Kadin Genjot Kerjasama Ekonomi RI-Korsel

Rabu, 16/10/2013

NERACA

Jakarta - Indonesia semakin mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat global sebagai tempat yang menarik untuk melakukan bisnis . Terdapat banyak peluang Investasi dari asing yang diterima di negara ini , baik dalam bentuk joint venture hingga peluang perdagangan dan keterlibatan pembangunan infrastruktur yang ditawarkan pemerintah.

“Kadin Indonesia tetap terus mendorong upaya peningkatan investasi asing melalui pola kemitraan strategis yang menguntungkan kedua belah pihak. Dengan berbagai forum bisnis yang terselenggara, semoga bisa memajukan ekonomi dan hubungan baik diantara negara,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto saat Business Forum Indonesia-Korea Selatan yang dihadiri oleh Presiden Republik Korea Selatan, Park Guen-hye di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Kadin mencatat, Investor Korea Selatan telah menjadi salah satu investor terkemuka di Indonesia dengan hampir 400 proyek terealisasi pada paruh pertama tahun ini senilai US$1,2 miliar, sehingga menjadikannya investor terbesar ketiga sepanjang tahun ini . Selain itu, dengan total perdagangan sebesar US$29,6 miliar pada tahun 2012 , Korea Selatan adalah mitra dagang terbesar keempat di Indonesia. “Dengan angka besar tersebut dan pertumbuhan yang kuat , saya yakin kerjasama perdagangan dan investasi antara kedua negara akan tumbuh bahkan terus meningkat di tahun-tahun yang akan datang,” kata Suryo.

Investor Korea Selatan telah menetapkan kehadiran mereka di berbagai sektor di Indonesia seperti ritel , telekomunikasi , otomotif , makanan dan minuman , dan masih banyak lagi. Menurut Suryo, 240 juta penduduk Indonesia dan dengan meningkatnya kelas menengah menjadi faktor daya tarik untuk masuknya investasi di berbagai sektor. “Dengan bekerjasama dengan perusahaan Korea, kita bisa mempelajari pengetahuan, teknologi, efisiensi dan etos kerja yang telah membuat Korea Selatan menjadi salah satu kekuatan ekonomi sekarang ini,” ungkap Suryo.

Selain investasi yang masuk, Suryo mengatakan, Indonesia harus mendorong pula perdagangannya. Pasalnya, Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar ASEAN belum menjadi negara dengan ekspor terbesar ASEAN. Hal tersebut tergambar dari kondisi perdagangan diantara ASEAN dengan Uni Eropa, ASEAN dengan China, ASEAN dengan Jepang, tak terkecuali ASEAN dengan Korea Selatan. “Indonesia belum menjadi negara dengan ekspor terbesar di ASEAN, padahal Indonesia merupakan ekonomi terbesar di kawasan ini,” kata Suryo.

Terkait hal tersebut, pihaknya mendukung pemerintah untuk mencapai target perdagangan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan mencapai US$50 miliar di tahun 2015. “Bila perdagangan melalui peningkatan ekspor kita bisa diwujudkan, ini akan membawa manfaat yang lebih baik bagi negara kita,” kata Suryo.

Lebih jauh Suryo juga berharap, melalui kunjungan delegasi bisnis Korea Selatan kali ini bisa mengundang partisipasi kerjasama dalam pembangunan infrastruktur dan proyek-proyek besar yang ditawarkan melalui konsep MP3EI. “Kita harapkan ada kerja sama untuk pembangunan mega-mega proyek di Indonesia dalam kerangka MP3EI untuk jangka waktu 15 tahun mendatang,” ucapnya. Kadin menilai, potensi kerjasama juga cukup besar untuk industri manufaktur, industri pertahanan, pariwisata, ketenagakerjaan, dan energi terbarukan.

Kerjasama Investasi

Selain itu, Presiden Korea Selatan Park Geun Hyi menandatangani kerjasama beberapa sektor usaha antara Indonesia dan Korea Selatan. Menteri Perdagangan, Industri dan Energi Korea Selatan, Yoon Sang-jik mengatakan, 1.500 perusahaan Korea Selatan sudah beroperasi di Indonesia, diantaranya dalam industri elektronik, tekstil dan konstruksi. “Korea Selatan percaya bahwa Indonesia merupakan negara tujuan investasi bagi semua negara, termasuk Korea Selatan, dan Indonesia sangat baik untuk melakukan kerjasama perdagangan dengan negara-negara lain,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi menilai, meski kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan hingga saat ini positif dan akan terus ditingkatkan, ada ha-hal yang harus tetap diperhatikan yaitu manfaat dan keuntungan harus dirasakan adil bagi kedua negara. “Dia mau investasi paling besar di Asia ini adalah (di) Indonesia, dan itulah janji-janji dia yang kita lihat. Kita ini ada hal-hal yang perlu kita perbaiki, dalam arti musti ada win-winnya dong, karena ada hal-hal menurut kita juga yang mungkin lebih banyak menguntungkan dia dari kita,” ujarnya.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah dan pengusaha Korea Selatan juga berharap Indonesia mampu berperan dalam perdagangan internasional. “Mereka sangat tertarik menawarkan beberapa bidang investasi yang mereka pikirkan adalah elektronik dan Teknologi Informasi, kemudian otomotif, baja kemudian infrastruktur, termasuk infrastruktur perdagangan, logistik dan ritel. Korea bermaksud untuk menguatkan lagi ekonominya, dan mendukung Indonesia bisa menjadi negara ketujuh ekonomi dunia seperti yang selama ini sudah disampaikan,” ujarnya.