Masyarakat Kelas Menengah Tumbuh 7 Juta Setahun - Pertumbuhan Ekonomi Bisa Capai 6,8%

NERACA

Jakarta----Pemerintah memperkirakan terjadi pertumbuhan masyarakat kelas menengah yang mencapai sekitar 6-7 juta jiwa dalam satu tahun. Bahkan kelas menengah ini diharapkan bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi. “Kelas menengah sudah bertambah yah, 6 sampai 7 juta kelas menengah baru per tahun. Kita ingin kelas mengenah menjadi motor pertumbuhan ekonomi," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana kepada wartawan di Jakarta,12/7.

Namun demikian, kata Armida lagi, Indonesia semestinya harus mewaspadai pertumbuhan masyarakat kelas menengah ini. Karena klasifikasi kelas menengah itu adalah kelompok yang dinamis. “Artinya. masyarakat yang akan mengangkat pertumbuhan ekonomi suatu negara,” tambahnya.

Menurut Guru Besar Unpad ini, suatu negara yang masyarakat kelas menengahnya bergerak stagnan, maka pertumbuhan ekonominya tidak naik secara cepat dan hal ini dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. "Indonesia tidak mau terjebak di middle income trap ini,” paparnya.

Yang jelas, lanjut Armida lagi, berdasarkan laporan Asia Development Bank (ADB), Indonesia masuk 7 negara dinamis yang terus berpotensi. “Kalau di laporan Asia Development Bank (ADB) Indonesia sudah masuk dalam tujuh negara yang dinamis berpotensi terus. Kalau kita konsisten saja di policy, kita manfaatkan peluang dengan integrasi regional maupun global," terangnya.

Tidak cukup itu saja, Armida mengatakan peran masyarakat dan pemerintah daerah juga diperlukan karena sebuah negara bukan hanya penduduk Ibu kota, namun daerah juga termasuk dalam negara itu. "Maka tidak cukup pemerintah pusat saja, yang perlu kita terus menerus dorong ada pemerintah daerah, ada yang level akar rumput yaitu masyarakat," pungkasnya.

Bahkan dalam kajian ADB tersebut, kata Armida lagi, Indonesia pada 2025 akan menjadi salah satu anggota Asia yang akan menjadi pusat pertumbuhan dunia. Di mana ini sejalan dengan studi Asia Development Bank (ADB) yang mengatakan perekonomian dunia akan dikuasai negara asia sekitar 50% pada 2025. "Bukan hanya size, tapi juga dari sisi dinamikanya. Bahkan, bisa jadi kita tidak kenal lagi kemiskinan di Asia," jelasnya.

Namun demikian, Armida mengakui banyak tantangan untuk mencapai ini, di antaranya Indonesia harus selalu konsisten dan in line dalam perekonomian walaupun sekarang sudah di jalur yang benar untuk mencapainya. "Tantangan kita diimplementasi secara konsisten, ada strategic line, ada rencana itu murni pemerintah, APBN, ada master plan mendorong swasta.

Sebenarnya, kata Armida, rencana pembangunan sudah berjalan dengan baik. Yang penting adalah masalah implementasi di lapangan. Karena konsitensi itu sangat penting dan bisa mendorong hasil significant. “Rencana sudah tertata baik, yang penting implementasi. Master plan sudah ada semua, kita selalu implementasi, konsisten aja, Insya Allah nanti hasilnya kelihatan," imbuhnya.

Ditempat terpisah, Deputi Gubernur BI Budi Mulya memperkirakan Penanaman Modal Asing (PMA) yang akan masuk ke Indonesia selama 2011 akan mencapai USD16,7 miliar. Jumlah PMA ini jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya USD13 miliar.

Naiknya investasi ini, menurut Budi, membuat pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi dari proyeksi Bank Sentral, di mana Dewan Gubernur memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai kisaran 6,3%-6,8% di 2011 dan 6,4%-6,9% pada 2012. "Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh sumber pertumbuhan yang semakin berimbang seiring dengan kinerja investasi yang terus meningkat dan kinerja ekspor yang masih tetap solid," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pemerintah Diminta Waspadai Ketidakpastian 2018 - MESKI PERTUMBUHAN EKONOMI 3 TAHUN TERAKHIR POSITIF

Jakarta-Meski pertumbuhan ekonomi dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren cukup positif, pemerintahan Jokowi-JK tetap harus fokus terus membenahi masalah ketimpangan…

70% Masyarakat Cari Informasi Keuangan Lewat Internet

  NERACA   Jakarta - Google merilis hasil riset terbaru tentang industri keuangan Indonesia dan cara nasabah mencari dan memilih…

KSPPS/USPPS Bisa Kelola Dana Zakat dan Wakaf

KSPPS/USPPS Bisa Kelola Dana Zakat dan Wakaf NERACA Bogor - Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) dan Unit Simpan Pinjam…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Cukai Rokok Naik 10% di 2018

      NERACA   Jakarta - Pemerintah secara resmi akan menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 10,04 persen mulai…

Menyampaikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Lewat Kesenian

    NERACA   Jakarta – Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief menyampaikan bahwa pendiri bangsa…

Grand Eschol Residences & Aston Karawaci Hotel Kembali Dibangun - Sempat Tertunda

    NERACA   Jakarta - PT Mahakarya Agung Putera, pengembang Grand Eschol Residence & Aston Karawaci City Hotel, menegaskan…