Pemerintah Kurang Dorong Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Jakarta – Dosen FE Universitas Gajah Mada Sri Adiningsih menilai jika Pemerintah kurang mendorong agar pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa maksimal. Kontribusi Pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi kurang signifikan. “Pemerintah telah berusaha, tapi kurang,” kata Sri kepada Neraca, Kamis (10/10).

Jika Pemerintah betul-betul ingin mendorong pertumbuhan, kata Sri, maka langkah yang paling berarti adalah dengan secara serius membangun infrastruktur. Lalu memastikan bahwa pasokan listrik cukup. “Itu akan membantu pengusaha. Tapi kenyataannya mereka sekarang mengeluh. Ditambah lagi dengan korupsi, dan ekonomi biaya tinggi,” kata Sri.

Bukti lain bahwa Pemerintah masih kurang berusaha mendorong eprtumbuhan ekonomi, lanjut Sri, adalah produk pangan yang banyak diimpor. Padahal Indonesia bisa untuk memproduksinya, tidak perlu impor. Hanya saja, tidak ada kemauan yang kuat untuk mendorong swasembada pangan.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro menegaskan bahwa Pemerintah akan terus berupaya mengurangi defisit anggaran dan menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut perlu dilakukan, karena pada tahun-tahun mendatang perkembangan ekonomi Indonesia akan menghadapi tantangan, baik dari sisi internal maupun eksternal. Saat ini, perekonomian Indonesia tengah mencari equilibrium baru di tengah berlanjutnya ketidakpastian global.

Bambang menyampaikan bahwa dengan perkembangan ekonomi global, khususnya yang berasal dari Amerika Serikat (AS) dan zona Eropa, maka semua pihak harus mempersiapkan diri dengan keseimbangan ekonomi baru. Dengan upaya maksimal, pihaknya optimistis pemerintah masih berpeluang mencapai laju pertumbuhan seperti yang telah ditargetkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014.

Mengenai niatan Pemerintah untuk mengurangi defisit anggaran, Sri berkomentar bahwa defisit anggaran menjadi tidak berarti kalau digunakan untuk subsidi BBM. Kecuali defisit yang diambil dari utang itu digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Tapi dalam kenyataannya, anggaran untuk infrastruktur dalam proporsi anggaran Indonesia masih terbilang kecil.

“Subsidi BBM berapa, buat bangun infrastruktur berapa. Itu terlihat dari profil anggaran kita. Jadi jangan berdalih melakukan utang untuk bangun infrastruktur kalau anggaran infrastruktur masih kecil,” kata Sri. [iqbal]

BERITA TERKAIT

Bappenas Dorong Pembangunan Papua Berbasis Pendekatan Adat

    NERACA   Jakarta - Pendekatan sosiologi-antropologi menjadi faktor penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional untuk Tanah Papua. Pendekatan…

Jaga Pertumbuhan Kinerja Positif - Japfa Perkuat Kemitraan Dengan Peternak

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan kinerja perseroan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) gencar meningkatkan program kemitraan dengan peternak. “Perseroan…

Genjot Pertumbuhan Bisnis Energi - Adaro Bakal Bangun PLTU di Asia Tenggara

NERACA Jakarta –Kembangkan ekspansi bisnisnya, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tengah menjajaki pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di salah…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

PII : Skema KPBU Mulai Banyak Diminati Investor - Resmikan SPAM Semarang Barat

        NERACA   Semarang - Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)…

Wapres Ingatkan Berhati-hati Investasikan Dana Haji

    NERACA   Jakarta - Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla mengingatkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) agar berhati-hati…

Gandeng BUMDes, Pertamina Bangun 77 Ribu SPBU Mini

    NERACA   Jakarta - PT Pertamina (Persero) akan membangun 77.000 SPBU mini di seluruh pelosok daerah di Indonesia…