Perluasan Aktualisasi Ibadah Kurban - Oleh: Umar Natuna, Ketua STAI Natuna dan alumni Fak Dakwah IAIN Walisongo Semarang

Bagi umat Islam, setiap hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq, disyariatkan untuk menyembelih hewan kurban dan kemudian dagingnya dibagikan kepada para fakir miskin dan saudara-saudara yang kurang mampu. Aktualisasi ibadah kurban bukan saja terbatas pada penyembelihan hewan kurban mestinya, melainkan juga dapat diaktualisasikan dalam bentuk-bentuk yang lain seperti memberi santunan, makan minum, biaya sekolah, modal kerja, biaya kursus kepada yang berhak menerimanya.

Karena hakikat ibadah kurban adalah sebagai wahana untuk mendidik umatnya agar peduli, peka dan saling berbagi satu sama lain.Pemaknaan demikian penting disosialisasikan, karena Ibadah kurban adalah visualisasi untuk mendidik manusia agar mau mengorbankan atau menanggalkan sifat-sifat bahamiah (kebinatangan) yang ada dalam diri manusia, agar kemudian manusia dengan sadar, jernih, arif dan leluasa mengaku kebenaran Allah SWT.

Dengan melaksanakan ibadah kurban akan muncul kesadaran diri setiap individu yang merupakan pangkal kesadaran masyarakat.Yakni kesadaran akan kepekaan terhadap nasib, penderitaan dan kepentingan yang lebih luas dari kepentingan individual. Inilah hakikat ibadah kurban, yakni lahirnya kesadaran, kepekaan dan kepedulian untuk membantu sesama, guna melahirkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Karenanya, ibadah kurban dalam Islam bukan suatu persembahan yang bermakna individual atau ritual belaka, melainkan ia bermakna sosial. Di dalamnya terkandung falsafah sosial bahwa kurban bukanlah untuk Tuhan, tetap justru untuk umatnya. Ia, tidak sekedar sebagai sarana "an sich" untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, melainkan juga lebih kepada kepentingan sosial. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman bahwa, “Bahwa tidak sampai kepada Allah SWT daging dan darahnya. Tetapi yang sampai kepadanya adalah ketaqwaanmu” ( QS.22;37). Dalam surat lain, Allah SWT juga berfirman, ”Lalu makanlah sebagaian dari dagingnya, dan beri makanlah ( dengan bagian yang lain) orang fakir yang sengsara”, Qs;22;28).

Makna instrinsik yang terkandung dalam ibadah kurban, yakni, dimana ia bukan sekedar untuk meraihkan kedekatan dan kepekaan spritual kepada Allah SWT semata, melainkan ia merupakan sarana untuk merealisasikan visi dan spirit keadilan dan kemanusiaan kita kepada sesama manusia. Artinya, pengamalan agama haruslah tercermin dalam perwujudan keadilan dan upaya memanusiakan-manusia.

Pengamalan agama bukanlah untuk kepusaan individual atau vertikal, melainkan harus terwujud dalam realitas sosial. Dengan melaksanakan ibadah kurban, maka kita dengan sendirinya akan melahirkan kepekaan sosial. Karena hakikat ibadah kurban adalah instrumen atau wahana mendidik umatnya agar peka terhadap realitas sosial yang ada.

Perluasan Aktualisasi

Jika demikian, maka perlu perluasan aktualisasi ibadah kurban. Jika selama ini hanya dilakukan dalam bentuk menyembelih hewan kurban seperti kambing, lembu, kerbau atau unta, maka sebenarnya dapat juga dapat dilakukan dalam bentuk yang lain seperti memotong tabungan atau rekening bank kita kemudian kita bagikan kepada orang yang berhak.

Itu artinya, jika belum mampu ber-kurban sesuai dengan syariat Islam, maka sebetulnya tidak menutup diri untuk dapat melaksanakan berkurban. Karena dengan membantu orang lain dalam bentuk materi, uang atau pemikiran juga sebenarnya bermakna kurban.

Inilah, makna yang mestinya kita tanamkan dalam kehidupan anak-anak kita, ketika ia menyaksikan hewan kurban disembelih baik atas nama dirinya atau pun orang lain. Karena dengan penanaman makna dan nilai yang demikianlah, ibadah kurban itu akan bermakna sosial. Dan ia akan dapat dijadikan instrumen kebijakan untuk mengatasi berbagai persoalan keumatan seperti kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.

