Mahkamah Korupsi vs Ketidakadilan

Jumat, 11/10/2013

Ketika mendengar Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terus terang perasaan kita dan masyarakat sangat kecewa. Pasalnya, MK yang selama ini dikenal lembaga hukum tertinggi di negeri ini yang putusannya dianggap final, akhirnya sekarang banyak diplesetkan menjadi Mahkamah Korupsi, dimana banyak pihak bersengketa siap menggelontorkan uang haram buat para hakim yang duduk di sana.

Kita tentu sangat maklum betapa kecewanya Prof Dr Jimmly Ashidiqie dan Prof Dr Mahfud MD, yang keduanya pernah menjadi Ketua MK sebelumnya. Sehingga tak pelak mereka berkomentar sangat keras yaitu Jaksa KPK supaya mengajukan tuntutan tertinggi berupa hukuman mati buat Akil.

Akil tampaknya memiliki rasa prihatin di tengah bangsa Indonesia sedang mengalami kedukaan terberat menghadapi godaan korupsi di semua lini, eh, malah benteng hukum terakhir yang paling diandalkan untuk membuat bangsa ini lebih tertib dan adil, ternyata tidak steril dari jerat korupsi. Kebanggaan diri karena prestasi yang dihasilkan dari kompetensi pribadi ternyata tidak layak ditonjolkan pada saat masyarakat lebih menghargai atribut-atribut materialisme.

Jelas, runtuhnya kewibawaan MK akhirnya membuat hampir seluruh aktivitas kehidupan kita dimaknai secara ekonomi, kini sulit menemukan ketulusan dalam pelayanan. Ke mana pun Anda pergi, apabila ingin mendapat pelayanan baik, hasil yang diharapkan maka Anda tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan diri tetapi juga kemampuan untuk memberi uang.

Dalam situasi sekarang, para pencari keadilan saat ini tidak cukup untuk mengatakan kepada aparat bahwa ini sudah menjadi tugas Anda sebagai aparat yang digaji dengan uang rakyat. Senyuman mereka terlihat minim sebagai bentuk cibiran karena Anda tidak mau mengerti dalam hal urusan material.

Seseorang harus menjadi kaya kalau ingin dihormati atau pun dipuji, rasanya hidup menjadi bermakna saat kita memiliki banyak atribut kompetensi yang mencirikan bahwa kita berhasil sebagai manusia unggul, yaitu satunya pikiran, kata dan perbuatan. Namun yang terjadi, nafsu serakah mencari harta menjadi daya tarik yang lebih kuat ketimbang kompetensi diri yang sudah dimilikinya sebelumnya. Seharusnya rasa syukur yang perlu kita sampaikan kepada Sang Khalik atas berkat dan perlindungannya.

Hal itu membuat hati kita menjadi tidak peka, mata sulit terbuka dengan lingkungan, pendengaran ditulikan sehingga berita, hujatan dan kehancuran koruptor, yang dulu pejabat dimulyakan, yang dipertontonkan media cetak dan visual tidak mengurungkan koruptor-koruptor lain untuk bertobat. Karena, mereka telah menjadi bagian dari seorang Qorun, yang memupuk harta dan terkubur hartanya sendiri.

Seperti dikatakan Allah SWTdalam firman-Nya, ‘’Saat engkau diberi harta berlimpah sebenarnya itu ujian’’. Dengan demikian bila kita ingin lulus ujian, jalani proses dengan benar, mempersiapkan diri dengan baik, rajin berlatih, dan selalu berdoa supaya Tuhan selalu meringankan perjuangan. Jangan sekali pun Anda menyontek karena berarti tidak memanfaatkan akal yang diberikan oleh Tuhan sesuai perintah-Nya.

Korupsi berarti sama dengan menyontek, Anda mendapat nikmat tanpa harus bekerja keras, Anda mendapat pengembalian yang jauh lebih besar tidak seimbang dengan apa yang Anda lakukan. Korupsi sama saja dengan membantu menumbuhkan ketidakadilan, memperlebar kesenjangan, dan menghambat pengentasan masyarakat dari kemiskinan.

Mari kita yakini generasi penerus Indonesia masa depan adalah kelompok orang Indonesia yang bersih dari korupsi, bisa menjadi teladan bagi bangsa lain. Langkah KPK memberantas korupsi harus mendorong seluruh elemen bangsa ini memurnikan atau memperkuat jati diri kebangsaan menuju bangsa yang adil dan beradab serta berketuhanan. Semoga!