Sabda dan Peristiwa - Oleh: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta

Pernah ada masa-masa antara sabda dan peristiwa itu terjadi hubungan dialektis, yang satu memengaruhi dan menciptakan yang lain. Sabda mampu mengubah jalannya sejarah.

Namun, sekarang ini kita hidup di mana kata-kata tak lagi punya wibawa, tak sanggup menggerakkan serta menciptakan perubahan dan peristiwa. Kita hidup di era produsen kata-kata yang bertaburan dan tak terkontrol lagi dari mana dan mau ke mana ledakan katakata itu berasal dan bermuara. Dahulu pada masa hidup rasul-rasul Tuhan kata yang keluar itu sangat wibawa.

Saking wibawa dan dihormatinya, kata disebut firman, titah, atau sabda. Masyarakat menghargai dan taat pada sabda rasul karena yakin akan wibawa dan kebenaran isinya serta respek dan percaya pada ketulusan hati serta keluhuran budi mereka. Para rasul Tuhan itu juga manusia biasa, makan, tidur, berbicara, dan berperilaku layaknya manusia pada umumnya karena Tuhan memilih rasul memang dari komunitas manusia agar keteladanannya bisa diikuti.

Bukan sosok yang datang dari planet lain dengan bahasa dan perilaku yang tidak dipahami sehingga mustahil dijadikan role model. Sekadar contoh, bagaimana sabda yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW berupa ayat-ayat Alquran dan nasihatnya telah menciptakan perubahan sosial yang luar biasa, yang tak terbayangkan, dengan nalar sejarah.

Masyarakat padang pasir yang terpisahkan dari pusat-pusat peradaban dunia waktu itu hanya dalam waktu 23 tahun berubah menjadi sumber mata air peradaban baru yang luapan pengaruhnya tak habis-habisnya sampai hari ini.

Revolusi sosial itu bermula ketika ada pemuda, Muhammad, menyatakan menerima pesan Tuhan agar diteruskan kepada masyarakat Arab waktu itu, yang berbunyi: Aku bersaksi tiada ilah, melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.

Kalimat itu begitu pendek, mudah diucapkan. Namun, ketika awal mula sabda itu dideklarasikan, terjadilah keguncangan sosial luar biasa, yang menimbulkan kemarahan para penggede Arab waktu itu, bahkan sampai mengancam jiwa Muhammad.

Sabda itu dianggap sebuah manifesto subversi yang menggerogoti dan ingin menggulingkan hegemoni epistemologi, keyakinan, dan kekuasaan puncak elite piramida sosial, lalu dihadirkan kekuatan baru yang abstrak, namun sangatpowerfulpengaruhnya, yaitu Allah Yang Rahman dan Rahim. Waktu itu orang menjadi budak (abdu) penguasa, materi, dan suku, lalu oleh Muhammad dialihkan bahwa jika seseorang ingin merdeka, jadilah budak Allah (Abdullah).

Jadi, manifesto syahadat adalah sebuah manifesto dan gerakan pembebasan atau liberasi dari penghambaan pada sesuatu yang posisinya di bawah derajat manusia yang merupakan puncak ciptaan Tuhan.

Karena itu, sungguh tidak pantas dan tidak logis kalau manusia menghambakan diri selain kepada Allah. Manusia adalah ciptaan Allah yang berada di puncak piramida seluruh ciptaan-Nya sehingga selain pada Allah, manusia harus melihatnya ke bawah.

Deklarasi syahadat itu telah merontokkan hegemoni dan dominasi elite penguasa waktu itu dan menempatkan Muhammad sebagai tokoh pembebas yang disambut sorak-sorai oleh para budak dan kalangan miskin yang terpinggirkan.

Muhammad sebagai pemimpin moral, spiritual, dan politik tidak punya obsesi untuk membangun istana dan menumpuk kekayaan sehingga kekuatan pribadi dan gagasannya mampu mengikat loyalitas para pengikutnya secara tulus dan militan, jauh dari ikatan transaksional kepentingan bisnis atau jabatan.

Jadi dapat dibayangkan, betapa dekatnya keterkaitan antara sabda dan peristiwa empiris-sosiologis waktu itu. Ayat-ayat suci yang diyakini sebagai firman Tuhan itu turun secara berangsur selama 23 tahun dan sebagian merekam hubungan dialektis antara sabda dan peristiwa.

Selama dua dekade terjadi hubungan dialektis-konstruktif antara sabda dan peristiwa yang gegap gempita, namun juga menciptakan tradisi baru berupa sujud merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan keheningan dan kelembutan hati.

Sabda menciptakan peristiwa, dan peristiwa melahirkan sabda. Lalu, mari kita amati bagaimana yang terjadi saat ini? Sabda yang sama telah diperlombakan dengan iming-iming hadiah dan dilantunkan dalam ruang yang sejuk dan jauh dari realitas sosial. Atau, sabda yang sama mengalir keluar dari para penceramah agama di layar kaca dengan selingan iklan, namun dipertanyakan, seberapa besar dampaknya terhadap peristiwa sosial.

Dengan ungkapan lain, apakah sabda suci yang sama itu ketika disampaikan hari ini masih bisa menciptakan perubahan sosial seperti pada masa kemunculannya? Setiap hari kita mendengarkan sabda suci yang disampaikan para penceramah agama dan kita juga seringkali mendengarkan titah para penguasa negeri, namun hampir tidak berpengaruh apa-apa terhadap realitas sosial.

Sabda dan titah penguasa telah kehilangan wibawa. Di sana tidak ada sosok pemimpin penyampai sabda yang mampu menciptakan peristiwa sebagaimana yang terjadi pada zaman kerasulan. Dunia sudah berubah. Aktor sosial dan variabel penggerak perubahan sudah berganti. Sekarang bahkan hadir apa yang disebutvirtual societydengan warganya yang disebut netizen. Sebuah komunitas yang sangat cair yang dihubungkan dengan kata-kata melalui internet.

Muncul fenomena komunitasfinger generationyang saling ngobrol melalui pesan singkat dengan bantuan handphone, sibuk dengan jari-jarinya. Inisemuasemakinmemisahkan antara kata dan realitas, antara sabda dan peristiwa. Ketika berbelanja pun yang melakukan transaksi cukup angka yang muncul dari pertemuan kartu kredit dan mesin alat pembayaran.

Kita hidup dalam sebuah negeri tanpa subjek dan aktor pemandu yang wibawa dan jadi panutan layaknya konduktor dalam sebuah orkestra. Kita hidup bagaikan dalam sebuah masyarakat kerumunan, dihubungkan dengan kata-kata yang sangat cair dan kadang liar. (uinjkt.ac.id)

Related posts