Kendal Jadi Percontohan Budidaya Bandeng dan Udang

Kinerja DJPB KKP

Jumat, 11/10/2013

NERACA

Jakarta - Sesuai dengan kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong dan memperluas daerah yang dijadikan percontohan budidaya perikanan, salah satunya Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Kendal dijadikan sebagai percontohan budidaya udang dan bandeng.

“Program industrialisasi merupakan program untuk meningkatkan produksi, nilai tambah, daya saing, dan kesejahteraan masyarakat seluruhnya. Maka dari itu perlu adanya daerah yang bisa menjadi daerah percontohan budidaya perikanan,” Kata Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP, saat memberikan arahan launcing industrialisasi bandeng, di Kendal, Jawa Tengah, Rabu (9/10).

Saat ini, menurut Slamet terdapat empat komoditas yang dijadikan percontohan untuk dikembangkan, yakni bandeng, udang, rumput laut, dan patin. Dan untuk Kabupaten Kendal mempunyai dua komoditas utama yang tengah dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, yakni bandeng dan udang.

“Sesuai dengan sejarah, Kendal punya masa kejayaan produksi bandeng pada era tahun 80-an. Tapi mulai surut belakang ini. Oleh karenanya kami bangkitkan lagi. Selain itu, masyarakat Kendal sangat ahli dalam budidaya bandeng. Maka dari itu kami support Kab Kendal menjadi kota percontohan budidaya udang dan bandeng, dana kab kendal termasuk daerah yang mendapat bantuan besar dari pemerintah,” ujarnya.

Berdasarkan data yang ada, luas tambak di wilayah Kabupaten Kendal mencapai 3.459,57 ha, dengan jumlah pembudidaya ikan sebanyak 1.350 orang. Sedangkan total produksinya pada tahun 2012 mencapai 7.373 ton atau naik 6,3 % dibanding tahun 2011 yang produksinya sebanyak 6.941 ton. Dengan komoditas unggulan sebagian besar terdiri dari bandeng, udang vaname, dan udang windu.

Maka dari itu, harap Slamet, dengan potensii daerahnya yang luas, dan Kendal yang sudah menjadi daerah minapolitan, dengan adanya industrialisasi ini mampu mendorong arah percepatan perekonomian kabupaten kendal. “Industrilisasi merupakan kebijkan luar biasa dalam rangka mensejahterakan rakyat, namun demikian proses industrialisasi harus dibarengi dengan blue ekonomi yang berbasis pada ekosisitem dan lingkungan. Karena kita tidak mau industri ini dampaknya mencemari atau membawa limbah,” terangnya.

Bukan hanya Kendal, tapi memang saat ini KKP memang fokus pada program revitalisasi tambak, adapun daerah yang akan direvitalisasi yaitu Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat. “Memang menuju pasar bebas ASEAN atau Asean Economic Comunity (AEC) kami memang sedang konsen untuk meningkatkan produktifitas perikanan budidaya,” ungkapanya.

Dijelaskan Slamet, bukan hanya Kendal saja yang mendapatkan dukungan, pihaknya juga terus berupaya mendukung dan mensupport kemajuan perikanan budaya nasional. “Harapannya dengan adanya industrialisasi akan bisa memacu dan mendorong, dan membangkitkan sektor perekonomian Kendal, dan kesejahteraan perekonomian nasional pada umumnya,” tukasnya.

Punya Icon

Selain menjadi daerah pertanian dan daerah daerah perikanan, Slamet menginginkan Kendal punya icon tersendiri. “Icon itu kami inginkan dari produksi unggulan daerah. Disini, bandeng Kendal mempunyai potensi bagus. Maka terpikirkan oleh kami untuk bisa merealisasikan bandeng sebagai icon. Bukan hanya itu Kendal juga akan menjadi Kota bandeng,” kata dia.

Karena keunggulan dan potensi ikan budidaya daerah Kendal, KKP juga berupaya akan menyediakan tempat, untuk oleh-oleh khas perikanan di Kendal. Sebagai wujud memberikan pasar bagi para Usaha Kecil Mikro (UKM). Dan selain bandeng, kami juga akan terus mencoba mengembangkan udaang, lele, dan lain-lainnya. “Dengan pengelolaan perikanan dan kelautan yang sustainable diharapkan mampu mendorong perekonomian Kabupaten Kendal menjadi makmur dan tangguh,” harapnya.

Oleh karena itu, Slamet sangat berterimakasih atas Program dari Dinas Perikanan Kendal. “Dengan program yang sudah berjalan dari KKP maupun Dinas Perikanan di Kendal, tentu saja akan menjadikan taraf ekonomi budidaya dan nelayan daerah kendal menjadi tangguh. Karena kita akan terus tingkatkan tingkatkan UKM. Karena disini rumah tangga akan menjadi embrio industri perikanan di daerah Kendal,” tuturnya.

Slamet menambahkan, perlu adanya kelembagaan kelompok untuk menunjang keberhasilan budidaya bandeng ini. Dengan adanya kelembagaan yang kuat maka peluang dalam mendapatkan akses produksi, pasar dan permodalan akan semakin terbuka. “Dukungan dan kerjasama lintas sektoral seperti perbankan dan seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan agar program industrialisasi bandeng ini dapat terus berjalan dan berhasil. Karena tujuan akhir dari program ini adalah memberdayakan dan mengelola segenap potensi sumberdaya perikanan budidaya yang ada secara berkelanjutan, demi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tukas Slamet.

Bupati Kendal, Widya kandi Susanti, mangatakan bahwa Bandeng akan dijadikan ikon dari Kabupaten Kendal. “Bandeng dari Kendal terkenal karena tidak berbau lumpur dan lebih gurih, sehingga disukai oleh konsumen. Saat ini Bandeng dari Kendal telah dikirim ke beberapa wilayah di Jawa Tengah baik dalam bentuk olahan maupun segar. Maka dari itu, tidak salah kiranya kalau Bandeng menjadi salah satu ikon dari Kabupaten Kendal,” demikian dikatakan Widya.