Pengusaha Ingin Ekspor Rotan RI Kalahkan China dan Vietnam

Kamis, 17/10/2013

NERACA

Jakarta – Ditengah kondisi ekonomi global yang belum pulih dari krisis, akan tetapi ekspor hasil produk-produk olahan kayu furnitur asal Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor rotan sampai dengan April 2013 telah mencapai US$637 juta dan selalu mengalami pertumbuhan. Namun demikian, porsi eskpor rotan Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Vietnam dan China.

Ketua Asosiasi Mebel Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Sunoto mengatakan bahwa ekspor hasil produk olahan kayu furnitur Indonesia setiap tahunnya mencapai US$1,7 miliar. Sementara China telah mencapai US$25 miliar dan Vietnam sebesar US$4 miliar. Sedangkan total ekspor rotan dunia ditaksir mencapai US$112 miliar. “Kita jangan mau kalah dengan Vietnam dan China,” ungkap Sunoto usai menghadari Pembukaan Trade Expo Indonesia 2013 di Jakarta, Rabu (16/10).

Ia mengatakan Indonesia perlu menggenjot nilai ekspor furnitur sebesar 25% per tahun untuk mengejar ketertinggalan dari dua negara tadi. Kesempatan untuk menggenjot pasar ekspor furnitur masih terbuka, misalnya saat kunjungannya ke Shanghai, China kemarin, produk furnitur asal Indonesia sangat laku dipasarkan.

Pihaknya juga meminta pemerintah tidak saja memberikan kemudahan memberikan bantuan permodalan tetapi segi regulasi dan faktor pendukung lainnya. Sehingga ekspor produk furnitur dapat dimaksimalkan dan berdaya saing. “Kita sebagai pengusaha itu perlu penetrasi pasar, pameran, teknologi tepat guna, infrastruktur dan regulasi jadi tidak hanya sekedar uang/modal. Produk furnitur kita ini sangat terkenal di seluruh dunia,” katanya.

Sebelumnya, Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wachyu mengatakan, kontribusi Indonesia terhadap pasar furnitur dunia masih 2%. Namun dengan kekuatan bahan baku yang dimiliki, Indonesai memiliki peluang untuk meningkatkan kontribusinya. “Menurut data CSIL data perdagangan furnitur dunia 2012 mencapai USD122 miliar. kontribusi Indonesia terhadap pasar furniture dunia hanya dua persen, dengan kekuatan bahan baku yang ada Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan kontribusinya,” kata Benny.

Dia menambahkan dilihat dari segi bahan baku, ekspor furnitur Indonesia masih disominasi bahan baku kayu seperti rotan dan bambu. Sementara untuk negara tujuan utama adalah Amerika Serikat, Prancis, Jepang, Inggris,dan Belanda. Dia mengatakan, data ekspor furniture Indonesia cukup fluktuatif. Pada 2009 nilai ekspor furnitur mencapai US$1,37 miliar, 2012 sebesar US$1,61 miliar, 2011 US$1,38 miliar dan 2012 mencapai US$1,4 miliar.

Menurutnya, industri Furnitur dan kerajinan sudah lama diakui sebagai industri yang banyak menyerap tenaga kerja dan tidak dapat dipungkiri sebagai penghasil devisa negara. Hal itu mengingat sumber bahan baku alami yang dimiliki Indonesia juga cukup besar. “Kekayaan bahan baku yang dimiliki Indonesai menjadi modal utama berkembangnya industri hilir. Program pemerintah difokuskan untuk tidak mengekspor bahan kayu alami namun dikembangkan menjadi industri hilir di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah,” timpalnya.

Impor Meningkat

Ditengah pelaku usaha furnitur menginginkan peningkatan ekspor, namun keadaan didalam negeri justru berbeda. Menurut Ketua Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahjono menuturkan, tingginya nilai impor mebel antara lain dipicu oleh pertumbuhan konsumen kelas menengah. Akibatnya, “Secara volume impor mebel terus naik,” tutur dia.

Ia mengatakan pertumbuhan kelas menengah baru membuat bisnis pariwisata meningkat dan mendorong pembukaan bisnis hotel yang berongkos murah alias hotel budget. Ambar bilang banyak pengelola hotel budget yang menggunakan mebel impor yang berharga miring. Maklum saja, produk mebel impor yang semula hanya masuk ke pasar premium kini mulai merambah pasar kelas menengah. “Mayoritas mebel yang digunakan jenisnya particle board yang terbilang murah,” tutur Ambar.

Akibat tingginya impor mebel, Ambar memprediksi, produk mebel impor bakal menguasai 25% dari total pasar mebel nasional di tahun ini. Dalam hitungan Ambar, tahun ini pasar mebel nasional mencapai Rp 9 triliun. Artinya, produk mebel impor bisa meraup omzet sekitar Rp 2,25 triliun pada 2013.

Dari sisi volume, Ambar bilang impor mebel tahun ini bisa tumbuh sekitar 30% dari tahun lalu. Angka ini jauh lebih besar ketimbang proyeksi volume penjualan mebel domestik 2013 yang sekitar 15%. Ambar bilang produsen mebel lokal sulit bersaing dengan mebel impor karena biaya produksi yang semakin tinggi akibat kenaikan upah buruh dan harga energi. Ia bilang, pada semester I 2013 pengusaha mebel lokal harus menanggung kenaikan biaya produksi hingga 7%.