Perdesaan Sehat Harus Dapat Perhatian Khusus

Rabu, 16/10/2013

NERACA

Jakarta – Perdesaan Sehat sebagai sebuah program kerja Kementerian Pembangunan Daerah Teringgal perlu untuk menimbang-nimbang konsep yang pas agar tujuan yang hendak dicapai dapat berjalan dengan optimal. Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum (PU) Bidang Keterpaduan Pembangunan Taufik Widjoyono mengatakan, perlu beberapa perhatian khusus dalam mendorong tercapainya Perdesaan Sehat.

Perdesaan Sehat sendiri memiliki lima pilar utama, yaitu dokter puskesmas, bidan desa, air bersih, sanitasi, dan gizi bagi masyarakat. Mengenai dokter puskesmas dan bidan desa sendiri, menurut Taufik, yang perlu diperhatikan selain keberadaan dokter dan bidan tersebut, juga perlu untuk mempertimbangkan akses masyarakat menuju bidan dan dokter tersebut. Akan percuma jika dokter dan bidan sudah ada dan siap setiap saat, tetapi masyarakatnya sendiri kesulitan untuk mencapai lokasi bidan atau dokter.

“Paling tidak, pembangunan akses jalan dilakukan dari pusat-pusat permukiman ke pelayanan kesehatan. Tidak hanya jalan, tapi misalnya dermaga untuk wilayah yang banyak sungainya, seperti di Kalimantan,” kata Taufik di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, keberadaan akses jalan di desa itu adalah tanggung jawab dinas pekerjaan umum di Pemerintah Kota/Kabupaten setempat. Tapi Pemerintah Pusat sendiri punya program untuk mendorong keberadaan akses jalan itu, yaitu Program Pembangunan Infratruktur Pedesaan (PPIP). Dengan PPIP itu, masyarakat sendiri yang akan mengerjakan pembangunan infrastruktur, misalnya jalan desa, tetapi dengan dana Pemerintah Pusat.

Mengenai keberadaan air bersih, Taufik memiliki beberapa penegasan, terutama mengenai angka volume kebutuhan yang perlu dicapai. Satu orang butuh minimal 60 liter air bersih per hari. Jumlah tersebut tidak hanya digunakan untuk minum, tetapi juga mandi dan mencuci. Taufik memberikan gambaran. Untuk memenuhi kebutuhan seribu warga, agar tercukupi kebutuhan minimalnya 60 liter air per hari, maka diperlukan pasokan air dengan debit sebesar 1 liter per detik.

“Masyarakat pedesaan perlu dicukupi kebutuhan airnya. Bagaimana caranya itu tergantung dari karakter daerah itu. Jika daerahnya dekat dengan sumber air, maka bisa dengan membuat sambungan pipa ke pemukiman. Namun jika daerahnya jauh dari sumber air, maka pengadaan air bersih bisa dilakukan dengan membuat embung-embung air,” jelas Taufik.

Beberapa Kementerian, kata Taufik, mempunyai program percepatan pembangunan infrastruktur pedesaan. Rata-rata setiap desa bisa mendapatkan Rp250 juta. Uang tersebut bisa digunakan untuk membangun jaringan pipa agar air dari sumbernya dapat disalurkan ke masyarakat.

Namun, jika sumber air begitu jauh dari desa dan dinilai tidak efisien jika dibangunkan jaringan pipa, maka membangun embung adalah salah satu solusi yang bisa diambil. “Itu yang sedang digalakkan. Semakin lama semakin disadari bahwa desa perlu cadangan air,” kata Taufik.

Selama ini, lanjut Taufik, Kementerian PU banyak membantu keberadaan air bersih di wilayah yang jauh dari sumber air bersih, yaitu dengan menggunakan hidrant umum atau membangunkan desalinasi yang bisa mengolah air laut menjadi air bersih yang layak minum. Biasanya itu dilakukan di pinggir-pinggir pantai dan di pulau-pulau kecil.

Taufik mengeluhkan, sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang mengandalkan sumur untuk mendapatkan air bersih. “Jangka panjang itu, pakai air permukaan. Di luar negeri, tidak pernah ada orang punya sumur. Kedua, kalau sekarang kita tiap rumah bikin sumur, sementara kita sudah buat konstruksi bawah tanah, sulit, karena akan menabrak sumur,” kata Taufik.

Selain itu, tidak menggunakan sumur juga terkait dengan pilar keempat Perdesaan Sehat, yaitu sanitasi. Ini harus dilakukan secara kolektif oleh seluruh warga. Karena akan sama saja, ketika di sebuah rumah sudah menerapkan sanitasi yang baik, tetapi tetangganya belum.

“Di desa, sanitasi masih individual, buat resapan sendiri-sendiri. Kalau dalam desa yang makin padat, maka harus membuat resapan komunal, atau MCK komunal. Ke depan, kalau itu masing-masing rumah bikin resapan sendiri, sementara tetangga kanan kirinya masih air sumur, maka pencemaran tidak terhindarkan,” jelas Taufik.

Mengenai gizi bagi masyarakat, Taufik lebih peduli pada akses jalan menuju desa-desa. Kalau akses jalannya bagus, maka pasokan makanan akan lebih mudah. Jika pasokan terpenuhi, paling tidak masyarakat desa mempunyai pilihan makanan yang lebih beragam. [iqbal]