Ingin Likuid, Nipress Stock Split Saham 1:20

Rabu, 09/10/2013

NERACA

Jakarta - PT Nipress Tbk (NIPS) akan melakukan pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:20 menjadi Rp50 per saham Dengan pemecahan saham ini, perseroan mengharapkan perdagangan saham NIPS akan semakin likuid.

Sebelum dilakukan pemecahan, harga per lembar saham perseroan mencapai Rp1.000. Pada harga saham Rp1.000 tersebut, perseroan menilai perdagangan sahamnya tidak terlalu likuid. Menurut Direktur Utama PT Nipress Tbk Jackson Tandiono, perseroan akan menyelenggarakan RUPSLB pada tanggal 25 Oktober mendatang, untuk meminta persetujuan stock split pada pemegang saham.“Kami akan selenggarakan RUPSLB dengan para pemegang saham untuk meyetujui realisasi stock split saham perseroan. Dengan stock split tersebut, akan meningkatkan jumlah saham perseroan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI)”, kata dia di Jakarta, Selasa (8/10).

Sebelumnya, perseroan juga menerbitkan saham bonus senilai Rp16 miliar. Saham bonus yang akan dibagikan oleh perseroan berasal dari kapitalisasi agio saham per tahun buku 2012, dengan harga per sahamnya sebesar Rp1.000 dengan rasio sebesar sepuluh banding delapan (10:8).

Jumlah saham modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan tercatat sebanyak 20 juta lembar saham atau senilai Rp 20 miliar sebelum dilakukan penambahan saham bonus. Dengan demikian, pasca penerbitan saham bonus jumlah saham perseroan berubah menjadi 36 juta lembar saham atau senilai Rp36 miliar.“Dengan dua aksi korporasi ini baik penerbitan saham bonus dan Stock Split, kami berharap perdagangan saham NIPS di BEI akan menjadi lebih likuid”, ujar dia.

Hingga periode semester I tahun ini, perseroan membukukan kenaikan laba bersih sekitar 150% menjadi Rp25,1 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp9,8 miliar. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan penjualan bersih sebesar Rp461,8 miliar dari Rp300,5 miliar.

Sementara beban pokok penjualan mencapai Rp388,04 miliar, dengan demikian laba bruto naik menjadi Rp73,7 miliar dari periode sebelumnya Rp44,1 miliar. Dengan beban pokok penjualan sebesar Rp256,3 miliar. Kenaikan laba usaha menjadi Rp44,3 miliar dari Rp22,5 miliar. Untuk laba sebelum pajak mencapai Rp32,1 miliar dari sebelumnya Rp13,5 miliar.

Emiten bidang industri battery untuk penggunaan industri dan konsumsi ini, juga mengalami peningkatan aset menjadi Rp646,4 miliar dari Rp525,2 miliar per 31 Desember 2012. Kenaikan aset lancar sebesar Rp103,4 miliar mayoritas berasal dari kenaikan piutang usaha pihak ketiga sebesar Rp76,04 miliar per 30 Juni 2013.

Selain itu, perseroan juga mencatat jumlah liabilitas juga naik menjadi Rp419,6 miliar dari Rp323,6 miliar. Kenaikan Rp94,6 miliar tersebut sebagian berasal dari kenaikan utang bank sebesar Rp69,7 miliar. Pada tahun ini, perseroan juga akan fokus pada penjualan pasar domestik. Sebagian besar penjualan baterai Nipress, mencapai 65% ditujukan ke pasar ekspor dan sisanya 35% di pasar domestik. Hal ini disebabkan produk perseroan dijual dengan dolar AS. (nurul)