Waspadai Tapering Off

Rabu, 09/10/2013

Walau dampak penutupan kantor pemerintah Amerika Serikat (shutdown) sangat minim bagi Indonesia, negeri ini harus tetap mewaspadai dengan mempersiapkan diri menghadapi pengurangan stimulus moneter (tapering off) oleh bank sentral AS (The Fed), yang cepat atau lambat pasti akan dilaksanakan kebijakan tersebut.

Sejumlah pengamat ekonomi dan akademisi memang menilai dampak shutdown ke Indonesia tidaklah tidak terlalu besar. Beda dengan rencana The Fed untuk mengurangi stimulus moneter, dimana dampaknya pada likuiditas dolar, tidak hanya di AS tetapi juga di dunia langsung terasa guncang.

Bagaimanapun, penghentian sementara kegiatan sebagian pemerintahan AS niscaya berimbas terhadap percaturan ekonomi global, apakah imbas positif atau negatif, mengingat kekuatan ekonomi AS hingga kini masih memiliki pengaruh kuat terhadap lingkungan global.

Fenomena ini menggambarkan sinyal pelaku pasar uang mungkin panik menghadapi apa yang terjadi di AS, sehingga mereka mengalihkan sebagian portofolio dana mereka ke pasar modal di negara lain termasuk ke Indonesia. Karena itu, terlihat dampak kurs rupiah terhadap US$ maupun indeks harga saham di bursa lokal belakangan ini cenderung menguat.

Jika AS memberlakukan kebijakan tapering off, memang kondisi pasar pada awalnya kaget, tapi memang akhirnya semuanya sadar bahwa suatu saat akan dicabut juga. Jadi kalau memang sudah akan dicabut, lebih baik kita bersiap diri,

Meski peningkatan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat, Jepang dan Zona Eropa pada kuartal II-2013 menjadi keuntungan bagi negara-negara di kawasan Asia Timur, namun spekulasi tapering off menyebabkan pemicu penjualan pasar saham dan depresiasi mata uang sehingga merugikan negara-negara yang memiliki banyak partisipasi pihak asing dalam pasar finansial mereka.

Oleh karena itu, Bank Dunia meminta penundaan tapering AS harus dijadikan negara-negara berkembang baik di kawasan Asia Timur sebagai momen untuk mengambil langkah-langkah menurunkan risiko dari gejolak masa depan.

"Keputusan The Fed untuk menunda pengurangan stimulus untuk sekarang memberi kesempatan kedua bagi banyak negara mengambil langkah-langkah menurunkan risiko dari gejolak di masa depan," kata ekonom utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Bert Hofman dalam keterangan persnya, Senin (7/10).

Adalah perlunya mengambil sejumlah langkah konkret yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan mengurangi ketergantungan jangka pendek terhadap utang dalam mata uang valas, menerima nilai tukar uang yang lebih rendah ketika pertumbuhan di bawah potensi dan membangun kebijakan penyangga untuk menanggapi kondisi likuiditas global.

Dampak tapering terhadap arus masuk modal di kawasan juga terpengaruh Abenomics, yakni strategi baru Jepang menghidupkan kembali pertumbuhan yang dapat meningkatkan investasi di kawasan Asia Timur.

Indonesia sebaiknya sejak dini mengantisipasi kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif terhadap krisis ekonomi global, akan berisiko semakin rentan. Untuk itu, otoritas moneter diminta hati-hati melakukan kebijakan kenaikan suku bunga, dan sebaliknya perlu meningkatkan stabilitas keuangan di kawasan Asia Timur.

Bagaimanapun, untuk jangka panjang tingkat suku bunga global kemungkinan akan berdampak pada investasi, percepatan pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan akan sangat bergantung pada peningkatan reformasi struktural di masing-masing negara Asia Timur. Nah, Indonesia harus siap menghadapinya dengan jurus penangkal (exit strategy) yang ampuh. Semoga!