Industri Belum Perhatikan Keselamatan Kerja

NERACA

Jakarta - Pemerintah meminta agar industri memberi perhatian yang lebih maksimal terhadap kesehatan dan keselamatan kerja para pegawai baik di sebuah institusi maupun lokasi proyek. Pasalnya selama ini para perusahaan belum terlihat terlalu perduli akan hal itu. Akibatnya tragedi kecelakaan kerja masih sering terjadi.

“Saya melihat perkembangan perindustrian dan perekonomian Indonesia secara bersamaan turut memberikan lahan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Tetapi banyaknya serapan tenaga kerja di Indonesia masih belum dibarengi dengan kepedulian akan keselamatan dan kesehatan kerja. Sehingga tragedi kecelakaaan kerja sering terjadi,” kata Ketua Dewan K3 Nasional (DK3N) Waluyo, di Jakarta, (8/10).

Lanjut, Waluyo mengatakan setiap tahun tercatat lebih dari 99.000 kasus kecelakaan kerja. Bahkan 70% di antaranya berakibat kematian atau cacat seumur hidup. Hal ini menunjukan adanaya puluhan ribu keluarga telah kehilangan sumber nafkah dan anak-anak terpaksa kehilangan peran penting orangtua yang meninggal di tempat kerja.

“Seperti yang tertulis pada data ILO, setiap tahun kita menderita kerugian sebesar 4% atau Rp 280 triliun dari kurang lebih Rp 7.000 triliun Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia akibat kecelakaan kerja. Namun penanganan, kesadaran maupun perilaku terhadap K3 masih sangat lemah. Ini harus diperbaiki,” ungkap Waluyo.

Untuk itu Waluyo mengaku kedepannya DK3N akan lebih mensosialisasikan K3 kepada masyarakat luas dengan menjadikan K3 ini sebagai gaya hidup. Dengan mempraktikkan K3 di manapun dan kapanpun akan terlihat peningkatan kualitas dan kinerja seseorang baik sebagai pekerja maupun sebagai individu. “Kesehatan dan Keselamatan Kerja tidak hanya penting untuk diterapkan di tempat kerja yang memiliki faktor risiko tinggi seperti pertambangan, konstruksi dan lain-lain tetapi juga harus diterapkan di seluruh sektor industri bahkan di lingkungan rumah tinggal,” ujar Ketua Dewan K3 Nasional, Waluyo.

Pada kesempatan yang sama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar menyatakan APOSHO merupakan ajang untuk meningkatkan kerjasama dan kemampuan dalam pelatihan dan penelitian, pertukaran informasi, berbagi pengalaman dalam keahlian, dan harmonisasi standar dan pedoman keselamatan dan kesehatan kerja. Harapannya dapat diminimalkan hambatan teknis di antara negara anggota APOSHO. “Oleh karena itu, saya berharap pertemuan dan konferensi tahunan ini akan berhasil dan bermanfaat untuk berkontribusi dan meningkatkan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja di Wilayah Asia Pasifik,” ucapnya.

Sementara itu, President Institution of Occupational Safety and Health (IOSH) Gerard Hand mengatakan ancaman kecelakaan di tempat kerja di negara berkembang seperti Indonesia masih sangat tinggi. “Kita harus bekerja bersama untuk mengurangi tingkat kecelakaan, gangguan kesehatan, dan kematian akibat kerja, khususnya di industri-industri beresiko tinggi seperti konstruksi dan manufaktur,” ucapnya.

IOSH adalah organisasi resmi untuk para profesional dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja terbesar di dunia, dengan anggota 42.000 orang yang tersebar di 100 negara.

IOSH menetapkan berbagai standar, memberikan dukungan, mengembangkan pengetahuan dan menghubungkan para anggota dengan berbagai sumber pengetahuan, pedoman, menyelenggarakan berbahai acara dan pelatihan. Kami mewakili suara para profesional kesehatan dan keselamatan kerja, dan mengkampanyekan berbagai isu yang mempengaruhi jutaan pekerja. IOSH didirikan pada tahun 1945 dan merupakan yayasan terdaftar dengan status LSM internasional.

Menurut dia, pengetahuan dan kecakapan para majikan sangat penting untuk memastikan kesehatan dan keselamatan para pekerja,sebagai yang paling utama dan tidak dapat ditawar-tawar. “Hal ini tidak saja menyelamatkan nyawa manusia, tetapi juga menjadikan bisnis lebih efisien,” katanya.

Menurut dia, Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N) bekerja sangat baik, meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan dan keselamatan kerja di kawasan Asia Pasifik “Mari kita semua berharap melalui kegiatan ini dapat dicapai berbagai kemajuan dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja khususnya di Indonesia dan pada umumnya di kawasan Asia Pasifik,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Saat Obligasi Pemerintah Mengancam Industri Perbankan

  Oleh: Djony Edward Langgam pengaturan bunga di industri keuangan belakangan sedikit tercoreng, terutama dengan gencarnya penerbitan Surat Utang Negara…

PTPP Optimis Capai Arus Kas Operasi Positif - Persaingan Industri Konstruksi Sengit

NERACA Jakarta – PT PP (Persero) Tbk (PTPP), perusahaan konstruksi dan investasi terkemuka di Indonesia memperkirakan arus kas operasi positif…

Kadin: Tak Mungkin Terulang Krisis 1998-2008 - PROSPEK PERTUMBUHAN INDUSTRI DAN SEKTOR PERKEBUNAN

Jakarta-Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan sikap optimistis krisis ekonomi 1998 dan 2008 atau…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Indonesia-Tanzania Tingkatkan Relasi Perdagangan

NERACA Jakarta – Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede melakukan pertemuan dengan Presiden Zanzibar Ali Mohamed Shein pada Jumat (24/11)…

Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (Bapok) menghadapi Hari Besar Keagamaam Nasional…

Dunia Usaha - HIMKI Tentang Wacana Dibukanya Kran Ekspor Log dan Bahan Baku Rotan

NERACA Jakarta - Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto mengatakan sampai saat ini masih ada pihak-pihak yang…