Indonesia-Korea Laksanakan BCSA - Perdagangan Bilateral

NERACA

Jakarta - Untuk mempromosikan perdagangan bilateral dan memperkuat kerjasama keuangan antar negara, para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari Indonesia dan Korea melakukan kesepakatan untuk melakukan kerjasama bilateral KRW/IDR swap arrangement dengan Bilateral Currency Swap arrangement (BCSA)

Direktur Ekseutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Difi Ahmad Johansyah, dalam siaran persnya di Jakarta, Sabtu (12/10), mengatakan bahwa untuk menindaklanjuti kesepakatan tersebut, kedua bank sentral membenntuk kerjasama KRW/IDR swap arrangement senilai KRW10,7 atau setara dengan Rp115 triliun (ekuivalen US$10 miliar)

“Fasilitas tersebut akan berlaku efektif selama tiga tahun dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan kedua belah pihak,” ujar Difi.

Lebih lanjut, dia juga menjelaskan antara Korea dan Indonesia telah menyepakati, bahwa dengan kerjasama bilateral ini, diharapkan akan memberi kontribusi yang positif terhadap stabilisasi pasar keuangan regional. “Dan juga bisa memperkuat kerjasama ekonomi dan keuangan bilateral untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global,” ucap dia.

Sebelumnya, BI memang telah melakukan perpanjangan kerjasama bilateral dengan Bank Sentral China, perjanjian tersebut telah ditanda tangani sejak 2009, hal itu dilakukan untuk memperkuat sistem keuangan dalam negeri sebesar US$15 miliar.

Selain itu, bank sentral juga telah melakukan perpanjangan kerjasama bilateral swap arrangement dengan Bank of Japan sebagai agen menteri keuangan Jepang sebesar US$12 miliar yang telah berlaku efektif pada 31 Agustus 2013 lalu.

Sebelumnya, Bank Indonesia dan Bank of Japan, telah sepakat untuk memperpanjang masa BSA yang berlaku efektif sejak akhir Agustus 2013, dalam kerangka Chiang Mai Initiative sebagai bagian dari kerjasama keuangan negara anggota ASEAN+3.

Perpanjangan tersebut merupakan bagian dari perjanjian peningkatan nilai BSA pada 2009, di mana Indonesia dapat melakukan swap rupiah/dolar AS dengan nilai maksimum US$12 miliar atau meningkat dua kali lipat dari nilai sebelumnya US$6 miliar.

Perjanjian BSA antara Indonesia dan Jepang pertama kali ditandatangani pada 2003, sebagai upaya untuk menjaga kestabilan keuangan kawasan di tengah perlambatan perekonomian global yang semakin dalam dan peningkatan risiko pembalikan modal di pasar keuangan

Dengan demikian, dari perjanjian pertukaran "swap" yang berasal dari tiga mitra ekonomi Indonesia ini, pemerintah memiliki komitmen sebesar US$37 miliar yang dapat dimanfaatkan sebagai antisipasi untuk menjaga ketahanan cadangan devisa.

Selain itu, Pemerintah telah menyiapkan pinjaman siaga yang berasal dari mitra multilateral sebagai upaya untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas ekonomi makro secara komprehensif senilai US$5,5 miliar. [sylke]

Related posts