Timah Perdagangkan Produk Jelas Asalnya

Transaksi Melalui BKDI

Rabu, 09/10/2013

NERACA

Jakarta – PT Timah Tbk (TINS) diwajibkan melakukan perdagangan timah melalui Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (BKDI). Hal ini didukung sepenuhnya oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan, karena dinilai asal timah tersebut jelas.

Dia mendukung sepenuhnya regulasi Kemendag 32 Tahun 2013 yang mewajibkan transaksi timah batangan melalui BKDI. Selain itu, perseroan tidak akan melakukan pembelian timah batangan dari smelter, karena transaksi harus dilakukan di bursa.

Direktur Utama PT Timah Tbk Sukrisno menyatakan bahwa dengan adanya Permendag 32/ 2013 maka asal-usul timah yang diperdagangkan harus jelas. Namun, perseroan masih menunggu perlindungan hukum dari Gubernur Bangka Belitung terkait pola kemitraan dengan smelter kecil.“Konsep kerja sama dengan smelter kecil adalah business to business sehingga prinsipnya saling menguntungkan. Namun, sebelum kerja sama dilakukan, smelter tersebut harus bisa menunjukkan asal-usul dari bijih timah atau timah batangan tersebut. Sehingga harus ada sertifikat dari Surveyor Indonesia atau Sucovindo. Kalau tidak ada sertifikat tersebut, kami tidak bisa melakukan kerja sama,”ujarnya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (8/10).

Terkait dengan minimnya keanggotaan di BKDI, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) pada 18 September lalu mengirim surat kepada para eksportir terdaftar timah. Dengan tujuan mendorong peningkatan keanggotaan dengan memberikan sejumlah fasilitas, salah satunya adalah kerjasama yang ditawarkan perseroan.

Sementara itu, Dahlan Iskan menyatakan bahwa timah yang diperdagangkan harus diperiksa oleh surveyor sehingga jelas asal-usulnya. Sehingga, kemungkinan PT Timah dalam membeli biji timah atau timah batangan hasil jarahan sangat minim.

Sebelumnya, perseroan juga melakukan ekspor timah batangan melalui transaksi di Bursa Timah BKDI sebanyak 250 metrik ton dengan nilai US$5,52 juta. Perseroan juga menargetkan hingga akhir tahun harga timah dapat menembus US$25 ribu per metrik ton. Harga tersebut membuat perseroan tidak khwatir dengan penurunan volume penjulan.

Kecenderungan peningkatan ini terlihat dari harga timah perseroan yang melonjak dari US$19 ribu per metrik ton hingga saat ini mencapai US$22.600 per metrik ton. Dengan harga itu turunnya volume penjualan akan tertutupi. Diakui dia, pendapatan perseroan juga didorong oleh kenaikan harga timah. Sekitar 95% produksi timah perseroan diekspor ke luar, dengan adanya aturan baru yang menyatakan perdagangan timah hanya bisa melalui BKDI, perseroan memperkirakan ekspor akan menurun. Jika tidak ada alternatif ekspor lain, perseroan memperkirakan kemungkinan ekspor timah Indonesia hanya 2.000 ton per bulan. (nurul)