BI Galakkan Program Ayo Menabung

Sabtu, 12/10/2013

NERACA

Bank Indonesia (BI) mendata, masyarakat Indonesia yang belum tersentuh bank (unbankable) mencapai 50 juta jiwa. Karenanya, BI berencana kembali mengintensifkan kembali program Tabunganku pada masyarakat kelas bawah.

"Kita akan galakkan lagi 'Sambut Hari Depan terencana Ayo Menabung', yang merupakan kesinambungan program Gerakan Indonesia menabung yang sudah pernah dilakukan sejak dua tahun lalu lewat Tabunganku," demikian diungkapkan Deputi Gubernur BI, Mirza Adityaswara.

Mirza melanjutkan, BI berencana menggandeng perbankan-perbankan nasional untuk membuat masyarakat merasa dekat dengan lembaga-lembaga keuangan. Karenanya, BI membuat sebuahworking groupyang tergabung dalam edukasi perbankan.

"Karena kalau dilihat rasio menabung terhadap Pertumbuhan Domestik Bruto (Gross Domestik Product/GDP) di kita masih rendah. Kalau kita bisa meningkatkan akses mereka ke lembaga keuangan, nanti diharapkan akses kredit juga akan meningkat," lanjutnya.

Selain mengintensifkan gerakan ayo menabung, BI sebagai regulator juga akan mengefisiensikan kebijakan keuangan lain yang sejalan dengan gerakan ayo menabung ini. "Jadi bank selama ini belum masuk ke sektor-sektor tertentu itu bisa dikarenakan pengetahuan bank masih sedikit tentang bisnis itu, makanya kita biasa menjembatani antara perbankan dengan pelaku usaha.

"Selain itu, Kita juga dukungbranchlessbanking bagi mereka yang kesulitan akses perbankan maupun secara regulasi," ujarnya.

Kurang Kesadaran

Yang melatarbelakangi kampanye tersebut, karena pada kenyataannya, masyarakat kita tergolong boros. Porsi belanja mereka nyaris sama dengan pendapatan. Kombinasi inilah yang membawa BI gencar mengkampanyekan program 'Ayo Menabung'.

Harus diakui bahwa bangsa kita tidak termasuk bangsa yang cukup familiar dengan perbankan dan lembaga keuangan. Mungkin 50 % yang pernah berurusan dengan lembaga keuangan formal. "Kalau diukur seberapa boros masyarakat di suatu negara, adalah total konsumsi dibagi pendapatan nasional. Diukur seperti apapun, kesimpulannya adalah bahwa masyarakat kita boros," katanya.

Untuk itulah budaya menabung harus ditingkatkan. Program ini, lebih besar dari financial inclusion.

"Bukan hanya nasional. Kita memasukkan program itu di kancah pertemuan dunia. Intinya untuk merangkul dan meyakinkan, memotivasi seluruh masyarakat agar mengetahui keuangan," ujarnya.

Jika diukur dari rasio kredit terhadap pendapatan per kapita, Indonesia jadi salah satu negara dengan skor terendah. Kita termasuk yang paling rendah. Jika dibagi itu kira-kira 30%. Di Malaysia 110%, Thailand 110%, China 140%. Padahal jika masyarakat ingin berinvestasi, perlu tabungan. Kalau tabungan tidak cukup, bagaimana mau investasi? Bagaimana ingin meningkatkan ekonomi?

"Kita ingin perkembangan ekonomi tinggi, maka investasi harus besar. Tapi tabungan tidak cukup. Yang dilakukan adalah pinjam ke masyarakat atau luar negeri. Menariknya adalah masyarakat kita tidak suka kalau pinjam ke luar negeri. Padahal pinjam itu terpaksa, karena tidak cukup tabungannya," imbuhnya.