Ingin Likuid, Nipress Stock Split Saham 1:20

NERACA

Jakarta - PT Nipress Tbk (NIPS) akan melakukan pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:20 menjadi Rp50 per saham Dengan pemecahan saham ini, perseroan mengharapkan perdagangan saham NIPS akan semakin likuid.

Sebelum dilakukan pemecahan, harga per lembar saham perseroan mencapai Rp1.000. Pada harga saham Rp1.000 tersebut, perseroan menilai perdagangan sahamnya tidak terlalu likuid. Menurut Direktur Utama PT Nipress Tbk Jackson Tandiono, perseroan akan menyelenggarakan RUPSLB pada tanggal 25 Oktober mendatang, untuk meminta persetujuan stock split pada pemegang saham.“Kami akan selenggarakan RUPSLB dengan para pemegang saham untuk meyetujui realisasi stock split saham perseroan. Dengan stock split tersebut, akan meningkatkan jumlah saham perseroan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI)”, kata dia di Jakarta, Selasa (8/10).

Sebelumnya, perseroan juga menerbitkan saham bonus senilai Rp16 miliar. Saham bonus yang akan dibagikan oleh perseroan berasal dari kapitalisasi agio saham per tahun buku 2012, dengan harga per sahamnya sebesar Rp1.000 dengan rasio sebesar sepuluh banding delapan (10:8).

Jumlah saham modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan tercatat sebanyak 20 juta lembar saham atau senilai Rp 20 miliar sebelum dilakukan penambahan saham bonus. Dengan demikian, pasca penerbitan saham bonus jumlah saham perseroan berubah menjadi 36 juta lembar saham atau senilai Rp36 miliar.“Dengan dua aksi korporasi ini baik penerbitan saham bonus dan Stock Split, kami berharap perdagangan saham NIPS di BEI akan menjadi lebih likuid”, ujar dia.

Hingga periode semester I tahun ini, perseroan membukukan kenaikan laba bersih sekitar 150% menjadi Rp25,1 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp9,8 miliar. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan penjualan bersih sebesar Rp461,8 miliar dari Rp300,5 miliar.

Sementara beban pokok penjualan mencapai Rp388,04 miliar, dengan demikian laba bruto naik menjadi Rp73,7 miliar dari periode sebelumnya Rp44,1 miliar. Dengan beban pokok penjualan sebesar Rp256,3 miliar. Kenaikan laba usaha menjadi Rp44,3 miliar dari Rp22,5 miliar. Untuk laba sebelum pajak mencapai Rp32,1 miliar dari sebelumnya Rp13,5 miliar.

Emiten bidang industri battery untuk penggunaan industri dan konsumsi ini, juga mengalami peningkatan aset menjadi Rp646,4 miliar dari Rp525,2 miliar per 31 Desember 2012. Kenaikan aset lancar sebesar Rp103,4 miliar mayoritas berasal dari kenaikan piutang usaha pihak ketiga sebesar Rp76,04 miliar per 30 Juni 2013.

Selain itu, perseroan juga mencatat jumlah liabilitas juga naik menjadi Rp419,6 miliar dari Rp323,6 miliar. Kenaikan Rp94,6 miliar tersebut sebagian berasal dari kenaikan utang bank sebesar Rp69,7 miliar. Pada tahun ini, perseroan juga akan fokus pada penjualan pasar domestik. Sebagian besar penjualan baterai Nipress, mencapai 65% ditujukan ke pasar ekspor dan sisanya 35% di pasar domestik. Hal ini disebabkan produk perseroan dijual dengan dolar AS. (nurul)

BERITA TERKAIT

Patok Harga Rp 221 Saham - GOLD Raup Rights Issue Rp 212,715 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi, PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD) menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan…

Lepas Bisnis Pembayaran - Telkom Masih Miliki 33% Porsi Saham Jalin

NERACA Jakarta –Dukung pemerintah dalam pembentukan holding BUMN sektor finansial, dimana Danareksa bakal ditunjuk sebagai holdingnya, menjadi alasan  PT Telekomunikasi…

Pemerintah Ingin Selaraskan Program Sejuta Rumah Dengan Milenial

Pemerintah Ingin Selaraskan Program Sejuta Rumah Dengan Milenial NERACA Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Indonesian Tobacco Patok IPO Rp219 Persaham

NERACA Jakarta - Perusahaan pengolahan tembakau, PT Indonesian Tobacco Tbk menawarkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp219 per…

Tridomain Tawarkan Bunga Obligasi 10,75%

PT Tridomain Performance Materials Tbk. (TDPM) menawarkan obligasi II tahun 2019 senilai Rp400 miliar. Berdasarkan prospektus ringkas yang dirilis perseroan di…

Saham LUCK Masuk Dalam Pengawasan BEI

Lantaran telah terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran atau unusual market activity (UMA), kini perdagangan saham PT Sentra Mitra…