"Kebersamaan Adalah Emas"

Ana Lumintang, Brand Manager Bebelac

Sabtu, 12/10/2013

Bagi sebagian orang yang tidak mendalami maknanya, mungkin judul di atas hanyalah sekedar ungkapan yang terdengar klise, tetapi tidak demikian buat Ana Lumintang, Brand Manager Bebelac. Bagi dia, kebersamaan lah yang mampu membuatnya sukses merengkuh jenjang karir dan kehidupan rumahtangga.

Padahal, ketika memulai karir dimulainya dari level bawah, saat itu dia hanya mengisi posisi admin di perusahaannya. Tetapi, karena selalu berprestasi, utamanya karena memgang teguh prinsip kebersamaan, ia kemudian dipromosikan ke level yang lebih tinggi, kini ia dipercaya menjabat brand manager di perusahaannya.

“Prinsip hidup saya ya seperti itu, pokoknya kebersamaan, makanya saya sangat menyenangi sistem kerja teamwork. Prisnsip ini pula yang membuat kehidupan keluarga saya berjalan dengan baik,” kata Ana.

Walaupun kini dia menjabat brand manager di sebuah perusahaan ternama, tetapi dia tak pernah mau melupakan kodratnya sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya. Intinya, meski waktu banyak dihabiskan untuk bekerja, anak-anaknya tak pernah terlantar, bahkan anak-anaknya mampu menjadi pribadi yang mandiri.

Karena, dia punya solusi tepat untuk menyiasatinya, yakni dengan menyediakan quality time untuk anak-anaknya. Sehingga kesibukan yang ada tak sempat menyita waktu dia bersama keluarga khsusunya dengan anak-anaknya.

“Kebersamaan adalah emas, saya sangat senang jika punya banyak waktu untuk anak-anak. Walaupun kesibukan cukup menyita waktu, saya selalu mengupayakan untuk menyediakan waktu yang berkualitas untuk keluarga,” sebut ibu yang kini tengah hamil anak ketiga.

Karena itu, dia dan suami lebih memilih mengantarkan anak-anaknya ke sekolah sendiri tanpa memanfaatkan fasilitas antar jemput yang disediakan sekolah. Tujuannya, hanya satau, dia ingin memanfaatkan waktu yang sedikit untuk berbagi dengan keluarga kecilnya.

Walaupun kebersamaannya dengan anak-anak 15 menit, kata Ana, tetapi kebersamaan tersebut memiliki kualitas maka kebersamaan itu akan jadi emas, tetapi kalau sibuk dengan gadget masing-masing, ya kebersamaan yang ada tidak akan berkualitas.

“Kita kalau berangkat gak pernah sendiri-sendiri, kita selalu pakai satu mobil, saya selalu menunggu mereka masuk kelas terlebih dahulu, setelah itu baru saya berangkat ke kantor, dari kecil mereka sudah saya antar, dan selama di jalan kita kan ngobrol, di situlah waktu berkualitas saya dengan anak-anak,” sebut dia.

Memang, kalau ada tugas luar kota protes kerap kali terlontar dari mulut anak-anaknya, tetapi yang jelas jika ada di rumah, urusan mengerjakan tugas sekolah, anak-anaknya tidak pernah sendirian, karena Ana selalu menyempatkan menemani anak-anak.

Urusan kebersamaan ini sedikit banyak dipelajari Ana dari kedua orangtuanya, maklum keluarganya merupakan keluarga pekerja, yang mana kondisinya dulu serupa dengan kondisi saat ini. Bedanya hanya, dulu dia yang menjadi anak dan kini dia menjadi orangtua.

“Orangtua saya pekerja, tetapi mereka tak pernah melupakan akan keberadaan saya. Makanya, salah kalau ada yang mengatakan jika kedua orangtua bekerja anak-anak mereka akan terlantar, itu kan tergantung bagaimana sikap orangtuanya,” ujar dia.

Meski demikian, dia memimpikan untuk menjadi ibu rumahtangga yang selalu siap sedia untuk keluarganya. Maklum, hingga kini dia masih berkarir, total selama 13 tahun lamanya dia bekerja. Kontan saja, ada hal-hal yang terlewati tentang anak-anaknya.

“Yang jelas saya memimpikan untuk menjadi ibu rumahtangga, makanya saya ada rencana untuk pensiun dari pekerjaan dan fokus untuk mengurusi anak-anak. Tetapi kalau ditanya kapan, saya belum bisa jawab, pokoknya cepat atau lambat saya ingin fokus mengurus keluarga,” tegasnya.

Persaingan Industri Susu

Persaingan industri susu, semakin hari semakin ketat. Khususnya untuk segmen persaingan susu anak, kata Ana, kalau hanya sekedar melakukan branding sebuah perusahaan tidak akan bertahan menghadapi kerasnya persaingan usaha. Karena itu diperlukan inovasi-inovasi baru agar bisa menjadi yang nomor satu.

“Persaingan akan selalu ada, kalau soal branding semua perusahaan sudah melakukannya, saya rasa agar memiliki nilai tambah diperlukan inovasi-inovasi yang lain dari kompetitor, kalau tidak jangan harap akan bertahan di usaha ini,” beber dia.

Inovasi yang dimaksud Ana adalah bagaimana agar produk dan perusahaan memiliki nilai tambah di mata konsumennya. Karena itu, Ana dan team justru ingin membangun ikatan dengan konsumen yang merupakan ibu agar produk yang dipilihnya lebih menarik dan berbeda dari perusahaan lain.

“Dalam hal ini kita buka care line setiap hari selama 24 jam, sehingga para ibu bisa berkomunikasi dengan kami. Hal ini belum dilakukan perusahaan lain, khsusnya untuk perusahaan susu yah. kalau rokok, telekomunikasi mungkin bukan hal aneh, tetapi kalau perusahaan susu ini yang pertama,” tutup dia.