Bumi Resources Lunasi Utang CIC Dengan Saham

Kamis, 10/10/2013

NERACA

Jakarta- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menandatangani perjanjian dengan China Investment Corporation (CIC) untuk menyelesaikan utangnya yang belum terbayar dalam jumlah pokok sebesar US$$ 1,3 miliar. Keduanya sepakat sebagian dari utang BUMI kepada CIC akan dibawarkan dengan sejumlah saham perseroan.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava mengatakan, sebagian dari jumlah yang masih terutang kepada CIC akan ditukar (swap) dengan kepemilikan saham BUMI sebesar 42% di dalam PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).Selain itu, BUMI juga akan menyerahkan 19% kepemilikan saham BUMI di PT Kaltim Prima Coal (KPC), Indocoal resources (Cayman) Ltd dan PT Indocoal Kaltim Resources. “Termasuk pengeluaran saham baru senilai US$150 juta di dalam BUMI,” ucapnya di Jakarta, Rabu (9/10).

Menurut dia, pinjaman dua tahap yang diterima BUMI dengan jumlah pokok gabungan sebesar US$ 1,3 miliar yang akan jatuh tempo pada akhir tahun 2014-2015 tersebut akan diselesaikan akhir tahun ini. Oleh karena itu, pihaknya akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mendapatkan persetujuan yang disyaratkan berdasarkan ketentuan perundangundangan yang berlaku.“Untuk jumlah sisanya, akan dikonversikan menjadi pinjaman untuk jangka waktu tiga tahun dengan suku bunga yang kompetitif di pasaran.” jelasnya.

Dengan adanya penyelesaian ini, sambung dia, diharapkan dapat membuka nilai dan mempercepat pertumbuhan aset sumber daya BUMI, memenuhi sasaran pengurangan utang, dan memperkuat struktur permodalan dan keuangan. Termasuk menangkap adanya peluang dan memungkinkan pendanaan masa depan yang menguntungkan.

Sekadar catatan, utang jangka panjang BUMI yang terbesar berasal dari Country Forest Limited (CFL) yang merupakan anak usaha China Investment Corporation (CIC). Dari total US$ 1,9 miliar utang, kini masih tersisa US$ 1,3 miliar. Sebesar US$ 600 juta akan jatuh tempo pada kuartal III tahun depan, dan senilai US$ 700 juta harus dibayar September 2015. Tercatat, perseroan harus membayarkan bunga dari pinjaman ini sebesar 12% per tahun yang harus dibayarkan setiap bulan. Sementara itu, sepanjang semester pertama tahun ini perseroan mencatatkan rugi bersih US$ 248,59 juta. Pendapatannya pun menyusut dari US$ 1,94 miliar menjadi US$ 1,85 miliar.

Lepas Aset

Diketahui, Bakrie tengah kesulitan pendanaan untuk penyelesaian pembelian kembali Bumi Resources. Ditambah kinerja perusahaan tambang yang juga tengah lesu. Akibatnya, beberapa perusahaan dalam grup Bakrie melepas asetnya untuk mendung pendanaan perusahaan dan menyiasati pembayaran utang. Sebut saja, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Perseroan sudah menjual tiga aset miliknya dengan raupan dana Rp 1,11 triliun. Dana ini sebagian digunakan untuk bayar utang dan investasi.

Sekretaris Perusahaan Bakrieland Kurniawati Budiman mengatakan, tiga aset yang dijual tersebut adalah lahan di Kelurahan Karet Setiabudi, Jakarta Selatan; PT Bakrie Toll Road (BTR); dan Lido Resort. Lahan di Kelurahan Karet Setiabudi, Jakarta Selatan, seluas 25.914 m2 itu dijual perseroan ke PT Sinar Mas Teladan dengan nilai sebesar Rp 823,4 miliar. "Penggunaan dana hasil penjualan lahan kami gunakan untuk penambahan penyertaan saham di MMS (Mutiara Mashyur Sejahtera)," katanya.

Sementara divestasi BTR menghasilkan dana Rp 140,5 miliar. Dananya digunakan untuk bayar utang dan biaya operasional. Sedangkan aset yang ketiga menghasilkan dana Rp 150 miliar yang juga akan dipakai untuk bayar utang dan biaya operasional. Selain itu, kata Kurniawati, anak usaha Grup Bakrie itu juga sedang berencana melepas 35% kepemilikan saham di PT Bukit Jonggol Asri (BJA). Menurut kabar yang beredar di pasar, PT Sentul City Tbk (BKSL) sudah melayangkan penawaran karena selama ini sudah memegang 65% saham di perusahaan tersebut. Sebanyak 35% saham BJA itu saat ini dikuasai PT graha Andrasentra Propertindo yang merupakan anak usaha Bakrieland. (lia)