Penuhi Target, Batavia Terbitkan Produk Baru

Bidik Dana Kelola Rp 15 Triliun

Kamis, 10/10/2013

NERACA

Jakarta- Meski volatilitas pasar masih tinggi, tidak menyurutkan minat PT Batavia Prosperindo Asset Management (BPAM) untuk menerbitkan enam produk reksa dana baru di dua bulan terakhir tahun ini. Dengan penerbitan produk reksa dana baru tersebut, diharapkan dapat berkontribusi terhadap target dana kelola akhir tahun yang diharapkan dapat mencapai Rp14,5 triliun-Rp15 triliun. “Rencana ada enam produk baru dengan beberapa mitra, antara lain reksa dana pasar uang, campuran, dua reksa dana pendapatan tetap, dan dua reksa dana terproteksi.” kata Direktur Utama BPAM, Lilis Setiadi di Jakarta, Rabu (9/10).

Menurut dia, penerbitan produk reksa dana tersebut antara lain dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kliennya dari klien institusi dan dana pensiun. Oleh karena itu, dia optimistis untuk penerbitan keenam produk reksa dana tersebut dapat menyumbang dana kelola sekitar Rp1,5 triliun terhadap total dana kelola akhir tahun ini. “Dua proteksi kita targetkan Rp200 miliar-Rp250 miliar, pendapatan tetap Rp1 triliun, campuran Rp100-150 miliar, dan pasar uang sekitar itu (Rp100-Rp150 miliar).” ucapnya.

Selain telah mencatatkan permintaan, sambung dia, di tengah kondisi yang tidak kondusif saat ini, pihaknya juga melakukan kebijakan investasi secara teliti dan dinamis. Untuk reksa dana campuran misalnya, pihaknya menempatkan sekitar 40% hingga 70% dana kelolaan di instrumen saham, sedang sisanya di pasar uang. Saham-saham yang akan dipilih menjadi andalan antara lain, saham sektor infrastruktur, properti, telekomunikasi, bank, dan konsumer.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga menghindari emiten yang memiliki eksposur tinggi terhadap kurs dolar Amerika Serikat (AS), dan memperhatikan likuiditas pasar dari masing-masing emiten. “Jika likuiditasnya semakin mengecil, maka secara perlahan kita akan mengurangi eksposur di emiten yang bersangkutan.” ujarnya.

Sementara untuk produk reksadana pendapatan tetap, pihaknya akan menggunakan obligasi pemerintah yang bertenor lebih dari 10 tahun sebagai aset dasar mayoritas. Sedangkan sisanya, ditempatkan pada obligasi korporasi bertenor tiga hingga tujuh tahun. Dia memproyeksikan, kondisi pasar obligasi akan membaik dalam beberapa waktu mendatang. “Sebagai cerminan awal, dana asing yang masuk dari akhir Agustus hingga akhir September mencapai Rp 10 triliun,” jelasnya.

Adapun untuk reksa dana pasar uang yang akan dirilis akhir tahun ini, kata dia, sepenuhnya akan ditempatkan pada deposito perbankan. Penempatan dana 100% pada deposito tersebut dilakukan dengan pertimbangan karakteristik deposito yang memiliki return lebih stabil. Selain itu, dari sisi likuiditas pun, produk ini lebih likuid karena bisa ditarik sewaktu-waktu.

Dia meyakinkan, dibanding menempatkan dana pada deposito secara langsung, melalui produk reksa dana pasar uang, investor dapat memperoleh return maksimal. “Dengan posisi BI Rate ada di level 7,25%, investor bisa memperoleh return sekitar 6%-6,5% per tahun di produk reksadana pasar uang karena untuk penempatannya kita diversifikasikan.” imbuhnya. (lia)