Gapki : Ekspor CPO Mulai Bangkit

Sempat Menurun

Rabu, 16/10/2013

NERACA

Jakarta - Pada September, ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia kembali menggeliat setelah tiga bulan sebelumnya mengalami pelemahan. Ini terlihat dari ekspor CPO Indonesia ke Amerika Serikat, India dan Cina yang mengalami peningkatan.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan mengatakan, India tercatat sebagai pengimpor CPO dan turunannya yang tertinggi dari Indonesia. Meskipun, nilai mata uang India terhadap dolar Amerika Serikat belum menunjukkan penguatan yang berarti. “India meningkatkan ekspornya karena harus menambah stok minyak nabati di negaranya jelang hari raya Idul Adha yang biasanya konsumsi pangan akan meningkat,” katanya, Senin (14/10).

Berdasarkan data GAPKI, ekspor CPO ke India pada September sebesar 431,24 ribu ton, meningkat 81,54 ribu ton (23,3%) ketimbang Agustus. Sementara, permintaan dari China juga tercatat sebesar 182,74 ribu ton atau naik 12,44 ribu ton (7,3%). Lalu, ekspor CPO ke Amerika Serikat naik 38,76 ribu ton atau 210%, dari 18,41 ribu ton menjadi 57,17 ribu ton.

Sebaliknya, ekspor CPO dan turunannya ke Uni Eropa mengalami penurunan dari 359,23 ribu ton pada Agustus menjadi 260,74 ribu ton pada September, merosot sebesar 98,49 ribu ton (27,4%). “Pemberlakuan Anti Dumping Duties pada impor biodiesel yang berasal dari CPO dan minyak kedelai diperkirakan juga berpengaruh negatif terhadap impor bahan baku biodiesel dari Indonesia dan Argentina yang cukup signifikan,” kata Fadhil.

Disamping itu, panen raya rapeseed dan biji bunga matahari, walaupun sempat terlambat, di Uni Eropa juga menyebabkan stok bahan baku biodiesel dan minyak nabati meningkat. “Sentimen positif ini juga diperkirakan sebagai penyebab lain mengapa permintaan untuk biodiesel dan bahan bakunya di Eropa turun,” katanya.

Secara keseluruhan, volume ekspor CPO dan turunannya di dunia pada September sebesar 1,64 juta, naik 160,81 ribu ton (10,85%) ketimbang Agustus sebesar 1,48 juta ton. Jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, volume ekspor CPO September 2013 naik sebanyak 261,69 ribu ton (18,94%) dari sebelumnya 1,38 juta ton.

Peningkatan itu lantaran terjadi karena keterlambatan panen bunga matahari yang sangat telat di Rusia dan Ukraina karena cuaca basah dan panen kedelai di AS karena hujan yang terus mengguyur Midwest. “Ekses permintaan minyak nabati dunia yang ditimbulkannya dapat dipenuhi dari CPO dan produk turunannya yang berasal dari negara-negara produsen, termasuk dari Indonesia.” kata Fadhil.

Meningkat 2x lipat

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menargetkan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bisa meningkat dua kali lipat di tahun 2014. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, cara yang ditempuh yaitu melalui Caranya, dengan meningkatkan kerja sama dengan negara Pakistan atau negara-negara di sekitarnya.

Optimisme tersebut akan bisa diraih dengan menjalin kesepakatan perdagangan atau yang disebut Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Pakistan. Melalui perjanjian kerjasama ini, diharapkan ekspor khususnya komoditas minyak kelapa sawit mentah (CPO) bisa tumbuh tinggi. “Perjanjian itu akan ditandatangani pekan ini. Sehingga Indonesia bisa ekspor ke Pakistan atau ke negara-negara sekitarnya melalui Pakistan. Harapannya, jumlah ekspor tersebut bisa tumbuh double dari sekarang,” kata Bayu.

Dalam catatan Kementerian Perdagangan, ekspor CPO beserta turunnya dari Indonesia ke Pakistan pada tahun 2012 mencapai US$714 juta. Dengan kesepakatan perjanjian ini, ekspor CPO di tahun 2013 tersebut akan bertambah US$200-300 juta lagi. “Sehingga di tahun depan, kami harapkan ekspor CPO ke sana bisa mencapai US$1,5 miliar,” tambahnya.

Minim Pengolahan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menilai para produsen Crude Palm Oil (CPO) lebih sering melakukan ekspor. Padahal, pemerintah telah memberikan insentif pada industri pengolah CPO. Deputi teknologi informasi, energi dan mineral BPPT, Unggul Priyanto, mengatakan dalam faktanya, harga CPO saat ini cukup bagus di pasar international, dengan harga mencapai sekira Rp7.500 per liter.

“Bagi pengusaha, mengekspor CPO jauh lebih menarik dari pada mengolah menjadi biodiesel karena sudah pasti akan memperoleh keuntungan lebih besar meskipun sebenarnya sudah ada insentif dari pemerintah sebesar Rp3.000 per liter,” ujar Unggul.

Unggul mengatakan, keberhasilan penerapan Bahan Bakar Nabati (BBN), khususnya biodiesel dan bioethanol, lebih banyak tergantung kepada kesediaan bahan baku yang murah. Hal tersebut dikarenakan sekira 75-80% biaya produksi berasal dari biaya bahan baku. “Untuk itu perlu dipikirkan konsep industri BBN terpadu yang bisa menjamin keberlanjutan bisnis secara lebih kompetitif,” ujar Unggul.