Industri Batubara Terancam Stagnan - AKIBAT TINGKAT KONSUMSI RENDAH

Jakarta – Indonesia menjadi negara produsen batubara terbesar, ternyata belum memberikan berkah bagi industri pertambangan dalam negeri. Pasalnya, kebutuhan jenis batubara yang dihasilkan oleh produsen lokal belum memenuhi permintaan jenis batubara industri, sehingga membuat konsumsi batubara dalam negeri terbilang kecil sekitar 70 juta ton per tahun, ketimbang tingkat produksinya yang sangat besar hingga 400 juta ton per tahun.

NERACA

Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu mengatakan, masih rendahnya konsumi batubara dalam negeri karena belum memenuhi kebutuhan jenis batu bara dalam negeri, disamping kacaunya birokrasi, “Kita ingin jual ke dalam negeri sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan domestik. Masalahnya hasil produksi batubara kita itu kualitasnya antara 4.200 GAR hingga 7.000 GAR ke atas. Sedangkan industri dalam negeri kita minta yang berkualitas 3.000 GAR hingga 5.000 GAR. Jadi ya tidak ketemu suplay dan demand-nya,”keluhnya di Jakarta, Selasa (8/10).

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi pemicu produksi batubara dalam negeri selama ini cenderung untuk ekspor. Pasalnya telah terjadi over suplai di mana hasil produksi per tahun rata-rata bisa mencapai 400 juta ton. Sedangkan permintaan industri di dalam negeri hanya mencapai 70 juta ton.

Dampak over suplai tersebut, harga batubara kian anjlok bahkan sempat mencapai US$80 per ton.“Sampai akhir tahun ini kita masih gusar mengenai harga. Kita akan usahakan hingga akhir tahun bisa konsisten di rata-rata paling tingg US$90 per ton. Untuk itu kita perlu mempersiapkan strategi ketika harga permintaan mulai membaik apa yang bisa kita lakukan,” terang Bob.

Untuk menjual dengan harga yang lebih tinggi dari itu pun sulit. Sebab masyarakat dunia tengah dilanda krisis global. Oleh karena itu, Bob meminta para pemangku kepentingan harus mampu menahan ekspor terlebih dahulu. Karena kalau penjualan tujuan ekspor disuplai terus akan menuai rugi dalam jangka panjang. Pasalnya jika menjual dalam volume besar-besaran untuk saat ini harganya tidak maksimal. Sedangkan lambat laun cadangan batubara akan habis juga.

Kemudian Bob menjelaskan harapan para produsen batubara untuk menjual hasil produksinya kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun bisa dibilang masih sulit. Alasannya, selama ini PLN untuk memenuhi kebutuhan produksinya sudah memakan biaya hingga US$60 miliar. Padahal itu pun baru memenuhi 75% kebutuhannya.

Dia menilai hal tersebut merupakan pertanda buruk bagi industri tambang batubara. Karena pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada suplai listrik. “Perlu diketahui hambatan penjualan batubara untuk dalam negeri juga disebabkan oleh pihak ketiga. Perilaku aparat daerah, sulitnya pembebasan lahan, dan repotnya izin pembayaran. Itu semua juga membuat industri turut meninimalisir konsumsi batubaranya,” ungkap Bob.

Lebih jauh dia mengakui sebetulnya selama ini para produsen batubara sudah dapat perhatian dari beberapa kementerian. Misalnya Kementrian Lingkungan Hidup yang sudah membantu rekomendasi pengelolaan tambang, Kementrian Perdagangan yang sudah membantu mengatur bea masuk dan bea keluarnya, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang membantu mencari para investor.“Tapi di lain sisi ada masalah kepentingan antara Kemenperin (Kementrian Perindustrian) dan Kementrian ESDM. Menurut versi Kementerian ESDM, hasil tambang mulai dari ekplorasi hingga proses merupakan wewenang pihaknya. Sedangkan Kemenperin berkilah, kalau sudah masuk proses itu menjadi wewenang industri. Masalah-masalah benturan kepentingan dari dua kementerian itu kan yang membuat semakin terhambat lagi,”ujarnya.

Saham Tambang Anjlok

Peliknya persoalan industri batubara, menjadi keyakinan bagi Direktur Indonesia Resource Studies Marwan Batubara bahwa industri batubara Indonesia akan berjalan stagnan, lantaran masih mengandalkan ekspor. Pasalnya dari seluruh produksi batubara nasional, hampir 60% diperuntukan ekspor. “Ketika permintaan menurun maka mau tidak mau membuat harga juga akan menurun. Apalagi ditambah dengan penyerapan di dalam negeri juga kecil maka akan semakin membuat produksi batubara juga akan menurun,” ungkap Marwan kepada Neraca, kemarin.

Meski harus dimanfaatkan untuk kebutuhan di dalam negeri, Marwan meminta agar para pengusaha tidak menjualnya terlalu mahal sehingga membuat pengusaha enggan memanfaatkannya. “Jangan seperti kasus gas. Di jual ke China dengan harga murah sementara dijual untuk dalam negeri dengan harga yang mahal. Seharusnya pemerintah bisa mengendalikannnya,” katanya.

Dia juga menegaskan batu bara kalori rendah yang berlimpah di Indonesia perlu penggunaan dalam bentuk lain, jika tidak akan sulit menjualnya. Selain CBM, geotermal, batu bara kalori rendah akan menjadi industri unggulan pengganti migas yang sudah menipis cadangannya.

Peluang besar menurunnya harga batubara, kata pengamat pasar modal dari Universal Broker Satrio Hutomo, menjadi sentimen negatif saham sektor pertambangan. Karena itu, dirinya menuturkan, tidak berharap banyak dari saham tambang. Hal ini juga dikarenakan serapan pasar internasional akan batu bara semakin melemah. China dan India adalah pasar utama untuk batu bara Indonesia. Keduanya mengalami perlambatan ekonomi, “Jangan berharap dari sektor tambang,”tegasnya.

Ironi batu bara saat ini, lanjut Satrio, adalah bahwa di satu sisi dunia internasional sedang mengurangi serapan batu bara. Namun di sisi yang lain produksi batu bara Indonesia sedang tinggi-tingginya.“Itu kesulitan buat perusahaan tambang di sini. Yang kita takutkan, pergerakan harga batu bara kita semakin jauh dari harga internasional, sementara supply terlalu besar,” ujarnya.

Dia mengatakan, sulit untuk bergantung pada pasar lokal. Konsumen batu bara Indonesia hanya PLN, itupun tidak besar. Sebagian besar batu bara masih diekspor. Dengan kondisi itu, lanjut Satrio, pilihan yang dihadapkan pada produsen batu bara adalah menurunkan kapasitasnya. Secara hukum ekonomi, di tengah penurunan daya serap batu bara, produksi yang berkurang diindikasikan akan membuat harga batu bara kembali stabil.

Satrio menambahkan, tahun depan adalah tahun pemilu. Biasanya, ketika pemilu, indeks naik. “Dengan pemilu itu, kalau saya disuruh beli, maka saya tidak terlalu berminat di batu bara. Ke depan yang berkembang adalah perbankan, otomotif, consumer goods, semen, konstruksi, dan properti,” ujarnya. lulus/iqbal/bari

Related posts