APEC : Berdagang (RI) Tanpa Berhitung

Rabu, 09/10/2013

Oleh: Muhammad Habibilah

Peneliti INDEF

Pertemuan para petinggi negara dan petinggi dunia usaha di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Pacific Economic Cooperations (APEC) merupakan saat yang tepat untuk saling unjuk gigi guna menarik para investor asing. Berbagai optimisme dari kepala pemerintah tentang cerahnya ekonomi masing-masing negara disampaikan baik melalui forum formal maupun informal. Singapura, melalui perdana menterinya menyampaikan tentang prioritas negerinya dalam menjaga daya saing dengan prioritas pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Chile juga mengemukakan tentang langkah negaranya dalam mempercepat investasi di bidang pendidikan dan entrepreneurship. China, sebagai salah satu negara penggerak ekonomi dunia dengan kontribusinya mencapai 9% terus berupaya untuk mendorong reformasi di semua aspek ekonomi untuk menjaga kemampuan ekspor dan teknologi

Tidak ketinggalan dengan tuan rumah APEC, Indonesia. Meski kontribusinya terhadap PDB global masih sangat kecil, kepala negara tetap menjajakan Indonesia ke dunia internasional dengan memaparkan sejumlah keberhasilan di bidang ekonomi serta optimisme ekonomi Indonesia di masa depan. Sejalan dengan kepala negara, Menkeu Chatib Basri juga mengemukakan bahwa investasi di Indonesia sangat menjanjikan. Dia memaparkan tentang imbal hasil (yield) investasi di dalam negeri lebih tinggi dibanding negara lain. Selain itu, Indonesia juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil dan selalu di atas 5% per tahun.

Tidak ada yang salah ketika masing-masing kepala negara mengungkapkan keberhasilan yang telah dicapai dan prospek ekonominya ke depan demi untuk menambah cadangan devisa, termasuk juga Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa saat ini kondisi domestik Indonesia masih belum sepenuhnya siap dengan investor asing. Secara sekilas, di mata dunia internasional Indonesia memang terlihat menarik, pesona Indonesia masih terpancar dari pertumbuhan ekonomi yang masih tumbuh di atas 5% serta masih tingginya middle class.

Tetapi bila ditelusuri lebih dalam akan ditemukan banyak masalah yang tak kunjung usai. Memburuknya kinerja perdagangan, masih defisitnya neraca perdagangan, lemahnya industri manufaktur, ketidakstabian nilai tukar serta belum tercapainya ketahanan pangan. Memang secara teori, ketika berjualan suatu produk sebagian besar penjual akan menonjolkan sisi baiknya saja dengan menutupi kekurangan. Namun, hal ini bukanlah cara yang tepat karena dapat membuat pembeli kecewa di kemudian hari.

Presiden memaparkan capaian dan hasil-hasil pembangunan Indonesia hingga saat ini serta berjanji akan menciptakan bisnis yang lebih ramah terhadap investor, dengan cara mempersingkat dan mempermudah izin usaha termasuk reformasi besar di lembaga pemerintahan, sungguh suatu hal yang normatif.

Seharusnya, pemerintah tidak perlu muluk-muluk menunjukkan up date ekonomi Indonesia, karena dikhawatirkan dapat mengecewakan investor yang berkomitment menanamkan modalnya. Apalagi tahun depan merupakan saat pergantian pemimpin dimana tradisi yang tercipta yaitu berganti pemimpin berganti pula kebijakan yang dijalankan. Lebih baik disampaikan fokus pemerintah pada peningkatan ketahanan ekonomi domestik untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas serta menciptakan produk yang lebih berdaya saing.