Pangsa Pasar Semen Indonesia Capai 43,8%

Berkah Penjualan Meningkat

Rabu, 16/10/2013

NERACA

Jakarta- Peningkatan dan perbaikan infrastruktur yang digadang-gadang pemerintah maupun pihak swasta mungkin bisa dibilang menjadi berkah tersendiri bagi perusahaan semen. Sebut saja, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Hingga September 2013, perseroan mencatatkan kenaikan penjualan semen 15,6%, atau menjadi 18,50 juta ton dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp16 juta ton.

Pihak manajemen mengklaim, meningkatnya penjualan perseroan menjadi 18,50 juta ton hingga September ini didukung dengan peningkatan market share domestik menjadi 43,8% dari tahun lalu sebesar 40,9%. “Hingga September 2013, penjualan domestik meningkat 14,3% menjadi 18,23 juta ton, mengungguli pertumbuhan penjualan pasar domestik sebesar 5,3%.” kata Direktur Utama PT Semen Indonesia Dwi Soetjipto di Jakarta, pekan kemarin.

Sementara untuk penjualan ekspor, menurut dia, meningkat secara signifikan sebesar 485% menjadi 268,93 ribu ton dibanding tahun 2012 sebesar 45,95 ribu ton. Selain meningkatnya market share, Dwi juga menyebutkan, kenaikan ini didukung beroperasinya dua pabrik semen perseroan. “Peningkatan penjualan semen yang melampaui pertumbuhan industri juga didukung beroperasinya Pabrik Tuban IV dan Tonasa V.” imbuhnya.

Hingga kini, kata dia, perseroan telah memiliki tiga lokasi pabrik di Indonesia, yaitu Semen Padang di Sumatera, Semen Gresik di Jawa serta Semen Tonasa di Sulawesi dan memiliki satu lokasi pabrik di luar negeri, Thang Long Cement di Vietnam. Thang Long Cement (TLCC) merupakan salah satu perusahaan penghasil semen terkemuka di Vietnam dengan total kapasitas produksi 2,3 juta ton per tahun. Lokasi pabrik tersebut yaitu di Provinsi Quang Ninh yang dilengkapi fasilitas penggilingan semen di daerah pinggiran kota Ho Chi Minh.

Thang Long Cement memiliki tambahan dua izin pengembangan pabrik baru di provinsi Quang Ninh dan Binh Phuoc, Vietnam. Rencananya, SMGR dan Geleximco akan mengembangkan kedua pabrik tersebut melalui anak perusahaan Thang Long Cement. "Tambahan dua pabrik tersebut merupakan potensi dalam meningkatkan kapasitas TLCC menjadi 6,5 juta ton," paparnya.

Selain itu, saat ini perseroan juga memiliki Cement Mill sebanyak 22 unit, packing plant 21 unit, dan 11 pelabuhan khusus, yaitu di Padang, Tuban, Gresik, Biringkasi, Dumai, Ciwandan, Banyuwangi, Sorong dan dua pelabuhan di Vietnam.

Proyeksi Kinerja

Masifnya pembangunan proyek infrastruktur dalam kerangka Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada tahun ini disebut sebut akan mendorong pertumbuhan kinerja industri semen Indonesia. Terlebih dengan adanya proyek pembangunan sektor properti yang dilakukan oleh pihak swasta.

Asosiasi Semen Indonesia memproyeksikan, dengan masifnya proyek pembangunan infrastruktur, industri semen dapat mencatatkan pertumbuhan sebesar 10% pada tahun ini. Meskipun pertumbuhan ini lebih rendah daripada kinerja industri semen pada 2012 yang mencapai 14,5%, namun konsumsi semen pada tahun ini diperkirakan akan mengalami kenaikan. “Konsumsi akan naik sekitar 5 juta tahun ini,” kata Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso.

Menurut dia, selain proyek infrastruktur pemerintah, masih akan banyak pengembang yang membangun apartemen dan rumah dengan kelas menengah di Indonesia yang terus berkembang dan mencapai jumlah yang besar. Proyeksinya, jika pada 2012 lalu total konsumsi semen mencapai 55 juta ton maka dengan kenaikan 15%, konsumsi pada tahun ini akan mencapai 60 juta ton. Tidak heran, sebagai pemain di industri ini SMGR pun mencatatkan pertumbuhan yang positif. Pada paruh pertama tahun ini saja, total penjualan perseroan tercatat telah mencapai 12,53 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 18,5%.

Peningkatan tersebut melebihi pertumbuhan nasional yang hanya mencapai 7,5%. Tak ayal, pendapatan perseroan pun melejit 32% menjadi Rp11,4 triliun. Dari jumlah itu perseroan membukukan laba bersih Rp2,59 triliun. Dengan demikian, secara keseluruhan, pencapaian tersebut telah merepresentasikan 50% dari target perseroan. Itu sebabnya, sejauh ini SMGR masih mendapatkan rekomendasi dari para analis. (lia)