Paramount Bangun 613 Unit Rumah

Permintaan Rumah Tinggi

Kamis, 17/10/2013

NERACA

Tangerang – Paramount Group sebagai salah satu pengembang di Gading Serpong, Tangerang, menjual 613 unit rumah baru. Awalnya, Paramount hanya ingin membangun satu village, bernama Riviera, dengan jumlah rumah sebanyak 98 unit. Namun, ternyata minat dari masyarakat begitu besar.

“Minat masyarakat sangat besar, bahkan di pernyataan minat mencapai 1.000 unit. Padahal kami hanya menawarkan 98 unit. Melihat animo besar itu, tiga hari kemudian kami langsung tawarkan kepada masyarakat tiga village tambahan, yaitu Monaco Village, Bohemia Village, dan Milano Village. Jadi total rumah dari empat village itu adalah 613 unit rumah,” kata Direktur Paramount Group Ervan Adi Nugroho di Jakarta, Rabu (16/10).

Ratusan rumah tersebut mempunyai luas bangunan 65 meter persegi, dengan luas tanah bervariasi dari 72 meter persegi sampai sekitar 100 meter persegi. Harga rumah per unitnya juga bervariasi dengan rentang antara Rp900 juta sampai Rp1,2 miliar. Seluruh bangunan rumah dibuat tingkat dua dengan jumlah kamar 3 buah.

Ervan menjelaskan, langkah pembangunan dua lantai itu diambil karena harga tanah di daerah tersebut sudah melampaui harga bangunan, sehingga akan lebih efisien jika dibangun bertingkat, agar harga jualnya bisa ditekan.

“Harga tanah di sini sudah sekitar Rp8,5 juta sampai Rp9 juta per meter. Lebih tinggi dari harga bangunan. Jadi lebih efisien dibuat tingkat,” kata Erfan.

Erfan juga menjelaskan bahwa investasi yang dikeluarkan oleh Paramount Land untuk pembangunan infrastruktur dan rumah di keempat village ini adalah sebesar Rp300 miliar. Nilai tersebut belum termasuk nilai tanah.

Infrastruktur listrik yang digunakan di keempat village ini bersifat under ground. Seluruh jaringan listrik ada di bawah tanah, sehingga tidak tampak tiang listrik di atas permukaan tanah.

“Mungkin yang membuat masyarakat tertarik membeli rumah di Gading Serpong ini adalah karena orang bisa tinggal di sini dengan mudah. Fasilitasnya lengkap, ada pasar tradisional, mal, tempat jual makanan minuman, ritel, hipermarket, sarana pendidikan dari play group sampai universitas. Apalagi akses di sini baik, terhubung dengan pengembang-pengembang sekitar dan akan direncanakan ada pintu tol yang dapat mengakses Gading Serpong dengan lebih cepat,” jelas Erfan.

Tak terpengaruh aturan LTV

Meskipun harga sudah melambung, tetapi permantaan tetap saja kencang. Padahal belum lama ini, Bank Indonesia (BI) membuat aturan baru mengenai besaran pinjaman atau loan to value (LTV) yang memperkecil pinjaman bagi konsumen rumah kedua dan ketiga.

Dalam aturan BI tersebut, untuk KPR dengan tipe 70 ke atas diberi bobot LTV lebih rendah. Hal tersebut dikarenakan tipe tersebut lebih berpotensi menjadi sarana investasi dan spekulasi. Untuk pembelian rumah kedua, LTV maksimal sebesar 60%. Sementara, untuk pembelian rumah ketiga dan seterusnya, LTV maksimal 50%.

“Pembeli keempat village tersebut sebagian end user, sebagian lagi investor. Fifty-fifty. Kebanyakan end user berasal dari Tangeran dan Jakarta Barat. Mereka adalah pebisnis yang kantornya di mana-mana, tidak terpusat di satu wilayah saja,” kata Erfan.

Untuk diketahui, wilayah Gading Serpong dikembangkan oleh dua pengembang, yaitu Summarecon Agung dan Paramount Land. Kedua pengembang ini sudah membangun 1.000 hektar di wilayah Gading Serpong. Masih ada 400 hektar lagi yang ada dalam wilayah ini dan belum dikembangkan. [iqbal]