Kebijakan BI Rate Hanya Angin Segar Sesaat

Peluang Di Sektor Keuangan

Rabu, 09/10/2013

NERACA

Jakarta- Kebijakan Bank Indonesia untuk menahan BI rate di level 7,25% dinilai telah memberi sedikit angin segar bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk bergerak ke teritori positif. Tidak terkecuali bagi kinerja emiten. “Untuk sektor-sektor seperti pembiayaan, properti, dan otomotif, adanya kebijakan tersebut tentunya tidak terlalu memberatkan.” kata pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy di Jakarta, Selasa (8/10).

Meski demikian, kata dia, pelaku pasar harus tetap berhati-hati untuk melakukan investasi dengan pergerakan IHSG yang masih sangat fluktuatif. Terlebih, pelemahan nilai tukar mata uang rupiah masih berlanjut. Tercatat, pada perdagangan Selasa (8/10) IHSG hanya menguat 1,32% dengan berakhir di level 4374,96 dari sebelumnya yang sempat mencapai level 4357,46. “Sentimen BI Rate hanya jangka pendek saja, tidak bisa diharapkan.” ujarnya.

Menurut dia, masih ada beberapa sentimen negatif yang akan berpengaruh terhadap kondisi pasar saham meskipun rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) September menunjukkan deflasi dan surplusnya neraca perdagangan. “IHSG masih akan bergerak secara mendatar di kisaran 4.400-4.500.” jelasnya

Sementara itu, Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, adanya rilis keputusan BI yang mempertahankan level BI rate yang diiringi dengan meningkatnya cadangan devisa memang ikut memperbagus laju IHSG. Laju IHSG berbalik positif seiring menghijaunya laju bursa saham Asia.

Padahal , sebelumnya sikap skeptis dan khawatir akan pertumbuhan ekonomi AS pasca terjadinya shutdown hingga hari ke enam membuat laju bursa saham AS kembali mengalami pelemahan sehingga mempersuram laju bursa saham Asia, termasuk IHSG. Namun, meski terdapat sentimen positif dari pernyataan BI dan BPS tidak membuat rupiah membaik. “Rilis bertahannya BI rate di level 7,25% dianggap kurang memberikan amunisi bagi rupiah sehingga kembali bergerak melemah.” jelasnya.

Akan tetapi, sambung dia, adanya penilaian bahwa tekanan pada makroekonomi Indonesia perlahan berkurang mendorong rupiah hampir mendekati posisi resisten. “Rupiah sedikit berada di bawah resisten Rp11527 dengan kurs tengah BI Rp11556-11530.” imbuhnya.

Dia memproyeksikan, pada perdagangan Rabu (9/10) IHSG akan berada pada support 4348-4369 dan resistance 4442-4468. Berpola menyerupai bullish engulfing dekati middle bollinger bands (MBB). MACD cenderung mendatar dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba kembali upreversal. “Meski laju IHSG sempat berada di kisaran target support kami (4342-4368) namun sentimen positif bawa IHSG mampu melewati target resisten (4415-4426).” jelasnya.

Pola ini, menurut dia, akan bertahan apabila tidak dimanfaatkan profitisasi seiring masih variatifnya laju bursa saham global. Senada dengan Budi dan Reza, analis dari PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo mengatakan, masih banyaknya sentimen negatif, ditambah dengan minimnya signal positif dari saham-saham yang ada, sebaiknya membuat pemodal berhati-hati dalam positioning.

Posisi buy on weakness, kata dia, sebaiknya hanya dilakukan pada saham-saham yang memiliki peluang yang cukup bagus untuk mencetak kinerja keuangan kuartal III-2013 di atas ekspektasi pasar. “Buy on weakness saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Unilever Indonesia (UNVR), dan PT Wijaya Karya (WIKA).” tandasnya. (lia)