Wujudkan Indonesia Dream

Sabtu, 12/10/2013

Yuswohady

Managing Partner Inventure

Wujudkan Indonesian Dream

Yang dibutuhkan Indonesia agar tumbuh dan berkembang menjadi negara besar, maju, dan kaya, ternyata tidak hanya tambang dan sumber daya alam lainnya. Sebaloiknya, modal utama itu adalah sikap optimisme dari masyarakat untuk memperbaiki status sosial dan ekonominya. Bagi pakar pemasaran Yuswohady, spirit yang luar biasa dari sifat optimisme tersebut dapat menjadi lokomotif yang bias menggerakkan ekonomi Indonesia.

“Orang-orang yang optimistis, akan menggunakan sebagian uang yang dimilikinya untuk diinvestasikan,” kata Yuswo, managing partner Investure. Menurut dia, salah satu cara untuk menginvestasikan uang yang dimilikinya adalah dengan membangun bisnis atau menjadi wirausahawan (entrepreneur).

Dampak dari investasi tersebut, kata mantan Chief Executive MarkPlus Institute of Marketing (MIM) ini, misalnya dengan membuat usaha, lalu usahanya mampu menyerap banyak tenaga kerja. Jika untung, gaji para pegawainya naik, output-nya juga tinggi, sehingga produk terus dibeli. Dengan demikian, ekonomi akan berputar.

“Karena itu, mulailah berbisnis dari sekarang,” ujar alumnus Teknik Mesin Fakultas Teknik UGM ini. Dia pun berkeyakinan, sektor UKM akan berkembang pesat. Yang menjadi penting kemudian adalah setiap usaha membutuhkan merek dagang. Saat ini, merek dagang sudah seperti jamur di musim hujan. Penggagas Indonesia Brands Forum (IBF) ini pun berharap, merek-merek nasional atau lokal punya peluang untuk bersaing dengan merek asing.

“Ini saatnya kebangkitan nasional kedua, yaitu kebangkitan merek Indonesia,” kata Yuswo lagi. Bersama para pemilik merek dagang lokal, Yuswo pun menggagas diadakannya IBF yang pertama pada Mei lalu. Dia pun diberi amanah menjadi direktur programnya. Menurut dia, dari IBF, akan muncul strategi bagaiman merek lokal mampu menandingi merek raksasa global dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Siapa saja para pemilik merek-merek lokal itu? Nama Yuswo pun berdiri sejajar dengan Dahlan Iskan, Irwan Hidayat, Martha Tilaar, Emirsyah Satar, Marti Wijaya, Dewi Muliaty, Svida Alisjahbana, David Marsudi, Samuel Pranata, dan seabreg nama tenar lainnya.

Kebebasan Finansial

Yuswo pun mengungkapkan, penduduk Amerika Serikat pernah mengalami fenomena yang disebut The American Dream. Fenomena yang sama juga pernah melanda masyarakat China, yang dikenal dengan sebutan The Chinese Dream. Karena itu, kata dia, saat inilah penduduk Indonesia juga telah terjangkiti virus the Indonesian Dream. “Indonesian Dream adalah sebuah mimpi yang dimiliki setiap orang dalam sebuah negara untuk bisa mendapatkan kebebasan finansial,” kata dia.

Baginya, bangsa ini maju dan menjadi negara besar jika jutaan rakyat kecil tekun bekerja, optimistis, berpikiran positif, produktif, berkarakter, dan bersih hati. Karena itu, dia meyakini benar, bahwa kini adalah saatnya terjadi revolusi kewirausahaan. “Revolusi ini terjadi karena Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah melampaui angka US$3.000 pada tahun 2010. Hal serupa telah lebih dulu dialami oleh negara Amerika, Cina, dan India. Bahkan, PDB Amerika telah melampaui angka US$3.000 sejak tahun 1920,” ujarnya.

Agar menjadi wirausaha andal, Yuswo pun menyatakan setiap orang jangan selamanya bergantung dan bekerja pada orang lain. Sebab, kata dia, semua orang bermimpi telah menjadi kaya dan sukses saat mereka menginjak usia tengah baya. “Bagaimana caranya? Dengan merintis usaha pribadi alias berwirausaha sedini mungkin,” tutur pria berkaca mata minus itu.

Perjalanan pria yang sudah meraih kebebasan finansial itu dimulai dari Mark Plus pimpinan Hermawan Kertajaya. Dua belas tahun lamanya Yuswo berkutat di sana dengan jabatan terakhir chief executive MarkPlus Institute of Marketing (MIM). Keluar dari Mark Plus, Yuswo pun mendirikan Inventure, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi dan pelatihan pemasaran. Dia juga mendirikan Center for Middle-Class Consumer Studies (CMCS), sebuah lembaga pemikiran mengenai konsumen kelas menengah di Indonesia.

Banyak perusahaan menjadi kliennya. Selain menjadi konsultan pemasaran, Yuswo atau akrab dipanggil Siwo itu juga produktif menulis buku seri pemasaran. Sebanyak 50 buku ditulis dan dieditori. Alumnus program S2 Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) ini memiliki tiga bidnag kompetensi, yaitu strategis bisnis dan pemasaran, strategi perusahaan (corporate strategy), dan budaya perusahaan (organizational behavior).

Dia juga aktif di Indonesia Marketing Association (IMA). Pernah menjadi sekjen IM pada 2005-2008. Bukunya yang berjudul ‘Memenangkan Persaingan di Era Krisis’ tercatat sebagai buku best seller oleh Gramedia pada 1998. “Saya juga aktif memberikan pelatihan dalam bentuk umum maupun in house traiuning di berbagai perusAhaan baik lokal, nasional, BUMN, maupun multinasional. (saksono)