Dua Perusahaan Bakrie Disuspensi

Timbulkan Spekulasi

Jumat, 11/10/2013

NERACA

Jakarta- Kabar positif dari pihak manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terkait pelunasan utang perseroan kepada CIC (China Investment Corporation) ternyata belum cukup mampu meyakinkan pelaku pasar. Bahkan, pihak otoritas PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri masih mempertanyakan kepada manajemen perseroan terkait informasi tersebut. Penghentian sementara atas perdagangan saham dua perusahaan tambang milik Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pun dilakukan pihak otoritas.

Kepala Divisi Perdagangan Saham, Andre P.J. Toelle mengatakan, pihak otoritas PT Bursa Efek Indonesia memberhentikan sementara perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyusul adanya informasi dari pihak manajemen bahwa BUMI telah menandatangani perjanjian untuk menyelesaikan sisa utangnya dengan CIC. “Langkah ini dilakukan untuk menjaga penyelenggaraan efek yang teratur, wajar, dan efisien.” katanya dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (10/10).

Penghentian sementara perdagangan tersebut, menurut dia, dilakukan pihak otoritas sejak sesi I perdagangan efek hari Kamis (10/10) hingga pengumuman lebih lanjut di seluruh pasar. Selain BUMI, BEI juga melakukan suspensi atas perdagangan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada waktu yang sama. Pasalnya, informasi tersebut dianggap berpotensi mempengaruhi perdagangan efek perseroan.“Dalam rangka menjaga penyelenggaraan perdagangan efek yang teratur wajar dan efisien, bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek BRMS di seluruh pasar terhitung sejak sesi I perdagangan efek hari Kamis (10/10) hingga pengumuman lebih lanjut.” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam rilis yang disampaikan manajemen BUMI terkait penyelesaian utangnya kepada CIC senilai US$1,3 miliar, disebutkan BUMI akan menyelesaikan sebagian sisa utang tersebut dengan menukar saham BUMI di BRMS. Pihak manajemen BUMI melalui Sekretaris Perusahaannya, Dileep Srivastava mengatakan bahwa BUMI akan menyerahkan 42% saham perseroan di BRMS kepada CIC.

Selain kepemilikan saham pada BRMS, pihak manajemen BUMI juga akan menyerahkan kepemilikan saham BUMI di PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal resources (Cayman) Ltd dan PT Indocoal Kaltim Resources, masing-masing 19%, “Termasuk pengeluaran saham baru senilai US$150 juta di dalam BUMI,” ujarnya.

Menurut dia, pinjaman dua tahap yang diterima BUMI dengan jumlah pokok gabungan sebesar US$ 1,3 miliar yang akan jatuh tempo pada akhir tahun 2014-2015 tersebut akan diselesaikan akhir tahun ini. Oleh karena itu, pihaknya akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mendapatkan persetujuan yang disyaratkan berdasarkan ketentuan perundangundangan yang berlaku.“Untuk jumlah sisanya, akan dikonversikan menjadi pinjaman untuk jangka waktu tiga tahun dengan suku bunga yang kompetitif di pasaran.” jelasnya.

Memang, jika dicermati, ada beberapa bagian yang masih menyisakan tanda tanya dalam informasi tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika pihak otoritas pun menilai masih diperlukannya informasi lebih lanjut terkait hal tersebut. “Bursa telah meminta penjelasan kepada perseroan atas keterbukaan informasi tersebut. Selain itu, juga meminta kepada semua pihak untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perseroan.” jelas Andre. (lia)