Pemerintah Perlu Terobosan Luar Biasa

Swasembada Lima Bahan Pokok

Kamis, 17/10/2013

NERACA

Jakarta – Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan bahwa Pemerintah perlu membuat terobosan yang luar biasa agar bisa tercapai swasembada lima bahan pokok, yaitu beras, gula, jagung, kedelai dan daging sapi. “Dalam jangka pendek, tidak akan mungkin tercapai. Perlu ada terobosan luar biasa dari Pemerintah,” kata Enny kepada Neraca, Rabu (16/10).

Terobosan itu, lanjut Enny, sebetulnya bukan sesuatu yang betul-betul baru, tetapi lagi-lagi kembali ke persoalan klasik Indonesia seperti infrastruktur.

“Coba lihat salah daging sapi. Sebetulnya kita tidak kekurangan daging sapi. Jumlah yang ada di Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Persoalannya, sulit untuk mendistribusikan sapi antar pulau dan antar provinsi. Ini karena infrastruktur yang buruk, jelas Enny.

Pernyataan Enny tersebut merupakan tanggapan dari niatan Pemerintah untuk mengoptimalkan produksi lima bahan pokok seperti yang disebutkan sebelumnya. "Kita bertekad untuk tidak bergantung kepada impor. Caranya adalah untuk pencapaian swasembada. Mudah-mudahan ke depan tidak ada impor lagi. Kecuali untuk beras yang beberapa masih di impor," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, belum lama ini.

Lahan adalah salah satu yang menjadi perhatian Hatta. Saat ini dibutuhkan dua juta hektar lahan untuk pertanian namun dalam prakteknya, hanya bisa tersedia sekitar 50 ribu hektar. "Jadi lahan itu sebetulnya menyempit. Makanya kita akan lakukan ekstensifikasi di luar Jawa dan intensifikasi di Jawa," ungkap Hatta.

Pada awal Oktober ini, Pemerintah membuat keputusan bahwa bea masuk kedelai diturunkan dari 5% menjadi 0%. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 133/PMK.011/2013 yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan Chatib Basri. Menurut Enny, kebijakan ini malah menjadi anomali terhadap maksud Pemerintah yang ingin berswasembada kedelai. “Itu justru jadi anomali. Bagaimana mau swasembada kalau bea masuk 0%,” tandasnya. [iqbal]