Minimalkan Utang Luar Negeri

Menabung Dapat Menyelamatkan Ekonomi Negara

Sabtu, 12/10/2013

UTAMA

Pemerintah masih tergantung dengan pinjaman dari luar negeri dalam politik pembangunannya. Alhasil, untuk ukuran negara berkembang, jumlah utang luar negeri Indonesia tergolong tinggi. Untuk meminimalkan dampak tersebut, diperlukan peranan masyarakat dalam meningkatkan investasi sebagai sumber-sumber pembiayaan negara, yakni dengan menabung.

NERACA

Indonesia masih tergantung pada utang luar negeri dalam politik pembangunannya. Seberapa besar ketergantungannya tentu banyak faktor yang mempengaruhinya. Pastinya, untuk saat ini mengalirnya dana dari luar negeri merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi Indonesia untuk menginjeksi dana pembangunannya.

Menurut penelitian Lembaga swadaya Indonesia Budget Center (IBC), untuk membiayai pembangunan, pemerintahan terlalu tergantung pada pinjaman atau utang. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Alhasil, hingga kini, Indonesia “kaya” dengan utang. Ya, untuk ukuran negara berkembang, jumlah utang luar negeri pemerintah Indonesia tergolong tinggi.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pertumbuhan utang luar negeri Indonesia pada Juli 2013 mencapai 7,3% (yoy). Tercatat, Indonesia memiliki utang sebesar US$ 259,54 miliar atau setara Rp 2.983 triliun. Utang luar negeri Indonesia banyak didominasi utang jangka panjang yaitu sebanyak 82,3%. Sedangkan sisanya merupakan utang jangka pendek.

Terkait hal itu, demi meringankan beban utang negara Bank Indonesia (BI) terus mengajak seluruh masyarakat untuk menabung di bank. Pasalnya dengan menabung, kebiasaan “mengutang” RI kepada negara lain bisa dikurangi. Sehingga Indonesia tidak selamanya bergantung kepada negara lain lantaran terlalu banyak berhutang.

Dalam suatu kesempatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menuturkan, semakin meningkatnya jumlah tabungan masyarakat diperbankan juga akan membawa dampak positif bagi negara. Meningkatnya jumlah tabungan, secara tidak langsung dapat mengurangi utang luar negeri.

"Banyaknya tabungan juga akan meningkatkan investasi dengan begitu semakin banyak tersedia sumber-sumber pembiayaan. Hal itu secara bertahap bisa mengurangi utang luar negeri," kata SBY.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan budaya menabung di bank serta bertujuan memasyarakatkan gerakan gemar menabung, BI bersama industri perbankan nasional dan lebih dari 910 bank perkreditan rakyat telah meluncurkan TabunganKu. Program yang bertujuan untuk membiasakan masyarakat menabung itu mensyaratkan setoran awal yang sangat ringan, cuma Rp20.000 untuk bank umum dan Rp10.000 di BPR. Fitur-fitur TabunganKu antara lain bebas biaya administrasi bulanan, setoran tunai selanjutnya (minimum) Rp10.000, perhitungan bunga berdasarkan saldo harian dan tidak progresif.

Keuntungan dari TabunganKu ini bisa digunakan untuk transaksi sehari-hari. Namun meski bebas biaya administrasi, bank yang membesut TabunganKu ternyata menerapkan ketentuan berbeda dalam hal penarikan dana. Misalkan, Bank BNI mengenakan biaya Rp 1.000 pertransaksi jika dilakukan selam 3 kali berturut-turut selama sebulan. Sedangkan Bank Mandiri hanya mengizinkan penarikan maksimal Rp 100 ribu dengan bea Rp2.500 per penarikan.

Sejak diluncurkan pada Februari 2010, program TabunganKu mampu menggaet 4,7 juta rekening dengan total dana pihak ketiga yang dihimpun mencapai triliunan rupiah. Suksesnya produk tabungan untuk skala mikro ini diperbankan konvensional, membuat BI memperluas produk itu untuk diterapkan diperbankan syariah.

Direktur Komersial & Syariah Bank CIMB Niaga Handoyo Soebali mengatakan, Tabunganku memang merupakan tabungan yang dibuat BI. Setelah diterapkan di konvensional, selanjutnya diterapkan di syariah dengan saldo minimum lebih kecil dibanding produk tabungan dari bank lain. "Mungkin itu daya tarik bagi penabung syariah," tutur dia.

Produk baru Tabunganku Syariah disambut baik pelaku industri. Bank umum syariah dan unit usaha syariah menilai dapat memberikan efek berganda seperti pembiayaan. Pasalnya, mereka yang konsisten menabung tentu akan dilanjutkan melalui pemberian fasilitas pembiayaan untuk aktivitas usaha.

Tak hanya itu, produk Tabunganku Syariah ini menjadi daya tarik masyarakat. Sebab, dana pembukaan rekening terbilang rendah dan bebas biaya administrasi. Selain itu, produk Tabunganku Syariah juga dinilai dapat menyasar mereka yang belum terakses layanan. Tentunya, produk yang sesuai untuk menyasar masyarakat pelosok itu harus dipasarkan dengan langkah yang tepat, seperti melalui sekolah, komunitas, guru di pedalaman, hingga pesantren.

Sedangkan soal fitur dalam produk Tabunganku Syariah, perihal akad, bentuk kontrak tabungan ini sudah pasti akan menggunakan prinsip syariah. Skema pendanaannya pun menggunakan akad Wadiah atau bonus. Skema ini dinilai tepat untuk menyeimbangkan biaya operasional dari pemasaran produk simpanan itu.