Film The Mortal Instruments: City of Bones

Prajurit Muda Setengah-Malaikat Lindungi Dunia dari Iblis

Sabtu, 12/10/2013

Film The Mortal Instruments: City of Bones menceritakan tentang seorang remaja yang tampaknya biasa, Clary Fray, tinggal di New York City bersama ibunya. Gadis yang kemudian menjadi saksi pembunuhan di klub Pandemonium dan setelah itu, ibunya diculik dari rumah mereka.

Clary mendapati dirinya berasal dari keturunan Shadowhunters, sekelompok prajurit muda setengah-malaikat yang berjuang melindungi dunia dari Iblis. Dia bergabung dengan grup yang memperkenalkan sisi lain New York yang disebut Downworld dimana dipenuhi dengan makhluk mematikan

Sebelum tayang di bioskop Amerika Serikat, film terbaru arahan sutradara Harald Zwart berjudul The Mortal Instruments: City of Bones telah sukses mencuri perhatian publik Toronto, Kanada lewat pagelaran gala premiernya. Acara yang digelar pada hari Jumat (16/8) tersebut berlangsung meriah dan dihadiri oleh seluruh pemainnya seperti Lily Collins, Jamie Campbell Bower dan Jemima West.

Seperti diketahui, The Mortal Instruments: City of Bones menjadi salah satu film yang paling dinanti saat ini. Walau belum mulai tayang, tapi pihak Constantin Film Production sudah berencana untuk membuat sekuelnya yang berjudul The Mortal Instruments: City of Ashes. Sekuel The Mortal Instruments: City of Bones akan memulai produksinya pada bulan September dan tetap mempercayakan Harald Zwart sebagai sutradara.

Secara garis besar The Mortal Instruments: City of Bones mengisahkan tentang seorang remaja putri yang bergabung dengan pasukan penjaga bumi dari serangan iblis, pasca ibunya wafat. Dia pun akhirnya mendapat tugas yang sangat berbahaya di wilayah yang disebut Downworld.

Film yang diadaptasi dari novel laris karya Cassandra Clare ini diyakini oleh sutradara Harald Zwart bisa menjadi idola positif bagi para penonton, khususnya remaja. Keunikan adalah salah satu faktor yang membuat saya bersedia menggarap film ini. "Saya punya seorang putri dan sangat penting baginya punya idola yang sehat. Kita butuh kekuatan wanita untuk menginspirasi para remaja, sama halnya seperti film Karate Kid. Kisah seperti itulah yang saya inginkan dan pada akhirnya saya menemukan novel Casandra," ujar Harald saat gala premier.

"Di film ini saya sangat puas dengan kualitas para pemain. Darisini saya tahu sampai batas mana mereka bisa memacu kualitasnya," tambahnya.