Pertukaran Energi Bantu Atasi Tantangan Energi Asia-Pasifik

Studi Terbaru ADB

Rabu, 16/10/2013

NERACA

Jakarta – Pertukaran energi lintas batas dapat berperan penting dalam membantu negara-negara di Asia dan Pasifik memenuhi kebutuhan energinya yang akan terus menanjak dalam dua dekade ke depan. Demikian diungkapkan oleh studi terbaru ADB, Energy Outlook for the Asia and the Pacific.

“Proyeksi kami menunjukkan bahwa kawasan Asia-Pasifik akan mengonsumsi lebih dari setengah dari pasokan energi dunia, dan penggunaan listrik menjadi berlipat ganda karena pertumbuhan ekonomi,” kata Penasihat Senior Khusus untuk Infrastruktur dan Kerjasama Pemerintah dan Swasta di ADB, S. Chandler dalam keterangan tertulis yang diterima Neraca, Senin kemarin (14/10).

Negara-negara tersebut tidak akan mampu memenuhi kebutuhan energi yang demikian banyak, sehingga perlu adanya percepatan proses interkoneksi jaringan listrik dan gas. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki efisiensi, menghemat biaya, dan memanfaatkan surplus energi dari negara lain,” tambah Chandler.

Laporan ADB ini, lanjut Chandler, menyediakan data dan proyeksi mengenai penggunaan energi di sub-kawasan dan sektoral Asia-Pasifik hingga tahun 2035. Laporan tersebut juga berisi analisis dampak apabila tidak ada perubahan berarti (“business as usual”) dalam menangani masalah energi, serta pendekatan alternatif yang tersedia bagi negara-negara tersebut.

Bahan bakar fosil diprediksi akan terus mendominasi penggunaan energi, yang antara lain ditunjukkan oleh penggunaan batubara yang melonjak lebih dari 50% selama periode analisis atau sekitar 2% per tahun. Hal ini dikarenakan tingginya tingkat konsumsi di Republik Rakyat Tiongkok, serta meningkatnya permintaan batubara di kawasan Asia Tenggara. Penggunaan minyak bumi juga akan naik sekitar 2% per tahun, khususnya didorong oleh pertumbuhan pada sektor transportasi akibat meningkatnya pembelian kendaraan bermotor.

”Selain itu, permintaan terhadap gas alam akan meningkat tajam sebanyak 4% per tahun, antara lain karena kemudahan dalam penggunaannya serta rendahnya dampak lingkungan yang diakibatkan,” jelas dia

Menurut dia, secara khusus studi ini menunjukkan bahwa Indonesia akan terus menjadi negara pengekspor batubara, dan ketergantungannya pada impor minyak akan terus meningkat. Indonesia diprediksi akan menjadi pengimpor gas alam setelah 2030 kecuali bila sumber-sumber gas alam baru mulai berproduksi sebelumnya. Studi ini menyarankan agar berbagai upaya untuk efisiensi energi diarahkan pada penanganan permintaan minyak yang terus meningkat dan mengakibatkan perlunya impor. Upaya diversifikasi energi di Indonesia juga akan membuat konsumsi batubara meningkat.

”Oleh karenanya, penting bagi Indonesia untuk segera mengimplementasikan teknologi penggunaan batubara yang mutakhir, khususnya pada sektor energi, untuk mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan sumberdaya tersebut,” ungkap Chandler.

Chandler menjelaskan ketergantungan Asia-Pasifik terhadap bahan bakar fosil akan memunculkan permasalahan terkait penentuan harga, ketahanan energi, serta dampaknya pada lingkungan. Emisi karbondioksida di Asia-Pasifik diprediksi akan berlipat ganda pada 2035 atau lebih dari setengah emisi di seluruh dunia. Apabila tidak ada upaya untuk menurunkan ketergantungan pada minyak atau memanfaatkan energi dengan lebih efisien dan ramah lingkungan, hal ini dikhawatirkan akan berdampak pada meningkatnya kesenjangan energi dan perubahan iklim.

“Dengan melakukan kombinasi sumberdaya energi yang tepat, penerapan teknologi terkini, dan pemanfaatan energi terbarukan, proyeksi pertumbuhan permintaan energi di atas berpotensi untuk berkurang hingga hampir separuhnya. Harapan terbesar untuk pengurangan ini terdapat pada proses pengkilangan minyak dan pengolahan gas alam yang lebih efisien, yang disertai dengan upaya untuk mengurangi permintaan energi,” tandas dia.

Selain itu, tambah dia, terdapat potensi besar untuk terus mendorong pertukaran energi lintas batas di kawasan Asia Tenggara, Selatan dan Tengah. Tujuan utama upaya ini adalah untuk menciptakan pasar energi antar Asia pada 2030, yang diharapkan juga berdampak positif pada peningkatan peluang ekonomi dan terciptanya hubungan antar-negara yang makin erat. [mohar]