Lippo Karawaci Perluas Fasilitas Lindung Nilai

Antisipasi Tekanan Dolar

Rabu, 09/10/2013

NERACA

Jakarta- Tidak hanya memukul kinerja industri, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar menjadi ancaman tersendiri bagi perusahaan yang tercatat memiliki pinjaman dalam mata uang asing. Sebut saja, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). Untuk mengantisipasi pelemahan rupiah yang masih akan berlanjut, perseroan memperluas fasilitas lindung nilai (hedge) yang mencakup semua obligasi dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp11.500 menjadi Rp12.500.

“Mengingat adanya pelemahan nilai tukar rupiah yang lebih lama dari perkiraan semula, kami memutuskan untuk memperluas fasilitas lindung nilai kami sebagai upaya tindakan pencegahan dari Rp11.500 menjadi Rp12.500,” kata Presiden PT Lippo Karawaci, Ketut Budi Wijaya di Jakarta, Selasa (8/10).

Menurut dia, langkah ini sebagai bagian dari tata kelola keuangan yang cermat dan hati-hati. Perseroan telah melindungi seluruh nilai pokok sejak penerbitan obligasi sampai dengan masa jatuh tempo. Selain itu, perseroan juga ingin meyakinkan para pemegang obligasi dan investor agar terus memantau perkembangan. “Langkah ini diambil sebagai pencegahan pelemahan lanjutan dari nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” ujarnya.

LPKR adalah perusahaan properti dengan divisi usaha yang terdiri dari residensial atau township, mal ritel, rumah sakit, hotel dan manajemen aset. Per Juni 2013, utang obligasi perseroan tercatat sebesar Rp 6,26 triliun. Sementara sepanjang semester pertama tahun ini, perseroan mencatatkan total pendapatan semester pertama meningkat 27%, menjadi Rp3,067 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,406 triliun.

Kenaikan pendapatan tersebut mendorong laba bersih perseroan tumbuh 25% menjadi Rp546 miliar. “Secara keseluruhan, semua angka pertumbuhan meningkat dua digit, merefleksikan kinerja keuangan LPKR yang baik. Kami berharap untuk terus membangun bisnis dan mencapai tujuan kami di paruh kedua tahun ini.” jelasnya.

Menurut dia, pihaknya akan tetap fokus untuk melaksanakan berbagai proyek perseroan. Utamanya, pada rumah sakit, mal, dan apartemen. Selama semester pertama 2013, divisi usaha healthcare mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 48% (secara year on year) menjadi Rp1,201 triliun, Selain divisi tersebut, divisi usaha residensial & urban development juga mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar naik 17% menjadi Rp1,320 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,130 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan pendapatan dari Townships yang naik 27% secara year on year menjadi Rp857 miliar. Sementara dari divisi komersial yang terdiri dari mal ritel & hotel tumbuh 9% secara year on year menjadi Rp267 miliar. Adapun unit usaha manajemen aset mencatatkan pertumbuhan sebesar 27% secara year on year menjadi Rp279 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp220 miliar. (lia)