"Sekarang Minum Pil Pahit, Tahun Depan Sehat"

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara

Jumat, 11/10/2013

NERACA

Jakarta - Kestabilan ekonomi dalam negeri merupakan hal yang sangat penting, karena tidak hanya berpengaruh terhadap moneter dan fiskal tetapi juga berpengaruh buruk ke sektor riil yang saat ini sedang mengalami pertumbuhan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, mengatakan jika kondisi perekonomian dalam negeri tidak stabil, maka perbankan akan menemui kesulitan dalam praktiknya.

“Misalnya jika bank susah hidup, maka sektor riil pasti kena, karena bank akan sulit untuk menyalurkan kredit, ini juga akan berdampak ke sektor riil juga. Jadi kita minum pil agak pahit sekarang demi badan yang lebih sehat di tahun 2014 mendatang,” jelas Mirza di Jakarta, Kamis (10/10). Selain itu, dia juga mengatakan hal itu perlu dilakukan, agar Indonesia bisa melihat pemulihan ekonomi di Amerika Serikat, Eropa dan China.

Dia pun berharap pada tahun depan Indonesia bisa menangkap peluang dari pemulihan ekonomi yang lebih global. Mirza menjelaskan, untuk menjaga stabiltas ekonomi, bank sentral telah melakukan kebijakan moneter dan telah meng-addres kurs rupiah agar menemukan ekulibrium yang baru, yang sesuai dengan fundamental ekonomi dalam negeri.

Namun menurut Mirza, hal ini tidak perlu dikhawatirkan. “Selain itu diharapkan dengan kurs rupiah saat ini, fundamental kita membaik, jadi defisit ekspor dan impor bisa dikurangi, seperti kemarin kuartal II current account defisitnya itu mencapai 4,4% itu tidak sehat,” ujar Mirza.

Selain itu, sisi positif dengan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini, menurut Mirza merupakan momen yang cukup baik untuk menekan masuknya impor. “Sehingga neraca transaksi pembayaran yang defisit bisa ditekan, jika waktu itu rupiah kita coba tahan di level Rp9600 per dollar AS, maka yang terjadi cadangan devisa (cadev) kita bisa tergerus,” kata dia.

Mirza mengungkapkan, bank sentral berusaha untuk menurunkan defisit agar berada dibawah 3% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). “Jika defisitnya sekitar 2,5%- 2,7% pada tahun 2013 itu yang kita sesuaikan, mudah mudahan bisa dilakukan adjustment terhadap pengurangan impor dan meningkatkan kompetitif ekspor,” jelasnya.

Kemudian terkait suku bunga, BI menaikkan sebagai upaya untu menekan inflasi yang one of effect memang naik. Dia menambahkan, ada juga core inflasi dan juga ada beberapa barang yang normal, begitu dilakukan pengetatan jadi agak slowdown. “Kami mengaharapkan efek tersbeut terjadi hanya tahun ini, selanjutnya tahun depan inflasi akan kembali ke level normal yaitu 4,5% +- 1, jadi jika BI rate sekarang 7,25% dan fasbi 5,5% itu kira kira bisa mencerminkan dan menghadang inflasi tahun depan,” kata Mirza.

Mantan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini juga mengimbau, kepada seluruh pihak agar bisa menyesuaikan diri dengan fundamental ekonomi Indonesia yang baru. Diharapkan nantinya, ketika pemulihan ekonomi global terjadi, bisa berpengaruh maksimal agar pertumbuhan ekonomi dalam negeri bisa terdorong. [sylke]