PGN Batal Bagun Infrastruktur Gas di Semarang

Dinilai Membatasi Investasi

Rabu, 09/10/2013

NERACA

Jakarta – Rencana PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) membangun infrastruktur gas bumi di Semarang dengan menggunakan konsep unbundling batal dilakukan. Pasalnya, pembangunan infrastruktur gas bumi akan sulit dilakukan dengan skema unbundling.

Head Of Corporate Communication PGAS, Ridha Ababil mengatakan, penerapan unbundling akan membatasi kemampuan perusahaan untuk melakukan investasi baru. Dirinya mengambil contoh pada 2002 PGN diwajibkan untuk melakukan unbundling pada pipa Transmisi Sumatera Tengah jalur Grissik-Duri dan Grissik-Singapura serta melahirkan PT Transportasi Gas Indonesia (TGI), “Akibat unbundling itu, hingga kini TGI sulit membangun infrastruktur baru, karena struktur toll fee yang ditetapkan terus menurun,” kata Ridha di Jakarta, Selasa (8/10).

Dia menuturkan, pada awal tahun 2002, Invesment Return Rate (IRR) ditetapkan sekitar 12%, lalu menurun menjadi 9% dan kini hanya sekitar 6%. Konsep unbundling yang diterapkan pada berbagai proyek pipa seperti Kalimantan-Jawa, Cirebon-Semarang juga membuat proyek ini tak kunjung dibangun, meski sudah ditetapkan pemenang tendernya sejak 2006.“Untuk menjamin investasi yang penuh risiko seperti pembangunan infrastruktur pipa ini PGN melakukan subsidi silang dengan kegiatan niaga, jika skema bundling diubah menjadi unbundling maka pembangunan infrastruktur akan terhenti,” tambahnya.

Kendati demikian, sambung Ridha, dengan diubahnya skema bundling menjadi unbundling membuat perusahaan transportasi seperti TGI tidak mampu membagung infrastruktur.“Tanpa dukungan kegiatan niaga, tidak ada perusahaan transportasi yang mampu membangun infrastruktur, PGN di sini menempatkan posisi strateginya sebagai aggregator infrastruktur cost,” pungkasnya.

Sebagai informasi, PT Perusahaan Gas Negara Tbk membukukan laba bersih pada semester pertama 2013 sebesar US$ 457,5 juta, atau meningkat 12% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 409,8 juta.

Peningkatan laba bersih tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 26% dari US$ 1.183,0 juta pada semester I – 2012, menjadi US$ 1.491,7 juta pada paruh pertama tahun ini. Sementara EBITDA margin PGN pada semester I-2013 mencapai US$ 573,6 juta dengan total aset perusahaan sebesar US$ 3.674,6 juta.

Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso mengatakan, meningkatnya kinerja perusahaan di semester I-2013 berasal dari bisnis distribusi dan transmisi serta kontribusi dari anak perusahaan. Sampai Juni 2013, volume distribusi gas PGN mencapai 827 MMSCFD, meningkat daripada periode sama tahun 2012 sebesar 800 MMSCFD. Sedangkan volume gas dari usaha transmisi PGN dan anak Perusahaan sebesar 876 MMSCFD.

Peningkatan volume distribusi gas PGN sejalan dengan meningkatnya volume pasokan yang diperoleh dari pemasok. Namun, khusus usaha distribusi PGN di SBU 3 Medan, jumlah pasokan gas berkurang akibat terjadinya penurunan alamiah di sumur gas milik pemasok. (bani)