Pasar Mobil Premium Tetap Stabil

Sabtu, 19/10/2013

Kebijakan pemerintah yang akan menaikkan pajak penjualan barang mewah (PPnBM), depresiasi rupiah, dan perlambatan ekonomi tak meredam pertumbuhan pasar mobil premium di Indonesia. Walaupun terbatas, segmen pasar mobil premium diprediksi akan terus bertumbuh dengan adanya konsumen yang setia dan memuja kualitas, kenyamanan, keamanan, dan gengsi.

NERACA

Direktur Jenderal Industri Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi memprediksi pasar mobil premium tidak akan terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro serta kebijakan pemerintah mengenai PPnBM. “Pasar mobil premium itu kurang dari 1%, paling hanya 8.000 unit, tapi pertumbuhan pertahun bisa mencapai 15-20%. Segmen ini masi prospektif,” tuturnya.

Sedangkan Head of Corporate Communication BMW Group Indonesia Jodie O'Tania mengatakan, kondisi makro-ekonomi dan kebijakan kenaikan PPnBM pasti memberikan pengaruh. Tapi hal ini tidak akan menghambat pertumbuhan penjualan BMW di Indonesia.

“Itu akan mempengaruhi beberapa produk saja. Kita berharap pengaruhnya tidak signifikan. Bagi konsumen pasar premium, harga bukan satu-satunya faktor,” ucapnya di pameran Indonesia International Motor Show di Kemayoran, belum lama ini.

BMW Indonesia, kata dia, tetap menargetkan pertumbuhan dua digit pada tahun ini, naik dibanding pada tahun lalu. Pada Januari-Agustus lalu, BMW Indonesia menjual 1.513 unit, naik 10% dibanding periode yang sama pada 2012 sebanyak 1.376 unit. Sedangkan pada tahun lalu sebanyak 2.188 unit BMW terjual. Angka ini naik 14 persen dibanding perolehan 2011, di mana penjualan mencapai 1.551 unit.

Pertumbuhan penjualan BMW di Indonesia memang terus meningkat, pada 2009, penjualan naik 25% dibanding pada 2008, dari 720 menjadi 901. Pada 2010, penjualan naik 37% menjadi 1.240 unit dan pada 2011, penjualan naik 25% menjadi 1.551 unit. BMW 3 Series, X3, dan X1 merupakan produk paling laris di Indonesia.

Adapun Market and Public Relations Audi Indonesia, Herry Noverino, mengatakan pihaknya akan menaikkan harga dengan adanya pelemahan nilai tukar rupiah, perlambatan ekonomi, dan kenaikan PPnBM. Tapi Audi belum memastikan berapa besaran kenaikan harga. “Harga mau tidak mau harus naik. Kami semua kan masih impor, kecuali A4 dan A6,” kata dia.

Tapi, walaupun harga naik, Herry memastikan hal ini tidak akan menurunkan penjualan Audi. Menurut dia, principal justru melihat Indonesia semakin prospektif dengan banyaknya populasi dan memang ada konsumen yang disasar Audi. Pasar Indonesia dinilai makin meningkat akibat makin banyaknya jumlah populasi, pertumbuhan ekonomi yang masih tumbuh. Brand kami mulai dilihat sebagai brand alternatif.

Audi menargetkan penjualan tahun ini mencapai 500 unit, naik sebesar 15-20 persen dibanding penjualan tahun lalu. Produk paling laris di Indonesia adalah Audi A4 dan A6, yang memberikan kontribusi 40 persen pada total penjualan. Selain itu, produk Audi di kelas SUV cukup menarik minat konsumen Indonesia.

Optimisme penjualan juga diungkapkan Public Relation Manager Volkswagen, Rully Johan. Kondisi perekonomian tidak akan membuat penjualan VW turun pada tahun depan. Dia memastikan bakal ada kenaikan harga. “Ini pasti akan memberikan efek, harga bisa jadi lebih tinggi. Tapi kami belum tahu berapa kenaikan harga yang ditetapkan,” ujarnya.

Tahun ini, VW menargetkan penjualan 3.000 unit, naik daripada penjualan tahun lalu, yang mencapai 1.000 unit. Produk VW yang terlaris di pasar Indonesia adalah Tiguan dan Golf. Rully mengatakan VW optimistis penjualan akan meningkat karena penjualan VW di pasar hatchback terus meningkat. Keunggulan VW di pasar hatchback, kata dia, karena VW menyediakan mobil hatchback di kelas menengah ke atas dan premium.

Sementara itu, pabrikan mobil premium asal Jerman, Mercedes-Benz, menyatakan belum akan menaikkan harga jual. Pelemahan nilai tukar rupiah diharapkan tidak akan berlangsung lama dan tidak akan memberatkan industri secara keseluruhan.

“Kami masih tetap mempertahankan harga jual mobil Mercedes-Benz. Harapan kami, kondisi akan membaik, sehingga tidak mengharuskan kami mengkaji harga jual,” tutur Presiden dan CEO Mercedes-Benz Indonesia, Dr. Claus Weidner.

Mercedes-Benz, kata dia, tetap optimistis bahwa pasar mobil premium masih terus menjanjikan. Weidner mengatakan, sejak hadir di Indonesia pada 1970, Mercedes-Benz selalu memimpin pasar otomotif di pasar premium. Mercedes-Benz pun telah memperkenalkan lebih dari 10 model kendaraan baru tahun ini.