500 Perusahaan Berpeluang Listing di Bursa

NERACA

Jakarta – Indonesia kawasan timur, khususnya Sulawesi Selatan menjadi peluang dan potensi besar bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menggarap banyak perusahaan untuk segera melantai di bursa efek, disamping membidik investor lokal berinvestasi di pasar modal.

Kepala Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Makassar Fahmin Amirullah mengatakan, berdasarkan data Badan Koordinasi dan Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel, terdapat 500 perusahaan asli daerah yang berpotensi untuk menjadi perusahaan public, “Kami sudah me-list ada 500 perusahaan asli Sulsel yang potensial untuk IPO, baik dari sektor perkebunan, konsumer, maupun industri. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada satu pun perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di papan bursa karena masih awam dengan pasar modal,” ungkapnya kemarin.

Disebutkan, mereka yang berpotensi untuk IPO adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki asset yang cukup besar dan pertumbuhan perusahaan terus meningkat. Sebagai syarat untuk melantai di bursa, sebuah perusahaan setindaknya memiliki net tangible assets (asset terukur) senilai Rp5 miliar.

Selain itu, kata dia, keengganan perusahaan untuk IPO dipicu karena perusahaan di Sulsel pada umumnya adalah perusahaan kelurga yang sangat tertutup mengenai arus informasi perusahaan.

Padahal jika mereka melantai di bursa, banyak keuntungan yang bisa diperoleh. Di antarnya image perusahaan akan terangkat. Karena indikasi sehat tidaknya sebuah perusahaan juga dapat terlihat dari pergerakan saham di lantai bursa.

Keuntungan lain, jelas dia, perusahaan akan jauh lebih mudah mendapatkan tambahan modal dalam jumlah besar dibanding kredit perbankan serta lebih mudah mengundang investor asing.“Kalau perusahaan keluarga, kadang ada anggota keluarga yang belum sepakat untuk go public. Jadi masih terbentur masalah itu, selain persoalan perpajakan. Tapi kami akan bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengadakan business meeting mengundang direksi perusahaan-perusahaan ini,”jelasnya.

Sampai saat ini, baru dua perusahaan yang melantai di Bursa yakni Gowa Makassar Trade Developmnet (GMTD) dan PT Vale Indonesia. Sebelumnya Kalla Group dikabarkan akan melepas sejumlah anak perusahaan ke lantai bursa, dengan mengincar perolehan dana Rp500 miliar dari IPO.

Sekretaris perusahaan Kalla Group, Andi Asmir mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan konsolidasi untuk menentukan waktu penerbitan perdana saham-saham tersebut. Dari berbagai bidang bisnis Kalla Group, akan ada dua perusahaan yang dipersiapkan untuk IPO terlebih dulu.

Kedua perusahaan itu adalah PT Haka Sarana Investama yang merupakan induk dari sejumlah perusahaan properti milik Kalla Group serta PT Bumi Sarana Utama yang merupakan perusahaan holding daru divisi usaha konstruksi."Haka sarana memiliki 5 anak usaha dan Bumi Sarana menaungi empat perusahaan konstruksi. Selain berperan sebagai produsen beton dan aspal, Bumi sarana juga mengelola proyek pembangunan jalan," ungkapnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Pemkot Depok Buka Bursa Modal Bagi Koperasi

Pemkot Depok Buka Bursa Modal Bagi Koperasi NERACA Depok - Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok Jawa Barat…

Cari Modal di Bursa - Sentra Food Lepas 250 Juta Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Mendanai ekspansi bisnisnya, PT Sentra Food Indonesia Tbk akan mencari pendanaan di pasar modal lewat penawaran umum…

DataOn Bentuk Perusahaan Baru GreatDay HR

      NERACA   Jakarta - DataOn (PT. Indodev Niaga Internet) meresmikan GreatDay HR sebagai brand baru untuk solusi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…