"Perlu Kerja Keras Raih Target Ekspor Ikan"

MKP Terima Penghargaan dari Universitas Mahendradatta Bali

Kamis, 10/10/2013

NERACA

Gianyar – Di tengah pelemahan ekonomi global, tingginya nilai ekspor perikanan di Indonesia nampaknya boleh di acungi jempol. Pasalnya sampai Oktober ini, nilai ekspor hasil perikanan dalam negeri sudah mencapai US$ 4 miliar lebih. Berarti target ekspor 2013 yang mencapai US$ 5 miliar dapat tercapai.

Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP), Sharif C. Sutardjo, mengungkapkan untuk mencapai target ekspor tersebut tidaklah mudah. “Kita harus bekerja keras dan yang paling penting membangun jaringan dan dukungan dari para pelaku usaha, pemerintah daerah. Strategi diversifikasi pasar ekspor juga harus tetap dilakukan serta tetap mempertahankan dan meningkatkan kualitas hasil perikanan Indonesia ke pasar utama atau pasar produktif ekspor," jelas Sharif usai menerima penghargaan Jubileum Dies Natalis 50 Tahun Emas Universitas Mahendradatta di Sukarno Center Istana Mancawarna Tampaksiring, Gianyar, Bali, Rabu (9/10).

Lebih lanjut Sharif memaparkan saat ini pasar ekspor seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Uni Eropa yang nilai ekspor RI mencapai 63,19% tahun lalu, masih menjadi target utama. Untuk pasar prospektif lainnya yaitu Asia Tenggara dan Asia Timur menjadi prioritas berikutnya, di mana pada tahun 2012 nilai ekspor RI mencapai 25,93%.

"Sedangkan pasar potensial seperti Timur Tengah dan Afrika yang nilai ekspornya masih relatif kecil yaitu 5,49%, juga harus tetap dibangun. Kami yakin dengan saling bersinergi di antara semua stakeholder dapat mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan, untuk pencapaian target ekspor US$ 5 miliar,” kata dia.

Tingkatkan Produksi

Sedangkan memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor, imbuh Sharif, Indonesia harus mampu meningkatkan produksi perikanan nasional baik dari perikanan budidaya dan perikanan tangkap maupun di sisi hilir industri perikanan.

"Dalam upaya peningkatan produksi, pengolahan dan pemasaran, masih banyak tantangan dan kendala yang dihadapi. Di antaranya, seperti permodalan, listrik, logistik, sarana dan prasarana masih ada beberapa kekurangan. Dari sisi industri, masih diperlukan organisasi pelaku usaha yang kokoh dan solid. Untuk itu asosiasi dan komisi hasil perikanan memiliki peran yang sangat strategis dalam mewujudkan pasokan produk perikanan di dalam negeri dan ekspor,"jelas Sharif.

Dalam kesempatan yang sama, Sharif mengungkapkan penganugerahan medali Mahendradatta 2013 yang diterimanya mempunyai arti yang sangat penting. Medali Mahendradatta diberikan UNMAR kepada tokoh yang dinilai mempunyai kepedulian terhadap masyarakat (rakyat kecil), dunia pendidikan dan penelitian. Diantaranya, kepedulian pada peningkatan SDM khususnya dibidang kelautan dan perikanan.

“Penghargaan Mahendradatta menjadi pendorong saya beserta jajaran di Kementerian Kelautan dan Perikanan(KKP) untuk terus menerus dan konsisten mencurahkan segala daya dan upaya memperjuangkan nasib nelayanserta memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan untuk kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan dan pengolah hasil perikanan sebagaimana amanah Instruksi Presiden Nomor 15 Tahun 2011 tentang Perlindungan Nelayan.Wujud nyata dalam implementasi Blue Economy yang mempersyaratkan peran serta daninovasi masyarakat sebagai pilar utama,” kata dia.

Penganugerahan Medali Mahendradatta, merupakan agenda tahunan UNMAR yang diberikan kepada beberapa tokoh nasional termasuk diantaranya, pernah diberikan kepada Presiden Soekarno, atas jasanya mendukung pendirian universitas tertua di Bali ini.

"Universitas Mahendradatta memang sangat peduli dengan dunia penelitian, apalagi Unmar mempunyaiprestasi besar dalam bidang penelitian yakni sebagai satu–satunya PTS di Bali yang memiliki Jurnal Internasional dengan penulis dari 5 Negara. Didunia internasional, Unmar secara konsisten telah menyelenggarakan konferensi internasional sebagai syarat Penelitian World Class University, yakni penyelenggaraan ASEAN Academic Conference yang diikuti oleh 10 Negara dibawah payung ASEAN danSecond World Eco Safey Assembly (WESA) yang diikuti 90 Negara Anggota PBB," kata Sharif.

Sharif menjelaskan, kemampuan SDM menjadi sangat penting dalam rangka mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan yang menjadi program utama KKP. Apalagi, potensi kelautan dan perikanan Indonesia sangat besar. Bahkan sejak berabad-abad lalu, lautan Indonesia dan selat-selatnya merupakan alur transportasi internasional yang ramai, menghubungkan antara Benua Asia, pantai Barat Amerika dan Benua Eropa. Lautan Indonesia merupakan wilayah Marine Mega Biodiversity terbesar di dunia, memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang. Tiga lempeng tektonik bertemu di wilayah Nusantara, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia dan lempeng Pasifik secara bersamaan, keadaan ini merupakan prasyarat pembentukan sumberdaya mineral, minyak bumi dan gas bumi di darat maupun laut Indonesia. Potensi ini menunjukkan laut Indonesia pada dasarnya menyimpan berbagai sumberdaya alam yang dapat dijadikan modal dasar dalam rangka pembangunan nasional.

Menurut Sharif, potensi ekonomi di sektor kelautan, baik yang berhubungan dengan sumber daya alam dan pelayanan maritim nilainya mencapai lebih US$ 1,2 triliun per tahun. Pertumbuhan ekonomi kelautan juga sangat positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II 2013 sektor kelautan dan perikanan tumbuh 7% dibandingkan periode yang sama tahun 2012.