Feodalisme Pendidikan

Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Rabu, 16/10/2013

Imperialisme dan feodalisme dimasa perjuangan, revolusi merebut kemerdekaan kerap disorot Bung Karno dalam berbagai pidato dan tulisannya. Imperialisme dan kolonialisme adalah penjajahan yang dilakukan satu bangsa terhadap bangsa lain. Penjajahan sudah barang tentu menafikan kebersamaan, hanya mementingkan satu kelompok golongannya saja yaknibagi kaum penjajah itu sendiri berikut antek-anteknya.

Imperialisme memaksakan kehendak yang menggasak dan merampas hasil bumi dan kekayaan alam negara yang dijajah. Kekuasaan berada ditangan sang penjajah yang pantang dikritik dan enggan memerhatikan nasib rakyat yang dijajahnya. Bahkan segala tipu daya, taktik strategi licik serta kamuflase persesngkokolan jahat dirancang-terapkan oleh kaum imperialis antek-anteknya terhadap mereka yang terjajah. Imperialisme, kolonialisme merupakan eksploitasi manusia atas manusia yang tak berperikemanusiaan serta mengabaikan nilai –nilai moral universal apalagi ajaran agama. Penjajah telah tertutup mata hati dan rasionalitasnya dalam memperlakukan manusia sebagai makhluk Ilahi yang mulia.

Diskriminasi, perbedaan perlakuan dan pengkastaan merupakan ciri-ciri dalamfeodalisme yang kerap menjadi fenomena sehari-hari para imperealis tulen yang menacapkan kukunya dalam bilangan waktu cukup lama bahkan berabad-abad lamanya. Perilaku dan kebiasaan feodalisme sudah menyatu padu di dalam diri kaum penjajah dan antek-anteknya. Manusia feodal menempatkan dirinya sebagai sang kuasa bak Tuhandan merasa keputusan yang diambilnya selalu benar. Feodalisme membuat perbedaaan satu manusia atas manusia lain.

Oleh karena manusia berjiwa feudal itu merasa lebih tinggi dari pada orang lain.Sifat dan jiwa feudal ini merasuk pada diri paara penjajah dan antek-anteknya yang nota bene juga dari kalangan bangsa sendiri. Menganggap dirinya lebih baik dari orang lain dan merasa bahwa dirinya yang patut dicontoh orang lain meski dalam gaya hidup keliru merupakan bentuk kesombongan kaum feudal.

Fenomena feudalism seperti yang dipaparkan diatas telah jamak berlangsung hingga kini di negara-negara yang dulunya mengalami penjajahan. Efek penerapan ajaran feodalisme yang ditumbuh-kembangkan kaum penjajah sejak dulu itu saking dahsyatnya masih tetap membekas dan bahkan meninggalkan perilaku buruk di kalangan masyarakat Indonesia. Dulu Bung Karno amat benci dengan ajaran dan kebiasaan feodalisme yang menempatkan sebagian manusia lebih penting dan tinggi harkat dirinya dibanding sebagian yang lain.

Padahal dalam revolusi kemerdekaan Bung Karno selalu menaruh perhatian pada kaum papa (marhaen) yang tertinggal dan terdzholimi oleh sepak terjang kaum elite baik sebagai korban penjajahan maupun akibat system feodalisme yang masih melekat di sebagian manusia Indonesia. Feodalisme itu sampai saat ini masih berada diberbagai sektor kehidupan manusia Indonesia tak terkecuali di sektor pendidikan sehingga dikenal dengan feodalisme penddidikan.

Feodalisme pendidikan dengan kasat mata tampak dan kita alami dalam penyelenggaraan pendidikan meski alibi yang digunakan terkesan menarik dan menyilapkan pemahaman. Sekolah unggulan, sekolah favorit, pendidikan eksklusif dan diskriminasi perlakuan dalam memperoleh pendidkan bermutu bagi semua komponen bangsa mewujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini.

Masih banyak lagi fenomena feodalisme pendidikan dalam keseharian. Hubungan antara guru murid dan dosen mahasiswa, bahkan antar mahasiswa itu sendiri tak dapat dipungkiri juga telah menjelma menjadi suatu kebiasaan yang tanpa disadari malah menyuburkan perilaku feodalisme dalam pendidikan. Dosen yang menempatkan dirinya sebagai satu-satunya sumber ilmu dan merasa paling benar berpotensi untuk berperilaku feudal. Konsep pendidikan yang modern yang semestinya menempatkan anak didik sebagai subyek dan bukan obyek diganti menjadi “teacher centered” atau pengajar yang seolah-olah paling tahu segala-galanya. Jarak dan konsep “aku dan kau berbeda” karena aku adalah guru sedangkan engkau adalah murid, sehingga engkau (murid) mesti ikut apa kataku, merupakan prinsip-prinsip yang kerapkali kita saksikan dan alami di dunia pendidikan. Profesor, guru dan dosen tidak sedikit yang menunjukkan keangkuhan akademik (arogan) terhadap anak didiknya dan mereka yang dianggap berstatus rendah.

Keangkuhan akademik menjadi sangat mengganggu bagi anak didik (siswa dan mahasiswa) yang ingin berkreasi dalam menciptakan hal-hal diluar pakem dan kebiasaan. Pemikiran dan kegiatan “out the box” yang merupakan bagian dari penajaman daya kreativitas memang amat menafikan kebiasaan-kebiasaan akademik karena akademik senantiasa menuntut alur linearitas sedangkan kreativitas tumbuh dalam tatanan lateralitas. (uin-malang.ac.id)