Perluasan aktualisasi semangat, visi dan spirit ibadah kurban dalam konteks kehidupan sosial, terutama bagi kita yang belum berkecukupan untuk melaksanakan ibadah kurban sesuai ketentuan fiqih, maka aktualisasinya dapat juga dilakukan dalam bentuk-bentuk yang lain. Pertama, dengan memberikan bantuan bekal makanan.” Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang yang ditawan”. ( Al-Ihsan;78;8).

Kedua, memberikan modal kerja, agar mereka bisa mengembangkan hidup dan kehidupannya.” Dan ketika pembagian itu datang, maka kerabat, anak yatim, orang-orang miskin hendaknya diberikan bagiannya, dan ucapkan kepada mereka perkataan yang baik” ( An-nisa/8). Ketiga, berbuat baik kepada mereka dalam artian yang seluas-luasnya. “ Sembahlah Allah SWT dan jangan kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibn sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” ( An-nisa;36).

Selain itu, aktualisasi ibadah kurban dapat dilakukan terutama bagi orang-orang kaya adalah dengan “ mengorbankan” segala kenikmatan; seperti makan minum, kesenangan, konsumerisme dan sikap-sikap hedonistik yang berlebihan. Jika saja bagi orang yang berpunya mau sedikit mengorbankan pola dan budaya konsumerisme selama hari-hari tasyriq, maka tentu banyak hal yang dapat dilakukan untuk berbagi buat mereka yang kurang beruntung.

Sebab biaya yang dikeluarkan oleh mereka dengan makan minum yang berlebihan di mal-mal, restoran mewah, tidur di hotel bintang lima ketika saat liburan idul adha dan rekreasi keluarga negeri dapat dikorbankan, maka sangat banyak dana yang dapat dikumpulkan untuk membiayai sekolah, modal kerja dan keterampilan bagi anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi. Inilah jihad akbar kita dewasa ini. Yakni ketika kita mampu mengorban berbagai hawa nafsu kebinatangan kita dengan sekedar mengkonsumsi untuk kebutuhan. Sebab esensi jihad akbar bukanlah terjun ke medan perang, melainkan bagaimana kita melakukan perang terutup melawan kerakusan diri sendiri.

Dalam perspektif ini, Nabi bersabda “ makanlah setelah merasa lapar dan berhentilah makan sebelum perutmu kenyang”. Itulah makna kurban yang harus direalisasikan, terutama bagi mereka yang berpunya. Dengan mengatur pola makan, belanja dan gaya hidup yang berlebihan, sebenarnya, mereka juga telah menunaikan semangat berkurban.

Dalam konteks inilah, perluasan makna dan aktualisasi ibadah Kurban itu dilakukan. Yakni, menjadi ibadah kurban sebagai kendali, bagi mereka-yang hidup berpoya-poya. Dengan mengorbankan berbagai kenikmatan yang ada, maka kita sedang berlatih melawan sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita.

Pendek kata, hari raya kurban harus kita jadikan momentum untuk mengorbankan sejumlah karunia atau kenikmatan yang kita peroleh untuk orang lain. Inilah, sebenarnya spirit ibadah kurban yang harus kita tanamkan. Sebab ibadah kurban, adalah simbol akan kesadaran, keimanan dan ketaqwaan kita akan Allah yang dituangkan dalam kehidupan nyata. Artinya, ibadah kurban bukan sekedar bermakna ritual-vertikal, melainkan lebih merupakan ibadah yang berdimensi sosial pendidikan.

Oleh karenanya, aktualisasinya pun sangat luas dan tak terbatas pada pemotongan hewan kurban bagi mereka atau kita yang kebetulan berkecukupan menunaikannya. Akan tetapi juga dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk yang lain-yang intinya untuk membantu masyarakat berkekurangan, serta mengorbankan semua sifat kebinangan yang ada dalam diri kita seperti sifat rakus, monopoli, hedonistik, konsumerisme dan materialisme.

Karenanya, sudah saatnya kita melakukan reaktualisasi terhadap makna dan aktualisasi ibadah kurban itu sendiri. Jangan sampai ibadah kurban justru menyuburkan pola dan gaya hidup yang konsumerisme. Yang justru memperdalam kesenjangan sosial dalam realitas kehidupan. Dan jangan sampai ibadah qurban hanya diartikan sempit hanya dalam bentuk menyembelih hewan qurban, melainkan yang lebih esensial adalah mengorbankan segala kenikmatan dan kurnia Allah SWT yang ada pada diri kita seperti tabungan bank, deposito, biaya perjalanan, rekreasi, gaya hidup yang berfoya-foya untuk mewujudkan keadilan sosial dan kemanusiaan. Akhirnya, selamat menunaikan ibadah Idul Adha dan kurban, semoga amal kita diterima Allah SWT. Amin. (haluankepri.com)

Related posts