuk bangkit dan kreatif untuk melahirkan PAD yang lebih besar. Sebagai daerah otonom, Natuna mestinya tidak tersandera oleh DBH Migas. Ia mestinya, mendesain ulang rencana pembangunan yang bisa melahirkan PAD baru. Pembangunan mestinya difokuskan pada pembangunan SDM, infra struktur potensi perikanan, pembinaan terhadap kelompok tani dan perikanan atau nelayan. Yang akhirnya tumbuh sentra-sentra perekonomian dan industri kreatif di bidang jasa dan kelautan.

Selain itu juga ia mestinya memprogram kegiatan yang dapat menumbuhkan kemandirian masyarakat di bidang ekonomi. Sebelum Natuna menjadi Kabupaten, daerah ini cukup mandiri. Dengan hasil Cengkeh, Kopra dan Karet daerah ini terkenal di berbagai wilayah seperti Semarang, Kuala enok dan Singkawang, bahkan juga sampai luar negeri seperti Singapura, Kucing Malaysia. Kini, hasil cengkeh dan Kopra redup, karena tidak ada pembinaan dan pemasaran yang jelas.Mestinya pemerintah melalui Dinas terkait dan Perusda fokus untuk mengembangkan kemandirian ekonomi masyarakat yang berbasis pengetahuan alami masyarakat. Yang mereka butuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya kepastian pemasaran dan sentuhan teknologi untuk pengembangan produknya.

Dalam konteks menjadikan usia 14 tahun ini menjadi momentum kebangkitan, maka ada beberapa hal yang perlu segera dilakukan. Pertama, membaca ulang atau mensyahadatkan kembali kenapa kita menjadi Kabupaten. Makna bahwa kita menjadi Kabupaten adalah ingin berbagai potensi yang ada dapat berkembang dan melahirkan kesejahteraan. Visi, impian dan idaman ini harus direfleksi kembali agar para pelaku, terutama pihak eksekutif dan legislatif lebih fokus untuk mengembangkan natuna agar lebih maju dan mandiri. Kedua, mengubah mindset kita semua, bahwa kemajuan suatu daerah harus direbut dengan kerja keras, kreatif dan inovatif, bukan bertindak sebagai penikmat semata. Memposissikan diri sebagai penikmat apa yang ada adalah salah satu apa yang disebut dengan kufur nikmat.

Ketiga, membangun sinergi dengan masyarakat. Dalam kaitan ini harus sinergi dan titik temu antara apa yang dilakukan pemerintah dengan apa yang menjadi impian, idaman dan kebutuhan masyarakat. Hal ini agar ada keutuhan, dan modal sosial yang saling isi mengisi satu sama lain, sehingga pembangunan akan terus dapat dilakukan, walaupun ada penurunan ABPD misalnya. Keempat, melakukan revitalisasi semua kekuatan yang ada, terutama SKPD yang ada agar kegiatan dan programnya sejalan dengan kepentingan pembangunan natuna yang sejahtera, mandiri dan berkeadaban.

Dengan revitalisasi ini, maka tentu akan ada kegiatan-kegiatan lintas sektoral yang dapat disatukan atau bahkan dipangkas karena saling terkait. Kelima, pro aktif membangun komunikasi dan terobosan gagasan dengan Provinsi dan Pusat agar kita tidak gagap bila terjadi perubahan kebijakan di Provinsi dan Pusat seperti terjadi dalam kasus DBH Migas.

Itulah untuk menyebut beberapa langkah dan pilihan yang harus dilakukan dalam mengisi lembaran kehidupan di usia ke-14 ini. Tanpa ada upaya dan pilihan yang strategis dan mendasar, maka keterpurukan yang ada akan terus berlanjut. Jika hal itu terjadi, maka cita-cita kita menjadikan Natuna sebagai daerah otonom yang mandiri, sejahtera dan berkeadaban akan sirna. Saya yakin dan percaya kita tetap ingin Natuna maju dan berkembang. Jadikan momentum ini sebagai awal kebangkitan kembali. Amin. (haluankepri.com)