Awas, Debt Default AS

Rabu, 16/10/2013

Oleh : Dzulfian Syafrian

Ekonom INDEF

Pada 1 Oktober 2013, Pemerintah AS terpaksa menutup kantor-kantor pemerintahannya sementara (shutdown) karena keterbatasan anggaran yang tersedia. Pemerintah AS dan kongres gagal menemui kata sepakat terkait batas utang Pemerintah AS yang dapat dipinjam (Debt Ceiling).

Permasalahan ini seperti benang kusut karena kental pertarungan politik antara kubu Obama (Demokrat) dengan Kongres yang dikuasai oleh kubu oposisi (Republik). Kubu Obama berpendapat bahwa jika batas utang tidak dinaikkan maka akan menyebabkan penundaan pembayaran gaji para pegawai pemerintah AS. Yang lebih mengerikan lagi, Obama juga khawatir AS akan gagal bayar utang (debt default) jika kongres tidak menyetujui anggaran yang diajukan oleh Pemerintah.

Di sisi lain, kongres tidak akan menyetujui kenaikan debt ceiling sebelum Pemerintah AS mengurangi pengeluarannya. Kongres berpendapat bahwa debt ceiling tidak akan dinaikkan kecuali jika belanja pemerintah dipotong sejumlah atau lebih besar dari kenaikan debt ceiling itu sendiri. Selain itu, Partai Oposisi juga berpendapat bahwa Pemerintah dapat mencegah terjadi debt default dengan memprioritaskan pembayaran utang pemerintah di atas tanggungan-tanggungan lainnya, seperti jaminan sosial, pembayaran kesehatan, anggaran militer.

Jika pemerintah dan oposisi tidak menemui kata sepakat untuk menyelesaikan masalah debt ceiling sebelum 17 Oktober 2013, perekonomian dunia akan kembali terluka cukup parah dan tidak menutup kemungkinan kembali terjadi resesi. Hal ini dikarenakan treasury bonds dan dollar AS adalah fondasi dari sistem keuangan dunia.

Ketika terjadi debt ceiling pada 2011, pasar langsung merespon negatif. Indeks Standard and Poor’s 500 (S&P 500) anjlok sekitar 20%. Debt ceiling pada 2011 mengakibatkan rating utang AS diturunkan untuk pertama kalinya dalam sejarah oleh S&P 500.

Hal yang serupa juga terjadi pada awal Oktober 2013. Ketika Obama mengumumkan Pemerintah AS akan shutdown, pasar saham di bursa AS langsung bereaksi negatif. Transaksi per 7 Oktober 2013 menunjukan bahwa indeks S&P 500 turun 0,9% menjadi 1.676,12, titik terendah dalam sebulan terakhir. Indeks Dow Jones juga mengalami penurunan 0,9% menjadi 14.936,24. Tren negatif ini terus berlanjut hingga 2-3 hari berikutnya dan mulai membaik sejak 10 Oktober 2013 lantaran mulai ada titik cerah di antara kedua kubu.

Permasalahan shutdown dan debt ceiling AS memang murni permasalahan internal AS. Namun, sebagai Negara adidaya, khususnya di bidang ekonomi, apa yang terjadi di perekonomian AS akan berdampak terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Kita masih ingat bahwa ketika krisis Subprime Mortgage terjadi maka seluruh pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia pun ikut melambat. Ketika itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok dari kisaran 6% menjadi 4%. Wajar jika Bos IMF dan pemerintah China protes keras kepada AS terkait kisruh ini.

Ada beberapa hal penting yang harus diwaspadai Indonesia jika AS mengalami debt default. Pertama, dalam jangka menengah dan panjang jika perekonomian AS tidak kunjung pulih maka ekspor kita akan menurun karena AS adalah negara tujuan ekspor ketiga terbesar setelah Cina dan Jepang. Kedua, otoritas harus bisa meredam gejolak di pasar modal. Langkah taktis bagaimana menekan kekhawatiran para investor adalah pekerjaan rumah para otoritas agar tidak terjadi penarikan dana secara masif kelak.

Ketiga, segera benahi berbagai permasalahan domestik. Salah satu penyelamat Indonesia dari krisis finansial global 2008-2009 adalah pasar domestik yang begitu besar dan kuat. Di tengah perekonomian dunia yang tengah limbung, perkuat pasar domestik adalah langkah utama yang harus terus didorong oleh pemerintah Indonesia.