Mandiri Layani Perdagangan Renminbi

Antisipasi Gejolak Ekonomi Global

Senin, 07/10/2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk membuka fasilitas perdagangan melalui mata uang China, Renminbi. Dengan begitu para pengusaha ekpor/impor dalam negeri yang melakukan transaksi perdangan dengan China tidak perlu lagi menggunakan dolar AS. Juga sekaligus mempertegas bahwa perekonomian China sedang menuju negara adidaya.

“Jadi nanti pengusaha-pengusaha di Indonesia bisa dapat penawaran payment yang menarik. Atau minimal hubungan perdagangan tidak lagi diperantarai dengan dolar AS. Tapi langsung dari Rupiah ke Renminbi atau sebaliknya,” kata Direktur Bank Mandiri, Sunarso, pada jumpa pers di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (4/10) pekan lalu.

Langkah ini dianggap penting oleh Sunarso untuk memperluas fasilitas Bank Mandiri agar menunjang para nasabah dalam negeri khususnya pengusaha yang memiliki hubungan dagang dengan China. Sekaligus juga menambah kekuatan permodalan di negeri tirai bambu itu. Lagipula China sendiri secara ekonomi memang sedang tumbuh pesat. Bahkan pada tahun 2010 kemarin sudah dinobatkan sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.

“Jadi China memang sedang gencar-gencarnya mengekspansi pasar untuk menjadikan Renminbi sebagai likuiditas yang layak dipakai oleh dunia. Tapi memang mata dunia sekarang sudah mulai melirik Renminbi untuk mengantikan dolar AS. Sehingga bagi China sendiri kerjsa sama ini dapat mengurangi biaya hedging dan lebih efisien,” tambahnya.

Bahkan Sunarso menilai kerjasama ini juga merupakan sikap Bank Mandiri untuk mengantipasi gerakan internasionaliasi Renminbi. Pasalnya hingga sekarang, penggunakan Renminbi sudah mencapai angak 4% di dunia. Sedangkan Euro stagnan di level 7%. “Memang dolar AS masih paling dominan, yaitu mencapai 84%,” papar dia.

Meski begitu Sunarso mengaku Bank Mandiri sedikit terlambat untuk mengambil langkah tersebut. Pasalnya di China sendiri sudah ada bank-bank yang lebih dulu membuka cabang. Sehingga bank-bank terseut sudah lebih dulu kokoh karena sudah lebih dikenal oleh para pengusaha di China itu sendiri.

“Tahun 2012 kemarin kita resmi membuka cabang di China. Secara internal kita memang sudah pasang aset di sana. Tapi juga perlu diakui memang sedikit terlambat,” ungkap Sunarso.

Tapi bagi Sunarso keterlambatan itu karena China sendiri memang memiliki aturan yang ketat bagi bank asing untuk membuka cabang dan likuidasi di negara. Padahal Bank Mandiri sendiri sebelumnya telah memiliki kerja sama dengan 12 bank dalam negeri di China. Sedangkan persiapan untuk itu telah dilakukan berbagai macam usaha sejak delapan tahun terakhir.

“Perlu juga diketahui sebetulnya kita baru bisa betul-betul transaksi dengan Renminbi nantu dua tahun kemudian. Karena peraturan di China cabang kita harus berjalan dulu minimal dua tahun dan harus menunjukan adanya profit. Baru mereka percaya kasih izin perdangan langsung melalui Renminbi,” terang Sunarso.

Untuk itu Sunarso mengungkapkan pihaknya memang akan bersaing ketat dengan bank-bank asing yang sudah eksisting terlebih dahulu di China. Sejauh ini ia melihat bank-bank tersebut memang lebih unggul karena sudah mendapat kepercayaan dari pemerintah China sehingga memiliki akses yang lebih leluasa. “Kalau di dalam negeri tentu kompetitor kita nantinya bank-bank dari China seperti Bank of China,\" ungkap dia.

Sementara ini Bank Mandiri telah menanam likuiditas di China senilai US$1,2 miliar. Dari jumlah itu seperempat atau senilai US$300 juta yang akan diperuntukan transaksi menggunakan Renminbi. Untuk target tahunan, dalam prognosa Bank Mandiri, transaksi melalui Renminbi dapat berlangsung sebanyak US$72 juta per tahun. “Kita baru mulai. Jadi prognosanya belum mau tinggi. Yang penting bisa jalan dulu,” ujar Sunarso.

Meski begitu Sunarso mengaku potensi penggunaan Renminbi sebagai transaksi dagang antara Indonesia dengan China memang terbuka lebar. Sebab hingga saat ini dari seluruh komoditas ekspor dalam negeri 13,4%-nya merupakan tujuan China. Sedangkan impor dalam negeri yang berasal dari China jumlahnya mencapai 19,19%.

“Kita kan banyak ekspor CPO, batu bara, karet dan yang lainnya. Sedangkan kita juga sering mengimpor besi, baja, atau mesin-mesin dari Cina. Itu sangat menarik. Kita melihat higga Agustus 2013 ini saja transaksi kita dengan China bisa mencapai US$800 juta,” jelas Sunarso. [lulus]