Konversi ke BBG Terkendala Ketersediaan Konverter Kit

NERACA

Jakarta – Program konversi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) masih menemui kendala, salah satunya adalah penyediaan konverter kit. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan penyediaan alat konversi tersebut terkendala masalah distributor yang tidak terfokus di satu lembaga. “Distribusinya ada yang bersama-sama Kementerian Energi dan Kementerian Perindustrian," katanya di Jakarta, Selasa (8/10).

Kendati demikian, saat ini Kementerian Energi tetap berfokus untuk pengadaan alat konversi untuk kendaraan bermotor. Pelaksanaan program konversi gas tersebut akan dilakukan bertahap dengan melibatkan swasta. Sebab, pasokan gas untuk konversi telah tersedia.

Sekadar diketahui, Kementerian Energi berencana membagikan 4.000 unit konverter untuk kendaraan umum, taksi, dan kendaraan dinas tahun ini. Alat tersebut didistribusikan di tiga wilayah yakni Jabodetabek sebanyak 2.000 unit, Palembang (1.000), dan Surabaya (1.000). Kementerian Perindustrian juga menargetkan membagi 3.000 unit konverter untuk kendaraan umum sebelum akhir tahun.

Tahun depan, Kementerian Energi mengalokasikan anggaran Rp 2,1 triliun untuk program konversi BBG. Anggaran tersebut akan digunakan untuk mendanai proyek BBG di sejumlah kota, di antaranya 8 SPBG di Jabodetabek dan jaringan pipa sepanjang 165 kilometer. Namun anggaran tersebut masih menunggu persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

Butuh Sosialisasi

Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Deendarlianto mengatakan upaya konversi bahan bakar minyak menuju bahan bakar gas di Indonesia masih membutuhkan sosialisasi yang komprehensif di berbagai lapisan masyarakat, kata. “Sesuai penelitian yang kami lakukan baru sekitar 20% masyarakat yang tahu dan siap dengan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG),” katanya.

Menurut dia, masyarakat harus mendapatkan pemahaman dan keyakinan terlebih dahulu terkait keamanan dan keuntungan penggunaan energi alternatif tersebut. "Masyarakat tetap harus mendapatkan pengarahan terkait bagaimana penggunaan bahan bakar gas atau "compressed natural gas(CNG)" yang aman. Masih banyak yang berpandangan bahwa penggunaan BBG berbahaya," katanya.

Padahal, menurut dia, justru dengan pemanfaatan BBG sebagai sumber energi transportasi memberikan berbagai keuntungan bagi masyarakat. Selain menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, peran media juga sangat menentukan dalam mensosialisasikan pentingnya konversi itu.

Menurut dia, upaya konversi tersebut tidak perlu tergesa-gesa sebab masih membutuhkan persiapan yang matang termasuk terkait pemenuhan infrastruktur pendukungnya. "Tidak perlu tergesa-gesa, masih memerlukan berbagai pematangan termasuk kesiapan infrastruktur dan industri pendukung lainnya," katanya.

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Saryono Hadiwidjoyo menyatakan bahwa upaya konversi dari penggunaan bahan bakar minyak ke bahan bakar gas lebih menguntungkan. Beberapa kelebihan penggunaan bahan bakar gas antara lain emisi yang dihasilkan lebih ramah lingkungan sehingga dapat mendukung pengurangan emisi rumah kaca.

Selain itu, menurut dia, harga bahan bakar tersebut jauh lebih murah yakni Rp3.100 per liter dari pada bahan bakar minyak yang saat ini telah naik menjadi Rp 6.500 untuk premium dan Rp5.500 untuk solar. “Harga BBG akan lebih meringankan pengguna moda transportasi karena harganya yang lebih murah sekitar 40-50% dari bahan bakar premium,” katanya.

Selain itu, Pemerintah juga diaggap tidak serius terkait rencana konversi BBM ke BBG. Terbukti dengan pembagian konverter kit yang sampai saat ini belum ada kejelasannya dari pemerintah. Direktur Citra Nusantara Energi, Marsaid mengatakan, sampai saat ini gagasan pemerintah soal program konversi BBM ke BBG terkesan jalan di tempat dan tidak pernah ada kejelasannya.

"Rencana adanya pembangunan infrastruktur gas, dan pembagian konverter kit sampai saat ini pun realisasinya tidak berjalan dengan baik. Sehingga banyak masyarakat yang awalnya berencana mau berpindah dari BBM ke gas jadi mengurungkan niatnya dan berpikir ulang," kata Marsaid.

BERITA TERKAIT

Kementerian PUPR Terus Tingkatkan Ketersediaan Hunian Layak MBR

Kementerian PUPR Terus Tingkatkan Ketersediaan Hunian Layak MBR   NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus meningkatkan…

Pemerintah Optimal Jaga Ketersediaan Pangan dan Kelancaran Mudik

  Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Masalah Sosial dan Ekonomi   Lebaran adalah momen dimana ketersediaan dan harga bahan pokok…

Menengok Kesiapan Transportasi dan Ketersediaan Pangan Jelang Lebaran

  Oleh : Ginanjar, Pemerhati Masalah Sosial Ekonomi   Lebaran tentu menjadi momen bagi siapapun untuk merayakannya tanpa terkecuali, pergerakan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ini Penjelasan Harga Cabai Merah Stabil Tinggi

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mencatat harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di sejumlah pasar tradisional menunjukkan peningkatan…

Perang Dagang Diharapkan Tidak Semakin Gerus Ekspor RI

NERACA Jakarta – PT. Bank Central Asia Tbk mengingatkan perlunya antisipasi dari pemerintah agar berlarutnya konflik perdagangan antara Amerika Serikat…

Reformasi WTO Untuk Mengembalikan Kredibilitas

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan reformasi terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dapat mengembalikan fungsi lembaga tersebut terhadap…