Investasi PLN di 2013 Capai Rp60 Triliun

Industri Listrik

Kamis, 10/10/2013

NERACA

Jakarta – Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji mengungkapkan bahwa pihaknya menganggarkan sekitar Rp50-60 triliun untuk investasi di 2013. Ia mengatakan dana tersebut berasal dari APBN, pembiayaan PLN dan juga pinjaman dari pihak ketiga. “Kira-kira Rp50-an sampai Rp60-an Triliun. Itu dari APBN, pembiayaan kami dan pinjaman,” kata Nur di Jakarta, Rabu (9/10).

Menurut dia, saat inin ada 3 prioritas yang sedang digenjot yaitu sisi pembangkitan, transmisi dan juga distribusi. Untuk besaran prioritasnya, Nur menjelaskan perbandingannya kurang lebih 3:2:1. “Tiga untuk pembangkitan, dua untuk transmisi dan 1 untuk distribusi,” terang Nur.

Terkait sumber investasi, pinjaman, Nur menuturkan pihaknya masih akan mempertimbangkan pinjaman dari pihak bank dan local bond. Pasalnya, tingkat bunga kedua sumber dana tersebut masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Nur juga menyatakan pihaknya merencanakan investasi sebesar Rp64,9 Triliun. Dari jumlah itu terlihat peningkatan sekitar 28,26% dari realisasi investasi 2012 yang mencapai Rp50,6 Triliun.

Salah satu realisasi dari dana investasi tersebut adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dinamakan dengan PLTU Merah Putih di beberapa wilayah. Nur mengatakan, pihaknya akan membangun 15 tempat PLTU di seluruh Indonesia. “Sekarang sedang berjalan tiga lokasi. Semuanya bertegangan maksimum 3 megawatt (mw),” ungkap Nur.

Nur menjelaskan, untuk pengadaan turbin PLN bekerja sama dengan PT Siemens Industrial Power yang berlokasi di Bandung. Sedangkan untuk pengadaan generator, PLN bekerja sama dengan PT Pindad (Persero). “Untuk lama pembangunannya kira-kira memakan waktu dua tahun. Jadi kira-kira di akhir 2015 sudah jadi,” tambah Nur.

PLTU Merah Putih sendiri, tutur dia, merupakan proyek pembangunan PLTU di tingkatan lokal dengan menggunakan peralatan dan bahan material buatan dalam negeri yang diproduksi langsung oleh tenaga ahli dan terampil Indonesia.

Sebelumnya, General Manajer PT PLN Distribusi Jawa Barat-Banten (DJBB), Denny Pranoto mengatakan besarnya investasi itu merupakan angka rata-rata investasi PLN setiap tahunnya. “Peruntukannya bagi pengembangan kelistrikan di Indonesia, termasuk Jabar,” kata Denny. Denny menyatakan, investasi bernilai besar itu, harapannya mendongkrak rasio elektrifikasi. Saat ini, persentase elektrifikasi di Jabar belum menyeluruh. Secara persentase angka elektrifiasi di Jabar-Banten mencapai 76%.

Sejauh ini, kalangan masyarakat yang belum terelektrifikasi, sebanyak 24% berlokasi di daerah pelosok dan pergunungan. Meski demikkian, pihanya mencanangkan dalam lima tahun mendatang atau 2018, tingkat elektrifikkasi mencapai 100%.

Elektrifikasi Rendah

Ditengah besarnya dana yang dikeluarkan untuk investasi di bidang kelistrikan, namun masih banyak daerah yang belum teraliri listrik dengan baik. Berdasarkan data, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua adalah wilayah yang paling rendah rasio elektrifikasi. Memang tingkat rasio elektrifikasi di seluruh wilayah Indonesia memang mencapai 73,1%. Tingkat elektrifikasi terendah berada di Papua hingga 33,1%. Provinsi dengan terendah kedua antara lain NTT dengan 53,2%. Disususl NTB 53,3% dan Kalimantan Tengah dengan 56,6%.

PLN menargetkan kenaikan penggunaan sumber energi primer EBT dari 12% menjadi 20% pada tahun 2021. Hal ini, demi menjaga ketahanan dan keamanan pasokan energi yang saat ini masih didominasi oleh bahan bakar fosil yang diperkirakan akan habis dalam beberapa puluh tahun mendatang.

Saat ini pembangkit listrik PLN di Indonesia terdiri dari 86,3% pembangkit non EBT dan 13,7% pembangkit EBT. Dari sisi sumber energi primer, pengunaan bahan bakar fosil masih dominan sebanyak 88% yang terdiri dari 44% batu bara, 23% bahan bakar minyak (BBM), dan 21% gas alam. Porsi energi primer dari EBT masih sebesar 12% saja. Pengembangan EBT dengan total 13 ribu MW ini, diperkirakan memerlukan biaya investasi sebesar US$ 77,3 milyar. Demikian besarnya kapasitas yang harus dibangun dengan biaya investasi yang tidak kalah besar, diharapkan sebanyak 47% dari total kapasitas ini dikerjakan oleh pihak swasta. Hal ini karena keterbatasan sumber dana investasi PLN.