Indonesia di Tengah APEC

Senin, 07/10/2013

Melihat kondisi saat ini, sebagai emerging country yang pertumbuhan ekonominya selalu positif di tengah krisis global, Indonesia menjadi barometer bagi ekonomi global, karena dunia melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki daya tahan (resilient) terhadap krisis dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Saat krisis hebat melanda Eropa, perekonomian Indonesia mampu tumbuh di atas 6,5%. Bahkan, hingga akhir 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan 6,5%. Kondisi ini bertolak belakang dengan sebagian besar negara-negara lain yang pertumbuhan ekonominya cenderung negatif.

Dari hasil evaluasi berbagai lembaga survei 2012, Indonesia masih sebagai salah satu negara sentral dalam menjaga pertumbuhan kawasan. Dengan produk domestik bruto (PDB) berdasarkanpurchasing power parity(PPP) lebih dari US$1 triliun, dan meningkatnya kelas menengah, Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi di Asia Pasifik. Besaran ekonomi nasional dimaksud, menjadikan posisi strategis Indonesia sebagai pasar bagi produk impor bagi negara-negara yang tergabung dalam APEC, namun di sisi lain juga, menjadi peluang bagi ekspor produk nasional dengan semakin terbukanya pasar kawasan Asia Pasific.

Sejak ikut serta dalam APEC, Indonesia mencatat perkembangan yang pesat dalam perekonomian dengan sesama anggota di Asia-Pasifik. Total perdagangan Indonesia di tahun 1989 ke seluruh ekonomi anggota APEC adalah US$29,9 miliar, sekitar 78% dari total perdagangan Indonesia ke seluruh dunia.

Di tahun 2011 ekspor Indonesia ke seluruh ekonomi anggota APEC mencapai US$289,3 miliar, atau 75% dari total perdagangan Indonesia ke seluruh dunia, terjadi peningkatan hampir 10 kali lipat, dari tahun 1989 ke tahun 2011, atau 22 tahun terakhir.

Investasi dari ekonomi APEC ke Indonesia pada 2010 tercatat US$9,26 miliar, dan meningkat pada 2011 menjadi US$10,7 miliar. Selain itu, pada 2011, sepuluh dari 20 anggota ekonomi APEC termasuk dalam 20 investor terbesar Indonesia.

Ketika Indonesia memimpin APEC 2013, berarti negeri ini menjadi daya tarik perekonomian dunia, mengingat APEC menguasai 56% PDB dunia, 39,8% penduduk dunia, dan total PDB 2011 berkisar US$38,9 triliun.

Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada KTT APEC di Vladivostok, Rusia (2012), telah menyampaikan tema yang akan diusung oleh Indonesia pada Keketuaan tahun 2013, yaitu “Resilient Asia Pacific; Engine of Global Growth”.

Presiden menegaskan, dunia tengah mengalami resesi. Krisis di sana sini masih terjadi. APEC harus bisa berbuat yang nyata untuk memastikan bahwa ekonomi jajaran APEC disamping memiliki ketahanan yang lebih tinggi (resilience) juga menjadiengine(mesin pertumbuhan) bukan hanya di kawasan tetapi juga di dunia.

Mendasar pada tema besar yang telah ditetapkan dalam APEC 2013, Indonesia ingin mewujudkan suatu kawasan Asia Pasifik yang terus bertumbuh kuat, berketahanan, gigih, dan cepat pulih dalam menghadapi dampak krisis ekonomi global. Dengan mewujudkan visi ini, diharapkan Asia Pasifik dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia.

Karena itu, semua kegiatan pertemuan APEC di Bali saat ini harus dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan peran aktif Indonesia di dalam memajukan arsitektur ekonomi regional, memanfaatkan integrasi ekonomi kawasan bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan investasi, dan ekspor Indonesia, mempromosikan potensi perdagangan, investasi, pariwisata, agar dapat memberikan manfaat dan diarahkan pada upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.