Asuransi Nasional "Tenang Namun Menghanyutkan" - Menghadapi AEC

​NERACA

Jakarta - Dalam menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC) 2015 mendatang, industri asuransi nasional diklaim masih cukup tenang. Ibarat sungai, air di permukaan terlihat tenang namun menghanyutkan karena derasnya arus. Artinya satu sisi, asuransi nasional sudah terbiasa dengan dominasi asuransi asing, tetapi sisi lain, kondisinya mengkhawatirkan lantaran bakal tergerus oleh asing.

"Asuransi kita (dalam negeri) masih tenang-tenang saja untuk menghadapi AEC. Karena harus diakui hampir seluruh industri asuransi di Indonesia milik asing. Entah itu perusahaan asing yang membuka cabang di sini maupun kepemilikan saham sepenuhnya dikuasai asing. Mereka (asing) jelas masuk karena modalnya kuat dan besar," jelas pengamat asuransi Munawar Kasan kepada Neraca, Rabu (16/10).

Menurut dia, industri asuransi dalam negeri, bisa dibilang, sudah tidak kaget lagi dengan kepungan asing tersebut. Hanya saja, lanjut Munawar, ketika AEC datang asuransi asing pasti akan berbondong-bondong masuk ke Indonesia. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar asuransi nasional bisa eksis dalam AEC. Salah satunya, industri asuransi nasional harus memiliki kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang mumpuni.

“Saya rasa untuk kualitas SDM kita belum cukup siap menghadapi AEC. Karena belum tentu setiap cabang itu, misalnya memiliki agen ahli yang standard internasional kualitasnya. Walaupun itu jumlahnya hanya ketentuan minimal,” jelas dia. Selain itu, dari sisi permodalan juga harus dipenuhi dan ditingkatkan. Pasalnya, banyak asuransi dalam negeri yang tidak bisa jika bersaing dengan asuransi asing yang notabene modalnya banyak.

"Kalau Indonesia, ya, segitu-segitu saja. Nantinya tidak bisa bersaing,” tambahnya. Dalam sisi teknologi informasi, Munawar menilai juga harus ditingkatkan, agar Indonesia bisa memiliki daya saing yang baik. Sebelumnya, Chairman ASEAN Insurance Council (AIC) Kornelius Simanjuntak mengungkapkan dari perjalanan krisis finansial yang pernah dialami negara di dunia, insustri asuransi nasional bisa melalui masa tersebut dengan baik.

Oleh karena itu, dalam beberapa waktu ke depan, Kornelius meyakini jika perusahaan nasional bisa bekerja ekstra dan hati-hati, maka peluang tersebut bisa didapatkan semaksimal mungkin. Dia juga menilai, AEC akan membawa banyak perubahan bagi industri asuransi, baik aspek regulasi maupun pasar. Di sini, AIC ingin membangun kesadaran dan pemahaman pelaku industri bahwa akan terjadi perubahan sebagai akibat di mulainya AEC pada tahun 2015, sehingga para pelaku bisnis asuransi Asean akan mendapatkan manfaat dan dapat terus tumbuh sesuai dengan perubahan.

Dia juga menambahkan, AEC harus menjadi sebuah peluang bisnis yang besar bagi pelaku industri asuransi untuk memperkuat pasar. Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani menegaskan, pihaknya sudah menyiapkan regulasi untuk melindungi perusahaan asuransi nasional di tengah gempuran asing. "Masyarakat ekonomi Asean bukan berarti tidak ada regulasi. Negara dan OJK juga harus lindungi masyarakat kita. Seperti halnya Malaysia dan Singapura," tandasnya. [sylke]

BERITA TERKAIT

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil NERACA Jakarta - Pasar properti nasional pada tahun 2019 mendatang diprediksi bakal…

Perkuat Bisnis Unit Link - Tahun Depan, Asuransi Bintang Bidik Premi Tumbuh 25%

NERACA Jakarta – Memanfaatkan penetrasi asuransi yang masih rendah di Indonesia, PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) menaruh asa di tahun…

Adira Insurance Hadirkan Asuransi Perjalanan

      NERACA   Jakarta – PT Adira Insurance menyiapkan produk asuransi perjalanan yaitu Travellin. Digital Business Division Head…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Industri Properti Perlu Waspadai Suku Bunga dan Likuiditas

      NERACA   Jakarta – Industri properti dihimbau untuk mengantisipasi terhadap dua tantangan penting yaitu ketidakpastian ekonomi global…

Bank Muamalat Kerjasama Remitansi dengan Al Rajhi Bank Malaysia

      NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Al Rajhi Bank Malaysia menandatangani perjanjian kerjasama…

Masalah Fintech, LBH dan OJK Masih Deadlock

      NERACA   Jakarta - Pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta belum…