Pajak Impor Komponen Ponsel Terlalu Tinggi - Industri Handphone Lokal Sulit Berkembang

NERACA

Jakarta - Minimnya produk ponsel lokal di pasar dalam negeri merupakan dampak dari kurangnya dukungan pemerintah Indonesia terhadap pabrikan ponsel lokal. Pasalnya pemerintah mengenakan pajak tinggi bagi impor komponen ponsel.

Pengamat telekomunikasi, Ferrij Lumoring mengungkapkan, harga produk ponsel dalam negeri sangat mahal karena ada beban pajak dari impor komponen ponsel. Sedangkan ponsel jadi atau utuh tidak dikenakan pajak impor.

"Kalau impor ponsel jadi gratis, tidak bayar pajak. Tapi kalau impor komponen malah mahal. Itu kan ngaco masa harganya jadi lebih mahal di dalam negeri ketimbang luar negeri," tegas dia di Jakarta, Kamis (10/10).

Padahal, lanjut Ferrij, potensi produksi ponsel di Indonesia sangat besar. Banyak pabrik ponsel di tanah air yang menyanggupi memproduksi ponsel yang kualitasnya sama dengan buatan luar negeri. Langkah tersebut tentu akan jauh lebih mura ketimbang impor ponsel jadi yang bakal menyedot dan menghabiskan devisa negara.

"Kenapa mahal? Karena tidak didukung pemerintah. Banyak pabrik yang sudah mulai coba (produksi) tapi gagal, termasuk Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMN) PT INTI. Kurang apa coba INTI, dia didukung pemerintah, mitra yang sudah jalan di luar negeri, tapi gara-gara impor komponen terlalu tinggi jadi tidak jalan," jelasnya.

Awalnya, kata Sekjen IMOCA ini, pabrik ponsel lokal tersebut berdiri sendiri dengan mulai merakit satu per satu komponen menjadi sebuah produk yang utuh. Namun selalu tersandung dengan pajak impor itu sehingga ikut mengerek harga jual ponsel dalam negeri.

"Ya karena mereka sudah mengkalkulasikan sana sini, merugi. Sudah coba diakalin, tapi tetap saja tidak bisa berkelanjutan. Lantaran pajak impor, mereka jadi tidak bisa berkembang," tandasnya.

Untuk itu, Ferrij mendesak supaya pemerintah membebaskan pajak komponen impor supaya kembali menggairahkan produksi ponsel lokal dan bisa bersaing dengan produk luar negeri.

"Selama ini impor komponen memang banyak dikeluhkan teman-teman industri. Jadi mending impor dihapus, dan mereka pasti akan siap lagi menjalankan produksi ponsel," tukas dia.

Sementara itu, Sejumlah investor elektronika khususnya produk telepon selular tahun 2013 akan membuka pabrik di Indonesia. "Adanya rencana investasi di sektor elektronika itu tidak terlepas dari dampak positif kebijakan pemerintah yang memperketat pengawasan barang impor dan masih menjanjikannya pasar Indonesia," kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Triarso.

Dia mengatakan itu menjawab pertanyaan wartawan usai Sosialisasi Ketentuan Impor Telepon Selular, Komputer Genggam dan Komputer Tablet yang dihadiri para pengusaha, asosiasi berbagai produk hingga instansi dan lembaga di Medan.

Peraturan tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu dan diikuti keharusan importir mendapat Penetapan Importir Terdaftar dan Persetujuan Impor untuk telepon selular, komputer genggam dan komputer tablet dari Kementerian Perdagangan membuat barang itu tidak bisa dengan begitu mudah masuk, dijual bebas dengan mutu yang tidak standar.

Apalagi sebelum mendapatkan Persetujuan Impor, importir juga harus mendapatkan Tanda Pendaftaran Produk (TPP) Impor dari Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Tenologi Tinggi, Kementerian Perindustrian dan termasuk Sertifikat Alat dan Perangkat Telekomunikasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

"Disamping untuk melindungi konsumen dari barang yang tidak memenuhi standar, kebijakan pemerintah itu sendri memang untuk menarik investasi.Masa Indonesia terus-terusan jadi serbuan barang impor, mengapa tidak jadi tempat investasi produk itu," kata Triarso.

Dia menolak menyebutkan jumlah pasti dan termasuk nama perusahaan calon investor serta daerah yang djadikan lokasi pabrik, dengan alasan takut mengganngu rencana investasi pengusaha asing tersebut.

"Yang pasti akan ada segera beberapa pabrik elektronika yang akan beroperasi di Indonesia tahun ini.Bukan hanya rencana tetapi sudah pasti," katanya.

Dia mengakui, dewasa ini, pabrik elektronika banyak beroperasi di China menyusul infrastruktur khususnya jalan yang lebih baik di negara itu dibandingkan di Indonesia.

"Soal keterampilan tenaga kerja Indonesia ternyata lebih bagus dari di China. Indonesia harus mengakui masih kalah di infrastruktur dan karena itu pemerintah sedang fokus pada perbaikan dan peningkatannya," katanya.

Direktur Impor Kementerian Perdagangan Didi Sumedi mengakui, impor HP, komputer genggam dan komputer tablet terus meningkat pesat setiap tahunnya yang mengindikasikan bahwa pasar dalam negeri cukup bagus.

BERITA TERKAIT

Menteri Pertahanan RI - Industri Pertahanan Lokal Lakukan Terobosan Teknologi

Ryamizard Ryacudu  Menteri Pertahanan RI Industri Pertahanan Lokal Lakukan Terobosan Teknologi Jakarta - Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menilai industri…

SMF Sebut Minat Investor Cukup Tinggi - Obligasi Kelebihan Permintaan

NERACA Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menilai minat investor untuk berivestasi pada surat utang (obligasi) cukup tinggi seiring…

DAMPAK IMPOR GARAM

Pekerja menyelesaikan pembuatan garam gandu tradisional di Kampung Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (22/2). Akibat Pemerintah memutuskan impor garam sebanyak…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sektor Riil - Menperin Nilai Indonesia Siap ke Arah Industri Berbasis Digital

NERACA Jakarta – Pelaku industri nasional perlu memanfaatkan perkembangan bisnis dan teknologi dari era ekonomi digital saat ini, seperti yang…

KKP Bikin Percontohan Teknologi RAS Pada Unit Pembenihan Rakyat

NERACA Yogyakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan tinjauan langsung ke Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di desa wisata…

Dunia Usaha - Penerapan Industry 4.0 Buka Peluang Kerja Baru Lebih Spesifik

NERACA Jakarta – Penerapan sistem Industry 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi…